Bernas.id ? Perkembangan teknologi informasi seperti media sosial diakui bisa memberikan dampak yang positif dan dampak buruk kepada pemakainya, bahkan masyarakat. Kabar hoaks tentu menjadi penyebabnya karena menimbulkan keresahan di masyarakat. Banyak masyarakat yang belum bisa membedakan hoaks atau fakta karena minimnya literasi.
Dikatakan pihak Kepolisian, hoaks yang menyebar sakhir-akhir ini seperti penyerangan ulama, bermotif politik. Kelompok Muslim Cyber Army (MCA) bersama eks kelompok Saracen menjadi dalang utama dalam penyebaran hoaks bermuatan politik ini.
Motif politik ini diketahui setelah polisi mendalami kasus hoaks penyerangan ulama melalui media sosial. Dari kesimpulan hasil penyelidikan polisi, motif yang dilakukan kelompok MCA adalah agar bisa menjegal pemerintahan yang sah melalui sosial media.
Ditambah, penyebaran hoaks ini dilakukan memasuki tahun politik menjelang Pilkada Serentak dan pemilihan presiden. Dengan memanfaatkan keresahan masyarakat dan ulama, MCA hendak memicu konflik sosial yang lebih besar.
“Apa yang dilakukan oleh kelompok ini (MCA dan Eks Saracen) motifnya adalah motif politik,” jelas Kasatgas Nusantara Irjen Pol Gatot Eddy Pramono.
Dikatakan Gatot, temuan motif politik itu bisa terungkap setelah melalui pendalaman di lapangan dan melalui media sosial. “(Isu hoaks) Menimbulkan keresahan masyarakat, ulama, dan timbul ketakutan serta timbul konflik sosial yang besar,” imbuh Gatot.
Lanjut Gatot, dengan hoaks dari MCA itu, masyarakat akan terpicu untuk berpikir pemerintah tidak bisa mengelola negara dan konflik yang lebih besar akan terjadi. ?(Ini berpotensi red-) memecah belah bangsa,” tambah Gatot.
Selama kurun bulan Februari 2018, disampaikan Gatot, timnya telah menemukan 45 peristiwa terkait isu penyerangan terhadap ulama.
