Bernas.id ? Jelang pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2018 dan Pilihan Presiden (pilpres) 2019, kabar hoaks semakin santer terdengar dan terbaca di berbagai lini media. Penyebaran kabar bohong ini tentunya memiliki tujuan tersendiri. Salah satunya, menciptakan kondisi masyrakat yang terasa tidak aman, terutama penyebaran hoaks terkait penyerangan tokoh-tokoh agama oleh orang gila atau orang yang dituduh PKI.
Diberitakan media, grup penyebar hoaks satu per satu mulai terungkap dan ditangkap apar kepolisian. Dulu grup penyebar hoaks bernama Saracen, lalu yang terbaru grup penyebar hoaks bernama MCA (Muslim Cyber Army).
Dilansir dari Kompas.com, terbongkarnya sindikat penyebar isu-isu provokatif The Family Muslim Cyber Army (MCA) oleh Polri, Senin (26/2/2018) merupakan bukti masih rendahnya literasi masyarakat ketika mengonsumsi informasi di media sosial (medsos).
Karena minimnya literasi kepada masyarakat terkait konsumsi informasi dari medsos, Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho menyebut penyebaran hoaks tak kunjung berhenti.
“Apalagi, pada momen pilkada justru akan semakin naik. Mereka-mereka itu adalah pihak-pihak yang berpotensi mengamplifikasi masifnya penyebaran hoaks di media sosial,” ujar Septiaji.
Selain itu, sindikat ini turut membuat semakin tingginya polarisasi di dalam masyarakat. Septiaji menyebut sindikat seperti MCA akan memperparah rasa saling curiga antarkelompok masyarakat karena perbedaan pandangan ketika memandang isu yang beredar.
