Palu, Bernas.id — Perum Bulog menggandeng TNI dan Polri untuk mempercepat penyerapan gabah petani serta menjaga stabilitas harga pangan nasional di tengah ancaman anomali cuaca dan ketidakpastian pasokan global menjelang Idulfitri 1447 Hijriah.
Langkah tersebut dibahas dalam rapat koordinasi percepatan penyerapan gabah petani dan stabilitas harga pangan yang digelar Bulog bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sulawesi Tengah di Palu.
Rapat koordinasi itu dihadiri sejumlah pejabat daerah dan instansi terkait, antara lain Panglima Kodam XXIII/Palakawira, Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah, Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus, Komandan Korem 132/Tadulako, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Tengah, serta Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Tengah.
Selain itu, hadir pula Kepala Kantor Wilayah PT BGR Logistik Indonesia Makassar, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Provinsi Sulawesi Tengah, Komandan Kodim 1306/Palu, Pemimpin Cabang PT JPL Bulog Sulawesi Tengah, Kapoksi Penyuluhan Pertanian Provinsi Sulawesi Tengah, serta Katimker Penyuluhan Pertanian Kota Palu.
Wakil Direktur Utama Perum Bulog, Mayjen TNI (Purn) Dr. Marga Taufiq, mengatakan sinergi lintas sektor tersebut diperlukan untuk memastikan target penyerapan gabah petani tercapai sekaligus menjaga ketersediaan stok pangan nasional.
Menurut dia, Presiden sebelumnya telah mengingatkan kemungkinan terjadinya perubahan global yang dapat berdampak pada ketahanan pangan nasional sehingga pemerintah diminta memperkuat produksi dalam negeri.
“Presiden sejak setahun lalu sudah mengingatkan bahwa akan terjadi perubahan global yang tidak bisa diprediksi. Karena itu kita diminta memperkuat produksi dalam negeri dan secara bertahap mengurangi ketergantungan impor,” kata Marga Taufiq.
Ia menjelaskan, kondisi anomali cuaca yang masih terjadi di sejumlah wilayah, terutama di Pulau Jawa sebagai lumbung padi nasional, turut memengaruhi produksi pertanian. Curah hujan tinggi di beberapa daerah menyebabkan proses tanam hingga panen terganggu.
Di sisi lain, keterbatasan struktur organisasi Bulog di daerah juga menjadi tantangan dalam penyerapan gabah petani. Saat ini Bulog hanya memiliki sekitar 26 kantor cabang yang membawahi beberapa kabupaten.
“Di tingkat gudang hanya ada beberapa personel. Dulu sistemnya menunggu petani membawa gabah ke gudang, tetapi sekarang Bulog mendapat tugas menjemput gabah langsung ke petani,” ujarnya.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Bulog berkoordinasi dengan TNI melalui jaringan teritorial Babinsa serta Polri guna membantu menjangkau petani di berbagai wilayah. Selain itu, penyuluh pertanian lapangan juga dilibatkan untuk memastikan kesiapan panen hingga proses penyerapan gabah oleh Bulog.
Sementara itu, Pimpinan Kantor Wilayah Bulog Sulawesi Tengah, Jusri Pakke, mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting untuk menjaga ketersediaan pangan di daerah.
“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, serta penyuluh pertanian untuk memastikan penyerapan gabah petani berjalan optimal dan stabilitas harga pangan tetap terjaga,” kata Jusri.
Ia menambahkan, pemerintah juga secara rutin memantau perkembangan harga komoditas pangan setiap pekan melalui koordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri dan instansi terkait guna mengantisipasi potensi lonjakan harga menjelang hari besar keagamaan.
Pemerintah juga terus menyalurkan cadangan pangan pemerintah berupa bantuan beras kepada masyarakat untuk menjaga daya beli sekaligus menstabilkan harga di tengah dinamika pasokan pangan nasional.
