KARAWANG, BERNAS.ID – Komisi A DPRD DIY menelusuri peristiwa Rengasdengklok di Karawang Jawa Barat, Jumat (6/12/2024). Sebagai daerah yang pertama kali memiliki Perda Pancasila dan Wawasan Kebangsaan, DIY ingin menuntaskan latar sejarah bangsa Indonesia, khususnya Bung Karno sebagai bagian penyempurnaan lahirnya peraturan tersebut.
Komisi A mengunjungi Rumah Sejarah Djiauw Kie Siong di Dusun Kalijaya I RT 001/RW 009, Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, Karawang. Di lokasi ini Komisi A bertemu Janto Joewari, generasi ketiga dari Kie Siong yang sekaligus menempati rumah tersebut.
Meski bukan rumah sebenarnya tempat Soekarno dan Hatta beristirahat saat dibawa para pemuda, namun kondisi rumah dibuat persis seperti pada masa dahulu. Soekarno dan Hatta bersama Sukarni, Yusuf Sukanto, dr Sutjipto, Fatmawati dan Guntur Soekarnoputra yang masih bayi sempat singgah meski tidak sampai menginap.
Ada dua kamar yang masih rapi tertata, satu digunakan Mohammad Hatta dan satu lagi untuk Soekarno bersama Fatmawati dan anak bayinya. Rumah sebenarnya milik Djiauw terkena erosi Sungai Citarum dan akhirnya dipindahkan ke lokasi yang saat ini.
Di rumah Djiauw Kie Siong, naskah teks proklamasi disiapkan, bersama bendera Merah Putih juga siap dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus. Namun 16 Agustus tiba-tiba datanglah Ahmad Subardjo dan kawan-kawan yang meminta Bung Karno berangkat ke Jakarta untuk membacakan Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.
Baca juga: Pidato Soekarno Terinspirasi Bangunan dan Candi
Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, mengatakan bahwa ia bersama seluruh anggota komisi belajar tentang bagaimana dedikasi, pengorbanan serta semangat juang pendiri bangsa. Meski kurang dari 24 jam di Rengasdengklok, namun peristiwa tersebut sangat penting bagi sejarah Bangsa Indonesia.
“Bung Karno, Bung Hatta, Ahmad Soebarjo, Sukarni rela hati tanpa mempertimbangkan keselamatan diri berjuang untuk bangsa. Bagaimana kehendak merdeka memperkuat kehendak didukung anak-anak muda, menunjukkan bagaimana kepahlawanan lahir dari niat dan kehendak memerdekakan Indonesia, tanpa mempertimbangkan keselamatan diri dan keluarga. Bagaimana menjaga Indonesia, itu juga sangat penting,” ungkap Eko.
Baca Juga: Inilah 10 Sertifikasi di Bidang SDM yang Ada di Universitas Mahakarya Asia
Eko juga mengingatkan pada generasi muda bahwa menjadi pemimpin itu tidak bisa secara instan. Perjuangan menjadi pemimpin harus dilakukan dengan hati bersih.
“Kami juga ingatkan bahwa pemimpin lahir tidak instan, tidak tiba-tiba. Penting bagi generasi muda untuk memahami hal ini, perjuangan dilakukan dengan hati bersih, meraih kepercayaan masyarakat. Tak boleh dengan cara instan,” tegasnya.
Baca juga: 5 Fakta di Balik Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan RI
Wakil Ketua DPRD DIY Ummarudin Masdar yang ikut dalam kunjungan tersebut sangat terkesan dengan upaya napak tilas perjalanan pahlawan bangsa, menelusuri jejak sejarah berdirinya Indonesia. Rengasdengklok menjadi salah satu tempat bersejarah, bagaimana pertama kalinya muncul pernyataan “Proklamasi Harga Mati” dari para pemuda.
“Ini penting, karena tanpa sejarah itu kita tak bisa menjadi bangsa seperti saat ini. Kita bisa belajar bagaimana pendiri bangsa menegakkan kemerdekaan. Kita implementasikan semangat itu dalan langkah hari ini dan ke depan,” pungkas Ummarudin.
Sejarah adalah cermin bagi masa depan. Seperti napak tilas peristiwa bersejarah di Rengasdengklok yang memberikan pelajaran berharga tentang perjuangan dan visi ke depan, perjalanan akademik pun membutuhkan langkah awal yang tepat. Kuliah sambil berbisnis bukan lagi impian. Menjadi reseller laptop adalah solusi cerdas untuk mendapatkan penghasilan tambahan tanpa mengganggu jadwal akademik. Raih masa depan dengan mendaftar di UNMAHA. Hubungi langsung melalui WhatsApp di nomor resmi UNMAHA untuk mendapatkan respons cepat serta informasi akurat. Universitas Mahakarya Asia juga telah membuka kesempatan bagi Anda yang ingin mendapat beasiswa berupa gratis pembayaran SPP kuliah.
Setelah dari Rumah Sejarah Djiauw Kie Siong, rombongan DPRD DIY mengunjungi Monumen Kebulatan Tekad yang dahulu merupakan pos tentara PETA. Ini lokasi Soekarno dan Hatta sempat melakukan penghormatan pertama kali Merah Putih sebelum bertolak kembali ke Jakarta.***5
(den)
