Bernas.id ? Jelang pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2018 dan Pilihan Presiden (pilpres) 2019, kabar hoaks semakin santer terdengar dan terbaca di berbagai lini media. Penyebaran kabar bohong ini tentunya memiliki tujuan tersendiri. Salah satunya, menciptakan kondisi masyrakat yang terasa tidak aman, terutama penyebaran hoaks terkait penyerangan tokoh-tokoh agama oleh orang gila atau orang yang dituduh PKI.
Diberitakan media, grup penyebar hoaks satu per satu mulai terungkap dan ditangkap apar kepolisian. Dulu grup penyebar hoaks bernama Saracen, lalu yang terbaru grup penyebar hoaks bernama MCA (Muslim Cyber Army).
Rabu kemarin, FS (27) warga Tasik diciduk polisi karena mengunggah ujaran kebencian di grup Facebook United Muslim Cyber Army. Dari penyelidikan, FS juga merupakan anggota Muslim Cyber Army (MCA) yang bekerja sebagai 'sniper' alias pengumpan foto.
“Koordinasi dengan Bareskrim, dia itu sniper atau pengumpan foto,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum, Kombes Umar Surya Fana di Mapolda Jabar, Kamis (1/3/2018).
Dikatakan Umar menjelaskan, 'sniper' ini bertugas untuk mencari foto berita untuk kemudian dijadikan umpan kepada MCA. Nantinya, MCA itu menentukan, apakah ini berita layak atau tidak untuk diviralkan.
Dijelaskan Umar, foto-foto tersebut didapatkan para sniper MCA dari bahan di internet. Ia menyebut dari 21 kejadian viral di Jawa Barat, hanya dua yang benar, 19 lainnya hasil dari para sniper MCA.
Apakah kelompok MCA ini mendapatkan gaji, lanjut Umar, belum bisa memastikan. “Kita tidak tahu, yang jelas ini kaya Saracen. Kalau Saracen betul-betul dapat uang dan order,? katanya.
