Bernas.id – Siapa yang tidak pernah mendengar black campaign? Hampir semua anggota masyarakat usia pemilih pasti pernah mendengar istilah ini. Ya, benar kampanye hitam maksudnya. Jika dalam tahun politik para politisi beserta para simpatisannya sibuk bergerilya menyasar kantong-kantong massa untuk memperkuat keyakinan diri bahwa kelak akan maju sebagai pemenang. Potret ini terjadi pada seluruh jenjang pemilihan baik dalam PILKADA maupun PILPRES.
Kampanye hitam atau black campaign adalah kampanye yang bertujuan untuk memunculkan citra buruk terhadap pihak lawan atau pesaing. Kondisi ini paling sering terjadi manakala persaingan diantara partai ataupun koalisi partai terlihat sengit. Misalnya karena hanya ada dua pasang calon terkuat. Kondisi ini sering memicu bermunculannya upaya-upaya yang mengarah kepada kampanye hitam.
Entah mengapa pemilihan umum di negeri ini senantiasa menyisakan cerita kelam, betapa tidak black campaign selalu menjadi satu strategi pemenangan partai-partai yang ada. Bayangkan jika pikiran para politisi dan simpatisan hanya berkutat pada kampanye hitam, maka tentu hal ini menunjukkan ketidaksiapan bahkan ketidakmampuannya dalam melaju dalam kompetisi sehat. Padahal kampanye hadir sebagai arena unjuk kepantasan dan kelayakan calon pemimpin alih-alih sebagai demo kekuatan justru pemandangan yang ada hanya sibuk mengintai pihak rival. Meneropong kelemahan, hingga kekhilafannya untuk dibeberkan dan dibesar-besarkan agar menjadi citra buruk.
Benarlah kata pepatah “buruk rupa cermin dibelah”. Kampanye hitam sebagai wujud kesadaran akan ketidakmampuan diri bersaing sehat! Mungkin ada yang bertanya-tanya mengenai faktor pemicu bertumbuh suburnya kampanye hitam dalam setiap ajang pemilihan di negeri ini. Salah satu diantaranya adalah nalar dan logika sehat yang bermasalah dikalangan para pelaku, baik oknum maupun lembaga partai.
Bagi oknum mungkin saja berawal dari insiatif pribadi dalam rangka menjalankan tugas ataupun karena didorong ?kecintaan palsu? pada partai kebanggannya beserta calon yang dimenangkan terkadang menghalalkan segala cara. Adapun lembaga partai yang maknanya oleh petinggi partai jika ambisi begitu besar disamping manajemen kampanye bersifat terpusat dan terpimpin yang demikian terkadang membuat kampanye hitam dimobilisir secara terstruktur.
Lalu bagaimana kita menyikapi? Tentunya perlu meningkatkan nalar berpikir kita bahwa melakukan kampanye hitam adalah awal dari kekalahan sejati.
