BANYUMAS, BERNAS.ID – Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) rupanya tak hanya meninggalkan jejak mendalam di Jawa Barat, tetapi juga di wilayah Banyumas Raya, Jawa Tengah. Hal tersebut dibahas dalam webinar “Jejak DI/TII di Banyumas Raya” yang digelar Banjoemas History Heritage Community, Senin, 23 Februari 2026.
Fajriansyah Rozaq, mahasiswa S2 arkaelogi UGM selaku narasumber menjelaskan, pada tahun 1950, Amir Fatah—salah satu tokoh DI/TII—menyatakan bergabung dengan gerakan yang dipimpin Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. Namun, upaya pemberontakan tersebut akhirnya berhasil ditumpas oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) di kawasan perbatasan Pekalongan–Banyumas.
“Yang membuat Amir Fatah kecewa [dengan Pemerintah Indonesia] karena Batalyon Amir Fatah tidak masuk dalam RERA atau Rekonstruksi dan Rasionalisasi [oleh Moh. Hatta],” ujar dia.
Pemberontakan DI/TII di Banyumas Raya menurut dia merupakan bagian dari gerakan yang lebih luas untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Gerakan ini juga dipicu oleh kekecewaan terhadap Perjanjian Renville serta keinginan menegakkan hukum Islam. Meski berhasil dipadamkan, pemberontakan tersebut diduga meninggalkan dampak jangka panjang, baik terhadap stabilitas sosial ekonomi masyarakat maupun trauma kolektif di wilayah tersebut.
Baca juga: Densus 88 Sebut Ada Dua Cara untuk Sebarkan Ideologi NII
Kekuatan pemberontakan DI/TII di Banyumas Raya menurut dia banyak disokong oleh tentara DI/TII dari Jawa Barat, khususnya Kuningan.
“Orang-orang menyebutnya DI Siliwangi,” paparnya.
Fajri menjelaskan pula, keluarga kakeknya dahulu dibantai oleh pasukan DI/TII. Itu yang membuat dia lalu meneliti DI/TII, dengan melibatkan 75 narasumber yang diwawancara antara 2020-2022.
Ia menemukan data, ada dua fase pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah. Yang pertama adalah proklamasi pada 28 April 1949, di Pengarasan, Brebes. Yang kedua adalah fase penyerangan tentara pemberontak DI/TII ke sejumlah pos TNI di Banyumas Raya, dan melakukan serangan pada pejabat dan orang pribumi yang kaya.
“Amir Fatah bahkan sempat menguasai Kota Brebes, dalam satu hari,” ujarnya.
Pemberontakan itu menurutnya akhirnya ditumpas oleh GBN, atau Gerakan Banteng Negara dalam komando Gatot Subroto. Berbagai markas DI/TII termasuk di hutan-hutan digempur, oleh pasukan Divisi Diponegoro dan Brawijaya, yang mengakibatkan tentara DI/TII terpecah belah dan akhirnya kalah.
“Ada laporan yang mengatakan Amir Fatah itu pernah menjadi tangan kanan Jendral Sudirman, tetapi ini butuh penelitian lebih lanjut,” katanya. (den)
