YOGYAKARTA selalu menjadi daya tarik sebagai kota wisata, namun di sisi lain juga menyimpan persoalan yang kian menganga, yakni darurat sampah. Bisa dilihat tumpukan limbah rumah tangga di depo Lempuyangan, Suryowijayan, Nitikan, Mandala Krida, hingga Giwangan yang cukup menggangu pandangan dan membuat aroma tak sedap.
Persoalan itu merupakan cermin retak dari sistem yang belum beres, dari kebiasaan yang belum berubah.
Jika kita menengok data terbaru, jelang akhir 2025, volume sampah di Kota Yogyakarta melonjak drastis. Seharusnya Kota Yogyakarta bersolek jelang libur panjang seperti Natal dan Tahun Baru, namun kondisinya justru bisa kian parah.
DLHK DIY mencatat bahwa alokasi sampah ke TPA Piyungan mencapai 300 ton per minggu. Namun, TPA yang telah beroperasi sejak 1994 itu menemui senjakalanya pada awal 2026 nanti. Tanpa solusi jangka panjang, kita hanya memindahkan masalah dari satu titik ke titik lain..
Baca Juga: Komisi B DPRD Jogja Endorse Digitalisasi Pasar Tradisional
Sementara itu di beberapa depo, tumpukan sampah telah mencapai ketinggian tiga meter, meluber ke badan jalan, menimbulkan bau menyengat, dan mengganggu kesehatan warga sekitar.
Pemerintah telah mencoba berbagai pendekatan. Mas Jos, Biopori , dan Timbangan digital mulai diterapkan di delapan depo sebagai proyek percontohan. KemenHAM DIY menggandeng komunitas seperti Trash Hero Jogja dan LSM lingkungan untuk merumuskan strategi lintas sektor.
DPRD DIY pun mendorong desentralisasi pengolahan sampah agar pengelolaan dari hulu ke hilir berjalan lebih adil dan efisien. Namun, pertanyaan mendasarnya tetap, apakah kita, sebagai warga, sudah benar-benar peduli?
Masalah sampah di Jogja kian kompleks tidak saja soal volume, tapi juga soal pola. Sebagian besar warga masih mencampur sampah organik dan anorganik sehingga proses daur ulang menjadi rumit. Ditambah lagi bank sampah belum menjangkau semua kelurahan, dan edukasi pemilahan masih belum cukup optimal.
Di sisi lain, sektor informal, pemulung, pengepul, dan pengrajin daur ulang, belum sepenuhnya dilibatkan dalam perencanaan kebijakan. Sehingga kebijakan tidak bersifat holistik. Ditambah lagi kita menghadapi tantangan struktural. Sistem pengangkutan sampah masih terpusat , masih sangat bergantung pada TPA Piyungan yang sudah over kapasitas.
Di titik ini, pemerintah daerah perlu berhenti menganggap krisis sampah sebagai persoalan musiman yang cukup diselesaikan dengan kebijakan tambal sulam. Jika persoalan ini terus berulang di titik yang sama, itu bukan lagi masalah teknis, melainkan kegagalan tata kelola. Kita bisa saja terus memoles diri sebagai kota budaya dan wisata, namun pada titik inilah legitimasi pemerintah justru diuji.
Kita boleh menengok success story kota lain dalam penerapan sistem desentralisasi. Di mana kini banyak kota telah beralih ke sistem yg lebih mandiri dan melibatkan partisipasi warga, pengolahan sampah dikelola dimulai dr RT, RW, atau kelurahan. Jogja bisa belajar dari model seperti TPS3R yang telah berhasil di beberapa daerah lain.
Baca Juga: Komisi B DPRD DKI Dukung Transformasi Bisnis Dharma Jaya untuk Ketahanan Pangan
Namun kembali, bicara soal pengelolaan sampah perlu kesadaran secara kolektif, sistem tidak akan berhasil tanpa perubahan perilaku. Budaya memilah sampah misalnya, kebiasaan ini bisa dimulai sejak dari rumah. Sekolah, kampus, dan komunitas bisa menjadi partner untuk edukasi.
Lalu Media sosial bisa menjadi alat untuk sounding dengan dikemas secara kreatif. Pemerintah perlu mendukung dengan insentif, misalnya saja potongan retribusi bagi warga yang aktif memilah, support bagi bank sampah, kemudian pendampingan pelaku di sektor informal.
Jika pola desentralisasi dan kesadaran kolektif ekologis ini bisa kita optimalkan sy yakin Yogyakarta mampu keluar dari persoalan ini. Krisis ini memang challenging, namun kolektivitas dan kesadaran masyarakat kita yg menjadi ciri khas kota ini bisa menjadi solusi dr persoalan ini.
Karena pada akhirnya, cara kita mengelola sampah ini adalah cermin kita sebagai warga yg bermartabat. Dan wajah Yogyakarta, seharusnya tetap bersih, teduh, dan elok.
Oleh : Munazar, M.Psi
