Bernas.id – Pernahkah Anda merasa tak dihargai setelah berperilaku baik pada orang lain? Jika segala yang diterima selalu sebanding dengan yang diberi, maka seharusnya tak ada sikap buruk sehabis maksud baik yang terberikan. Menaklukan hati orang lain adalah susah-susah gampang. Lebih banyak susahnya karena tak semua orang mampu membaca kebaikan orang lain terhadapnya. Ternyata ada tipsnya agar kebaikan Anda benar-benar sampai pada orang lain secara baik, lho.
Ketika Anda mampu menaklukan hati orang lain bukan berarti Anda menguasai gerak-gerik mereka. Setidaknya ketika Anda telah berhasil menggenggam hati orang lain, maka akan mudah nantinya jika Anda ingin menularkan perangai baik terhadapnya. Meneruskan nasihat juga akan lebih cepat tersampaikan ke lubuk hati.
Menurut Ustadz Bendri Jaisyurrahman, ada dua tips agar kebaikan mampu menaklukan hati manusia.
Kebaikan yang dilakukan harus sering
Apapun kebaikan yang diulurkan pada orang lain jika dilakukan dengan sering bukan tidak mungkin orang lain akan respect pada kita. Biarpun hanya hal kecil akan tetap terasa nantinya bagi si penerima kebaikan. Sama halnya saat seorang penceramah yang mati-matian memaparkan materi. Tentu jamaah akan lebih mudah menerapkan isi ceramahnya jikalau materi yang disampaikan sudah lebih dulu dilakukan sang penceramah. Untuk menularkan sikap baik pun lebih cepat diadaptasi orang lain ketika kita lebih dulu menerapkan dibanding lebih banyak bicara.
Kebaikan yang bentuknya ekstrim
Ekstrim yang dimaksud adalah kebaikan yang tidak biasa. Kebaikan yang tersalurkan saat orang lain benar-benar butuh. Sebagai contoh adalah melunasi hutang teman dengan nominal cukup besar dan telah jatuh tempo. Kelak tentu saat Anda mengajaknya, membutuhkannya atau ingin menasihatinya, orang tersebut merespon dengan sopan. Membalas maksud baik secara setimpal.
Kebaikan memang tak selamanya bernilai baik di mata orang lain. Namun, saat kita melakukannya dengan ikhlas dan terus-menerus, bisa jadi hati yang keras akan melunak dengan mudahnya.
