Satu hari, Tribud cerita tentang tamasya dan pikiran-pikirannya kepada Situtena.
Cerita Tribud berikut ini.
Sabtu lalu bersama istri bersepeda menyusuri pinggiran sungai Oya, mulai dari sekitaran Desa Banyusumurup, lewat Sriharjo, sampai ujung Selopamioro. Jalur sepanjang sungai kurang lebih 9 km, atau 18 km pergi pulang dari sisi kanan sungai saat pergi dan menyebrang sisi kiri sungai saat pulang, sungguh pemandangan yang sangat mempesona. Jalur relatif datar, dengan jalan cor beton mulus dan selang-seling jalan tanah rata. Lokasi tersebut cukup viral di berbagai media sosial baik foto-foto maupun berbagai cerita menarik, beberapa minggu terakhir ini.
Sepanjang perjalanan tersebut dijumpai puluhan lokasi tempat warga berkumpul bercengkerama bersama keluarga, sahabat, dan teman-teman sebaya, menikmati akhir pekan. Karena tempatnya cukup luas, maka protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19 masih tetap bisa dijalankan. Tentu fenomena ini tak disia-siakan warga setempat sekitar lokasi untuk menangguk rezeki. Ada yang menyediakan makanan dan minuman, ada yang membuat wahana untuk berswafoto, dan ada yang mengatur sepeda/ kendaraan agar rapi di tempat parkir. Wisatawan bahagia, rupiah berputar, warga lokal juga bahagia.
Pesona alam desa sangat banyak ragamnya, tersebar di seluruh tanah air dengan keunikan dan keunggulan masing-masing. Bukan hanya alam yang indah memukau melainkan juga ragam budaya lokal yang elegan, dalam keseharian warga yang menarik minat orang-orang kota dan wisatawan asing. Semua itu merupakan modal dasar yang sudah tersedia dari Sang Pencipta, terhampar disanding setiap saat oleh warga desa. Bagai permata yang belum digosok, tinggal memoles secara tepat untuk dijadikan kemajuan desa sekaligus kesejahteraan warganya.
Pencanangan desa wisata lengkap dengan kelompok sadar wisata (pok darwis) di berbagai wilayah sudah ada sejak akhir tahun 90-an, beberapa diantaranya bahkan lebih awal. Ada yang berhasil dan ada yang tidak berhasil, Mengapa kenyataan tersebut ada? Tribud berpikir, tentang cara agar pesona desa ini bisa menjadi sarana untuk kesejahteraan warganya dan dia telah mencoba menemukan jawaban.
Pada dasarnya suatu destinasi wisata akan berkembang jika ada faktor yang biasa disebut 3A, yaitu Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitas yang memadai. Faktor pertama, yaitu atraksi adalah sesuatu yang ingin dilihat, dirasakan, dinikmati yang khas terkait dengan destinasi tersebut. Atraksi ini bisa berupa keindahan alam, peristiwa budaya, adat istiadat, suasana khas, dan kondisi unik lainnya, atau bahkan kegiatan keseharian masyarakat yang nampak biasa-biasa saja bagi warga setempat bisa menjadi atraksi yang menarik bagi wisatawan.
Bisa jadi membajak sawah, menanam padi, panen sayur dan buah-buahan, juga proses membuat kerajinan tangan seperti membuat gerabah, mengukir wayang atau proses membatik adalah hal yang biasa bagi warga lokal, namun bisa jadi kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa menarik bagi warga kota atau orang asing. Nah tinggal bagaimana ?pokdarwis? atau para pemimpin desa (formal ataupun nonformal), tokoh masyarakat menemu-kenali, mengidentifikasi potensi tersebut.
Produk utama desa wisata adalah pengalaman total pengunjung selama beraktivitas di lokasi tersebut. Bisa jadi pengalaman unik tentang apa yang dilihat, apa yang dirasakan, apa yang dilakukan, atau apa yang dibeli di desa wisata. Oleh karena itu, menemukan hal-hal tersebut merupakan langkah pertama dalam memasarkan desa wisata.
Sesuatu yang sudah ada atau potensi yang sudah given bisa dimaksimalkan dengan tambahan inovasi baru. Misal membangun gardu pandang, bisa juga membuat wahana unik yang memantik imajinasi untuk berswafoto. Yang terakhir ini sangat efektif untuk ?menjual? destinasi mengingat tren segala lapisan masyarakat untuk bersosial media yang sangat masif saat ini. Update status dengan mengunggah (upload) foto-foto unik menjadi pilihan banyak kalangan dan seringkali menjadi viral. Dengan demikian menjadi promosi gratis dan pengunjung pun akan berdatangan.
Kunci sukses untuk menjadi viral adalah keunikan lokasi terkait pengalaman total tadi. Unik yang tidak sama dengan desa atau lokasi lain, sehingga wisatawan tertarik datang ke suatu desa karena keunikan tersebut. Sebagai contoh wisata lavatour di lereng Merapi, desa Sade desa adat di Lombok, embung di puncak gunung api purba di Nglanggeran, pengalaman memetik stroberi di Tawangmangu, pengalaman seolah melayang di gardu pandang Kalibiru, jalur sepeda di sepanjang pinggiran kali Oya dan masih banyak yang lain.
Faktor ?A? kedua dan ketiga dari 3A tadi adalah aksesibilitas dan amenitas telah menerangkan dirinya sendiri (self explanatory) bagi teman-teman yang melakukan urusan pariwisata. Keberlanjutan usaha desa wisata juga sangat bergantung dari amenitas ini.
Yang juga amat sangat penting bagi pengelola wisata adalah komunitas masyarakat lokal, bukan investor dari luar. Mengapa demikian? Karena kalau investor dari luar yang mengelola maka penduduk setempat hanya akan menjadi penonton. Nah, jika komunitas setempat yang mengoperasikan maka desa akan maju dan masyarakat akan meningkat kesejahteraannya. Tribud meyakini bahwa hal sangat penting tersebut perlu diviralkan agar penduduk setempat bukan hanya menjadi penonton, melainkan juga pelaku.
Sungguh, Situtena sangat senang mendengar ungkapan pengalaman dan pikiran Tribud. Situtena kembali membuka catatan bahwa pada kuartal II yang lalu pada tahun 2020 ini urusan akomodasi dan makan-makan mengalami pertumbuhan negatif 22% (dua puluh dua persen). Urusan akomodasi ini punya kaitan erat dengan pariwisata. Karena pandemi Covid-19 terjadilah penurunan kegiatan pariwisata. Kreativitas dan inovasi mengurus pariwisata harus menggunakan cara baru dengan orientasi dua hal sekaligus menghadapi gelombang (wave) akibat pandemi Covid-19.
Dua hal tersebut adalah ?ride the wave and lead the wave?. Mampukah masyarakat dan pasar bergerak sendiri?
Dalam terbitan F&D (FINANCE AND DEVELOPMENT) bulan September 2020 baru-baru saja terdapat sejumlah kalimat menarik yang memberi inspirasi berikut.
Negara punya kesempatan besar memberi analisis terbaik untuk solusi. Solusi tersebut adalah percepatan pembangunan mekanisme penciptaan ilmu oleh masyarakat sebagai landasan penciptaan nilai-nilai kehidupan baru diseluruh wilayah termasuk di desa-desa.
Gagasan ini secara umum, menanggapi urusan umum di dunia saat ini, disampaikan oleh Mazzucato (F&D, September 2020) dan baik untuk didalami bagi transformasi metode implementasi pada solusi tepat pengembangan wisata desa-desa seperti diceritakan oleh Tribud.
Mazzucato juga punya gagasan terkait hal tersebut bahwa pemerintah dapat membangun program-program inovatif yang berorientasi kepada kesejahteraan masyarakat setempat seperti halnya di desa berpotensi wisata.
Semoga negara segera hadir selain melalui orang-orang cerdas juga disertai sistem cerdas penjamin sinergi optimal atau gotong royong optimal di masyarakat??
