Bernas.id – Sudah dipastikan Indonesia akan menambah hutang luar negerinya. Diperkirakan pada awal tahun 2018 jumlah hutang luar negeri Indonesia melebihi 4.000 triliun rupiah. Penambahan hutang ini tentunya akan menjadi pro dan kontra bagi pengamat ekonomi.
Layak Investasi
Di sisi lain, dengan bertambahnya hutang luar negeri bagi Indonesia berarti Indonesia masih dapat dipercaya. Hal ini didukung dengan penilaian dari Standar & Poor yang menaikkan peringkat Indonesia menjadi layak investasi. Hal ini merupakan yang pertama kali sejak krisis ekonomi 1998 yang diraih oleh Indonesia. Tentunya kondisi yang demikian akan menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola negeri ini.
Semakin besarnya hutang luar negeri bagi negara, menjadi polemik pro dan kontra bagi pengamat ekonomi. Bagi oposisi pemerintah, tentunya hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa beban bunga hutang akan semakin bertambah dan akan menjadi tanggung jawab yang semakin besar bagi generasi berikutnya.
Namun, bagi pemerintah yang menjalankan roda pemerintah tentunya hutang bukan menjadi momok yang menakutkan. Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah mengatakan bahwa 190 negara di dunia ini memiliki hutang. Hanya ada dua negara kecil saja yang tidak mempunyai hutang. Demikian pernyataan beliau saat acara Workshop Nasional Perempuan Legislatif Partai Golkar di Hotel Sultan Jakarta pada tanggal 27 Agustus 2017.
Alokasi Dana Hutang Luar Negeri
Pada dasarnya, penambahan hutang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat roda perekonomian dengan pengalokasian dana hutang tersebut sebagai berikut:
1. Pembangunan Infrastruktur;
Untuk menunjang kemajuan ekonomi terutama bagi negara berkembang, pembangunan infrastruktur sangatlah penting. Bagaimana masyarakat terpencil dapat menjual hasil panennya ke kota melalui sarana jalan yang dibangun oleh pemerintah. Pembangunan infrastruktur lainnya adalah pembangkit tenaga listrik untuk menggerakan mesin-mesin dalam meningkatkan produksi sumber daya alam.
Dengan pembangunan infrastruktur ini, roda ekonomi masyarakat akan meningkat karena akses jalan maupun listrik sangat membantu dalam menghasilkan produksi .
2. Pelatihan Tenaga Kerja;
Dana pinjaman ini dapat digunakan untuk membiayai pendidikan bagi siswa dan mahasiswa Indonesia untuk belajar di sektor-sektor yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Sehingga saat mereka sudah lulus diharapkan mereka dapat memberikan kontribusi keilmuannya di tanah air.
Sudah banyak pelajar Indonesia yang berasal dari pendidikan luar negeri berkiprah di Indonesia baik sebagai pendidik, pengusaha maupun sebagai tenaga eksekutif, legislatif di pemerintah.
3. Pembelian Alat Produksi.
Pemerintah dapat mengalokasikan hutang luar negeri untuk membeli mesin produksi yang dapat mengolah sumber daya alam Indonesia menjadi produk yang bernilai tinggi. Hasil dari penjualan produk ini, diharapkan menjadi produk yang dapat diekspor dan menjadi devisa bagi negara.
Hutang diibaratkan pisau bermata dua, dapat bermanfaat atau dapat menjadi beban. Semoga saja penambahan hutang ini, betul-betul dapat bermanfaat bagi republik yang kita cintai ini.