YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Kementerian Kesehatan bersinergi membuat pola perjalanan wisata kesehatan di Indonesia.
?Hal itu sebagai langkah untuk mewujudkan Indonesia sebagai destinasi pariwisata kesehatan dunia,? kata Pretty Multihartina, Kepala Pusat Analisis Determinan Kesehatan Sekretariat Jenderal Kemenkes RI, Senin malam (25/11/2019).
Di depan peserta sosialisasi ?Determinan Kesehatan Dalam Rangka Tindak Lanjut Peluncuran Katalog Wisata Kesehatan dan Skenario Perjalanan Wisata Kebugaran? di Hotel Cavinton Yogyakarta yang berlangsung 25-27 Nopember 2019, Pretty Multihartina mengatakan bahwa kerjasama itu merupakan tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang telah dilaksanakan pada tahun 2017 antara Kementerian Pariwisata RI dan Kementerian Kesehatan RI mengenai pengembangan wisata kesehatan di Indonesia.
?Juga sebagai upaya bersama untuk mendukung destinasi wisata prioritas serta mengembangkan wisata kesehatan yang bermutu,? papar Pretty Multihartina.
Ia juga menjelaskan, kerja sama antara dua Kementerian ini merupakan tindak lanjut dan menjadi sasaran prioritas dalam program kerja Kabinet Indonesia Maju pada periode 2019-2024.
Sebelumnya, telah ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2018 tentang koordinasi strategis lintas sektor penyelenggaraan kepariwisataan.
Diharapkan, skenario perjalanan ini dapat menjadi dasar bagi sektor bisnis untuk mengembangkan paket-paket wisata kesehatan di masa mendatang.
Menurutnya, penetapan wisata kebugaran dan jamu menjadi prioritas merupakan keputusan yang tepat. ?Selain mempunyai nilai jual yang tinggi, Indonesia menawarkan tindakan promotif dan preventif lebih utama dalam bidang kesehatan,? katanya lagi.
Buku ?Perjalanan Wisata Kebugaran? itu memberikan informasi tentang pilihan paket wisata bagi para wisatawan yang memiliki karakter dan preferensi berbeda, yaitu motivasi kesehatan dan kebugaran melalui pengalaman budaya yang unik dan dikemas secara inovatif.
Pola perjalanan ini dapat mengajak destinasi wisata di kota lainnya untuk mengembangkan wisata kebugaran, di mana kali ini baru dikembangkan di Joglosemar: Jogjakarta, Solo dan Semarang, Bali dan Jakarta.
Penyusunan pola jalur wisata itu untuk mendorong pelayanan kesehatan tradisional untuk memiliki unggulan yang meliputi spa, herbal, akupressur, dan akupuntur dalam penyelenggaraan wisata kesehatan serta menetapkan rumah sakit (medical tourism) dan fasilitas kesehatan tradisional (wellness tourism) yang memiliki pelayanan unggulan dalam penyelenggaraan wisata kesehatan.
Tujuan orang traveling saat ini beragam. Salah satunya adalah wisata kesehatan dan kebugaran. ?Pemikiran semacam ini harus kita kembangkan, misalnya dengan menawarkan treatment tradisional yang kita kemas dengan baik dan yang paling penting adalah uniqueness sehingga tidak bisa dirasakan di tempat lain,? terang drg Rini Sunaring Putri, M.Kes, Direktur Umum dan Operasional RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.
Oleh karena itu, tindak lanjut dan kerja sama mengenai wellness tourism ? baik untuk pencegahan dan perbaikan ? bisa dikembangkan untuk meningkatkan kualitas wisatawan. ?Sehingga mempunyai pengalaman yang nantinya bisa diceritakan ke mana-mana, baik pengalaman positif atau negatif,? kata drg Rini Sunaring Putri, M.Kes.
Peluncuruan katalog ?Wisata Kesehatan dan Skenario Perjalanan Wisata Kebugaran? ini merupakan upaya perubahan konsep dan strategi pariwisata Indonesia ke depan, dari pariwisata berbasis kuantitas menuju pariwisata berdasarkan kualitas.
Sehingga hal itulah yang benar-benar membawa devisa ke negeri ini. Dan memberi dampak yang lebih bagi negara, wisatawan juga akan lebih care untuk menjaga alam budaya di tempat yang mereka datangi.
Kerjasama dua kementerian ini harus menghasilkan inovasi yang bisa diterima wisatawan, baik mancanegara atau nusantara. Dan ini menjadi jalan terbaik untuk meningkatkan jumlah wisatawan ke Indonesia.
Konsep pengembangan wisata ini nantinya terbagi dalam empat klaster: Wisata medis, wisata kebugaran dan jamu, wisata olahraga yang mendukung kesehatan, dan wisata ilmiah kesehatan. (fan)
