Bernas.id – Saat ini beberapa daerah di Indonesia, seperti Jatilawang, Ajibarang, beberapa wilayah di kecamatan Pekuncen, juga daerah Banyumas, sedang memasuki panen perdana masa tanam pertama (MT I) 2018. Lantaran masih bersifat kewilayahan, maka harga gabah dari petani saat ini masih tinggi. Hal ini disambut baik oleh petani karena hasil panen bisa dibeli dengan harga tinggi juga oleh tengkulak.
Keadaan ini menjadi kebahagiaan untuk petani, di mana sering sekali harga gabah jatuh, sehingga menjadi sangat rendah. Padahal seharusnya harga gabah bisa stabil di semua wilayah, sepanjang tahun. Menurut Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), ketidakstabilan beras disebabkan karena pasokan yang tidak stabil.
Harga beras jenis medium dan premium di Pasar Induk Beras , Cipinang, Jakarta dikabarkan terus mengalami kenaikan. Biasanya konsumen bisa membeli beras premium dengan kisaran harga Rp 12.000/kg, saat ini naik menjadi Rp 12.500 sampai dengan Rp 13.000/kg. Sebenarnya jika dilihat dari kenaikannya, belum sampai tahap kenaikan yang signifikan. Namun, sebagian masyarakat sudah mulai banyak yang mengeluhkan.
Namun, apakah benar masyarakat mengeluhkan harga beras naik karena tidak sanggup untuk membeli? Bagaimana jika yang naik itu adalah harga lipstick, make up, baju, hijab, handphone, dan kuota internet yang masa sekarang ini juga erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari? Mengapa trend pembelian dan penggunaannya semakin meningkat dari waktu ke waktu? Padahal, 1 kg beras mungkin bisa digunakan untuk 2-3 orang selama 2-3 hari dengan perkiraan setiap orang membutuhkan 100 gr beras sekali makan, untuk 3 kali makan dalam sehari. Jika 1 kg beras seharga Rp 12,000, maka kebutuhan beras sebulan antara Rp 120,000 hingga Rp 180,000 untuk satu keluarga. Harga yang masih sangat terjangkau mengingat harga lipstick, make up, baju, hijab, dan kuota internet bisa lebih tinggi dibandingkan harga kebutuhan beras selama sebulan.
Maka alangkah baiknya jika kenaikan harga beras ini, dimaknai sebagai sebuah hal yang seharusnya. Para petani Indonesia harus sejahtera, mengingat negara Indonesia adalah negara agraris. Seharusnya petani Indonesia justru bisa sangat sejahtera seperti yang terjadi di negara-negara agraris lainnya. Namun, hal ini bukan berarti tanpa catatan, pemerintah harus memastikan bahwa naiknya harga beras ini memang benar-benar bersumber dari panen petani, bukan permainan harga yang dilakukan oleh oknum-oknum tengkulak nakal.
Masih menjadi sebuah pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk mengawasi, menindak, dan membuat data pasokan beras yang dilakukan oleh BPS dan Kementan sinkron dan kredibel. Data adalah dasar sebuah analisis, sehingga sangat berbahaya jika akurasi data masih diragukan. Hal itu tentu akan membuat hasil analisis menjadi tidak tepat, dan dampaknya bisa sangat meluas.
