SEMARANG, BERNAS.ID – Perkumpulan Boen Hian Tong Semarang kembali mengadakan acara tahunan Rujak Pare Sambal Kecombrang. Ritual tersebut adalah simbol perlawanan terhadap lupa akan Tragedi Mei 1998 yang begitu pahit bagi komunitas Tionghoa, khususnya perempuan Tionghoa yang mengalami kekerasan seksual.
Acara digelar di gedung Perkumpulan Boen Hian Tong atau Rasa Dharma di Semarang, Jawa Tengah pada Sabtu (23/5/2026) silam. Boen Hian Tong adalah perkumpulan sosial dan kebudayaan Tionghoa, salah satu yang tertua di Indonesia. Hadir sejak 1876, mereka masih aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan hingga saat ini, termasuk acara doa lintas agama dan ritual rujak pare bunga kecombrang.
Sesuai namanya, dalam acara tradisi itu, para peserta diajak makan rujak pare bunga kecombrang bersama-sama. Rujak pare bunga kecombrang adalah simbol perlawanan terhadap lupa akan kekerasan terhadap masyarakat Tionghoa. Khususnya kekerasan seksual terhadap perempuan Tionghoa dalam Tragedi Mei 1998.
Peristiwa Mei 1998 melandasi Perkumpulan Boen Hian Tong untuk mengadakan Ritual Rujak Pare Bunga Kecombrang. Kegiatan ini dilaksanakan rutin setiap tahun di bulan Mei, sebagai upaya untuk menolak lupa atas tragedi dan kekerasan seksual yang menimbulkan banyak korban dari komunitas Tionghoa.
Saat acara dimulai, setelah doa awal, pita hitam, sebagai simbol mengenang dan berkabung, dibagikan agar orang-orang melingkarkannya di pergelangan tangan kiri. Selanjutnya, peserta memasuki ruangan Rasa Dharma menuju lokasi sinci-sinci (papan leluhur). Ada sinci Ita Martadinata di sana, perempuan muda Tionghoa korban Tragedi Mei 1998 yang juga aktif mengadvokasi kasus kejahatan HAM tersebut. Ia diperkosa dan dibunuh saat hendak menyuarakan keadilan bagi para perempuan korban di forum internasional. Sinci Ita terletak di altar khusus leluhur yang dihormati, sebagai wujud penghormatan terhadap perempuan pembela HAM.
Baca juga: Kasus Dugaan Pelecehan Seksual dan Perkosaan UGM Berakhir Damai
Tentu tak terlewatkan, aktivitas utama dalam acara ini yaitu sesi menyantap rujak pare sambal kecombrang. Pahit, segar, pedas, manis, dan asam menyapa lidah.
Harjanto Halim selaku tokoh masyarakat dan pimpinan Boen Hian Tong mengatakan, ini adalah cara pihaknya untuk terus memperingati tragedi kelam Mei 98. Sebab generasi muda terutama anak kecil sekarang sudah tidak ada yang tahu peristiwa ini, bahkan banyak juga yang malah meragukan peristiwa kelam itu.
“Supaya melawan lupa,” tegasnya.
Peristiwa pahit itu menurutnya lalu disimbolkan dengan peringatan lewat makan pare yang pahit. Sambelnya yang memakai bunga kecombrang itu simbol perempuan Tionghoa yang dianiaya.
“Harapannya kita harus move on, tapi kepahitan ini harus kita hadapi, harus kita telan. Yang muda-muda ini akan mengantar kita menuju ke depan,” katanya.
Ritual Rujak Pare Sambal Kecombrang bakal terus diadakan agar kekerasan seksual dan Tragedi Mei 1998 tidak terulang kembali. Ingatan perlu dirawat bersama-sama melibatkan masyarakat dari ragam komunitas, agama, dan kepercayaan sebagai upaya untuk menolak kekerasan kepada siapa pun di masa sekarang dan mendatang. (den)
