Bernas.id – Dengan disertasinya berjudul Beitrag Zur Temperaturbean Spruchung der Orthotropen Kargschiebe, BJ Habibie meraih gelar doktor pada tahun 1965 dengan meraih Summa Cum Laude, suatu predikat kelulusan tertinggi yang sama dengan angka 10.
Salah satu karya ilmiah Habibie yang paling monumental adalah teknik perhitungan rambatan (crack propagation) sampai ke atom-atomnya pesawat hipersonik. Karena ciptaannya ini, para ilmuwan di bidang aerodinamika menjuluki Habibie dijuluki Mr Crack.
Namun, saat ini, dikabarkan media bahwa BJ Habibie sedang dirawat di Jerman terkait ganguan pada fungsi organ jantungnya. Habibie didiagnosis mengalami kebocoran pada klep jantungnya.Saat ini, BJ Habibie menjalani perawatan di Munchen, Jerman.
Presiden Jokowi pun sudah melakukan pembicaraan langsung, meski hanya sebentar dengan Habibie. Habibie pun meminta adanya tim dokter kepada Presiden Joko Widodo. Presiden pun menyanggupi permintaan Habibie, bahkan juga dikirim Paspampres untuk berada di Jerman.
“Saya sudah berangkatkan (dalam proses) dari Indonesia,” kata Presiden Jokowi.
Prof Dr Lukman Hakim SpPD-KKV, SpJP, Kger, seorang spesialis jantung dan pembuluh darah dari tim dokter kepresidenan juga sudah berangkat ke Jerman. Duta Besar Republik Indonesia di Jerman pun juga ditugaskan untuk memantau kondisi terkini dari Habibie.
Dulu, ketika ia lulus doktor, saat itu industri pesawat terbang Jerman sedang tumbuh kembali, Habibie banyak terjun ke berbagai proyek dengan teknologi tinggi standar NATO. Ketika bekerja di MBB (Meserschmit Boelkow-Blohm) di Jerman (1965-1978), Habibie merupakan salah seorang pemegang kunci rahasia teknologi militer NATO sampai sekarang.
