Bernas.id – Bukan hal yang asing lagi bahwa anak kerap menjadi sasaran amukan orang tua di kala orang tua sedang marah. Mereka kerap menjadikan anak sebagai pelampiasan kemarahan mereka. Padahal, sang anak pun tidak tahu mengapa mereka yang disalahkan.
Menurut lembaga perlindungan anak 24hourparenting melalui buku #BeraniBicara: Panduan Praktis Menghadapi Kekerasan pada Anak (2015:2), kekerasan pada anak dapat dibagi menjadi 4 kekerasan, yaitu kekerasan fisik, kekerasan emosional, kekerasan seksual, dan pengabaian. Kekerasan fisik sendiri ditandai dengan tindakan yang dapat membuat anak sakit dan terluka. Kekerasan emosional adalah tindakan terhadap anak yang menyebabkan perkembangan emosi dan sosial anak terganggu. Kekerasan seksual adalah tindak kekerasan terhadap anak yang terkait mengenai aktivitas seksual, baik kepada anak maupun bersama anak. Pengabaian adalah tindakan mengacuhkan anak dalam tiga kategori, yaitu fisik, emosional, dan pendidikan.
Tokoh Sri Ningsih yang dihadirkan Tere Liye dalam Tentang Kamu terlihat sangat jelas memiliki masa kecil yang kurang menyenangkan. Ia adalah korban dari kekerasan pada anak. Padahal dahulu, ibu tirinya, Nusi Maratta sangat menyayangi dirinya. Karena kematian sang suami, yang tentu saja bukan salah Sri, ia menjadikan Sri pelampiasan atas kesedihannya. Kutipan di bawah ini menunjukkan pelampiasan ibu tirinya kepada Sri.
?Tapi bukan jatuh miskin atau kelaparan yang membuat kehidupan Sri rumit, karena sejak kecil dia sudah dibiasakan bapaknya hidup prihatin, melainkan perubahan peringai ibu tirinya. Nusi Maratta amat kehilangan suaminya, Nugroho. Rasa cinta teramat besar dan direnggut tiba-tiba itu membuat akal sehatnya tersisihkan. Berhari-hari berlalu dalam kesedihan, bermalam-malam meratapi nasib yang begitu kejam membuatnya janda, Nusi Maratta mendadak amat benci kepada anak tirinya. Nusi melampiaskan seluruh gusar dan marahnya kepada Sri Ningsih. Dia menyalahkan Sri Ningsih. Inilah bagian paling sulit dalam kehidupan Sri kemudian. Gadis kecil itu perlahan menyuap nasi tanpa lauk dari daun pisang. Tubuhnya hitam legam, rambutnya berantakan, pakaiannya lusuh. Perlahan wajah riangnya menghilang.?(Tere Liye, 2016:103)
Menurut Monica L McCoy dan Stefanie M Keen dalam Journal of Child Abuse and Neglect (2013:102), penganiayaan terhadap anak adalah “setiap tindakan terbaru atau kegagalan untuk bertindak pada bagian dari orang tua atau pengasuh yang menyebabkan kematian, kerusakan fisik serius atau emosional yang membahayakan, pelecehan seksual atau eksploitasi, tindakan atau kegagalan tindakan yang menyajikan risiko besar akan bahaya yang serius”. Seseorang yang merasa perlu untuk melakukan kekerasan terhadap anak atau mengabaikan anak sekarang mungkin dapat digambarkan sebagai “pedopath“.
Salah satu pemicu terjadinya kekerasan pada anak adalah para orang tua kurang mampu menahan emosi. Marah adalah sesuatu yang wajar. Namun, kemarahan itu sendiri harus bisa ditangani dengan cepat dan tepat. Kemarahan itu sendiri harus dikenali dan tidak perlu diekspresikan. Jangan sampai karena kemarahan orang tua yang tidak terkendali, harus ada seorang anak yang menjadi korbannya.
Seperti yang terjadi dikisah hidup Sri Ningsih, Nusi Maratta sangat kecewa dan terpuruk atas kematian suaminya. Ia selalu berpendapat bahwa Sri Ningsih adalah penyebab utama kematian suaminya. Seandainya Nugroho, ayah Sri Ningsih tidak memilih untuk berlayar mencari kado ulang tahun untuk Sri Ningsih, mungkin Nugroho masih hidup. Nusi Maratta selalu menjadikan Sri Ningsih pelampiasan kesedihan dan kemarahannya, menyalahkan Sri Ningsih atas kematian suaminya. Persepsi ibu tiri terhadap Sri adalah Sri seakan akan tidak sedih kehilangan ayahnya yang paling ia sayang.
Jika saja Nusi Maratta bisa ikhlas menerima kematian suaminya, tidak merasa bahwa dirinya lah yang paling sedih atas kematian suaminya, Sri tidak perlu menjadi korban kekerasan. Jika Nusi Maratta lebih dewasa untuk bangkit bersama-sama dengan Sri, Nusi bisa menjadi penopang Sri di saat dia tidak memiliki ayah. Sri tidak perlu memiliki masa kecil yang menyedihkan.
Tanda-tanda kekerasan pada anak
Kesedihan dapat berlanjut pada kekerasan. Menurut buku #BeraniBicara: Panduan Praktis Menghadapi Kekerasan pada Anak (2015:3-4) ada beberapa tanda kekerasan pada anak. Misalnya, untuk kekerasan fisik sendiri ditandai dengan adanya luka, lebam, atau tanda bekas luka lainnya pada tubuh anak, cara berpakaian anak yang tidak pada tempatnya, sebagai contoh: memakai jaket di hari yang panas untuk menutupi luka. Lalu kekerasan emosional biasanya ditandai dengan sikap anak menjadi sangat pasif atau agresif, anak juga menjadi menarik diri, gugup berlebihan, takut berbuat salah, anak juga akan menunjukan perilaku yang terlalu dewasa atau kekanak-kanakan, serta penurunan rasa percaya diri. Kemudian, pengabaian dapat dilihat dari kebersihan dan penampilan si anak, lalu kesehatan dan perkembangan fisik yang buruk, lalu kondisi emosi yang berubah drastis.
?Gadis kecil itu beringsut duduk, mengambil lap dengan tangan bergetar menahan sisa rasa sakit, dia mulai membereskan sisa tumpahan makanan. Ini bukan pertama kali Sri dimarahi dan dipukul ibu tirinya. Bukan pukulan rotan yang menyakitinya, itu tidak seberapa, dia bisa menerimanya, melainkan luka di hati mendengar kalimat-kalimat ibu tirinya.? (Tere Liye, 2016:104)
Kutipan adegan kekerasan di atas menunjukan bahwa Sri Ningsih tidak hanya mendapatkan kekerasan fisik dari ibu tirinya, tapi juga kekerasan emosional. Ia kerap dibentak dengan kata-kata kasar dari ibunya setiap ia berbuat salah. Bentakan dan pukulan dari ibu tirinya itulah yang menyebabkan Sri menjadi takut untuk berbuat salah (Liye, 2016:106).
Selain itu, kata-kata kasar yang sering diucapkan oleh Nusi Maratta tidak hanya melukai hati Sri Ningsih, melainkan juga merusak psikologis dari Sri Ningsih itu sendiri. ?Mulutmu harimaumu? mungkin bisa menjadi peribahasa yang cocok untuk orang tua. Karena kata-kata yang keluar dari mulut orang tua dapat menjadi momok bagi anak. Bentakan, kata kasar, meragukan kemampuan anak, menghina anak, secara tidak langsung adalah kekerasan verbal yang mungkin akan sangat sulit dilupakan oleh anak. Anak-anak selalu berpikiran bahwa hal yang orang tua ucapkan adalah hal yang benar. Jika orang tua kerap menghina anak, anak tersebut akan terus berpikir bahwa dia hina sehingga ia dapat kehilangan kepercayaan dirinya.
Kekerasan verbal seperti ini kerap diabaikan oleh banyak orang karena mereka berpikir kalau anak usia dini tidak mungkin mengingatnya. Padahal, kekerasan verbal adalah kekerasan yang akan selalu diingat oleh anak. Bahkan, hingga ia dewasa. Seperti yang dialami Sri Ningsih, karena Nusi Maratta selalu menyebut Sri sebagai anak yang dikutuk, hal itu seperti menjadi momok dalam diri Sri meskipun ia berusaha keras untuk tidak berpikir demikian (Liye, 2016:109).
Tidak hanya kekerasan fisik dan emosional, Sri juga tidak pernah diperhatikan oleh ibu tirinya. Hal itu ditunjukkan dalam beberapa kutipan menyangkut penampilan Sri yang berantakan dan lusuh (Liye, 2016:103), Nusi Maratta tidak pernah peduli apakah Sri sudah makan atau belum (Liye, 2016:122). Bahkan, ketikan Sri sakit, jangankan merawatnya, Nusi Maratta tidak memiliki rasa empati sedikit pun terhadap anak tirinya (Liye, 2016:124).
Tanda-tanda kekerasan pada anak ini kerap diabaikan oleh masyarakat di sekitarnya. Saat ini banyak sekali pemberitaan mengenai kasus kekerasan pada anak. Misalnya, seorang ibu yang tega membunuh anaknya sendiri hanya karena mengompol. Lalu, seorang anak yang dicekoki racun serangga oleh ibunya sendiri hanya karena sang suami tega untuk menikah lagi. Bahkan, masih banyak lagi contoh lainnya. Seandainya lingkungan sekitar lebih peka untuk melihat, kejadian-kejadian seperti itu pasti dapat dihindari.
Kurangnya keberanian menghentikan kekerasan pada anak
Dalam buku #BeraniBicara: Panduan Praktis Menghadapi Kekerasan Pada Anak (2015:01) menyatakan bahwa banyak pemikiran salah yang membuat banyak orang kurang peduli dan berani untuk bertindak menghentikan kekerasan pada anak di sekitarnya. Pertama, kekerasan yang dilakukan pada saat anak usia dini akan dilupakan anak. Kedua, anak yang mengalami kekerasan akan menceritakan hal yang ia alami. Ketiga, tidak perlu bertindak atas kekerasan yang dialami anak lain karena hal tersebut adalah urusan keluarga anak lain. Keempat, anak berisiko utama mengalami kekerasan dari orang yang tidak dikenal. Kelima, hukuman dapat mendisiplinkan anak dan membuat anak berperilaku baik.
?Apalagi di masa-masa itu, tahun 1950-an. Bertahun-tahun Sri mengalami kekerasan, fisiknya disakiti, hatinya tersakiti. Tetangga kampung tutup mata, padahal mereka melihat Sri keluar rumah dengan tangan atau kaki dipenuhi bekas pecut rotan, berusaha disembunyikan dengan pakaian panjang. Mereka juga mendengar teriakan-teriakan marah Nusi Maratta. Tapi mereka tidak melakukan apa pun, tidak tergerak untuk melindunginya. Ayahku, Kepala Kampung, tidak bisa berbuat banyak. Itu bukan murni kesalahan Nusi Maratta. Itu kesalahan kami semua? (Liye, 2016: 110)
Sri Ningsih tinggal di sebuah pulau kecil bernama Pulau Bungin. Suatu pulau kecil yang seharusnya dapat membuat para tetangga lebih peka terhadap kekerasan yang terjadi pada Sri. Namun, para tetangga lebih memilih untuk tutup mata. Padahal, mereka melihat Sri Ningsih keluar rumah dengan tangan atau kaki yang dipenuhi bekas pecutan rotan yang ia coba untuk sembunyikan dengan pakaian panjang. Mereka mendengar teriakan marah Nusi Maratta, tetapi mereka tidak melakukan apapun, tidak ada yang tergerak untuk melindunginya. Mereka hanya diam menyaksikan Sri Ningsih disiksa oleh ibu tirinya seakan akan tidak terjadi apa apa.
Reaksi diam dari tetangga tanpa disadari menunjukkan sikap ikut andil dalam menyiksa anak tersebut. Melihat kekerasan pada anak bukan berarti seseorang terlalu ikut campur masalah keluarga orang lain. Memang tidak mudah untuk menghentikan kekerasan pada anak terutama dalam keluarga. Hal tersebut ditunjukkan melalui sikap Nusi Maratta yang menolak bantuan kepala desa untuk merawat Sri Ningsih yang sedang sakit parah karena dianggap terlalu mencampuri masalah keluarga mereka (Liye,2016:125).
Meskipun sulit, bukan berarti tidak bisa dilakukan. Ada banyak langkah untuk bisa menghentikan kekerasan pada anak yang terjadi di sekitar kita. Komunikasi yang baik dengan pihak-pihak yang terlibat menjadi cara yang efektif untuk menghentikan kekerasan pada anak. Jika komunikasi tidak bisa lagi diandalkan, langkah terbaik yang selanjutnya bisa dilakukan adalah dengan melaporkan kejadian tersebut ke pihak yang berwajib.
?Bahkan hingga hari ini, di masa modern, kita masih tidak peduli dengan kekerasan yang dialami anak-anak di rumah. Menganggap itu urusan keluarga masing-masing, hal yang lumrah. Bukankah masih ada jutaan anak-anak yang mengalami kekerasan di seluruh dunia? Baik yang terang-terangan juga yang tersembunyi, tidak diketahui tetangga atau kerabat dekat. Bentakan, marah tanpa sebab, ucapan menyakitkan, hingga dalam kasus ekstrem, pukulan fisik, penyiksaan. Kekerasan yang mereka peroleh justru dari orang yang seharusnya menyayangi dan melindungi.? (Liye, 2016: 110)
Kisah masa kecil Sri Ningsih menjadi pukulan untuk kita semua. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk membantuk anak-anak yang mendapat kekerasan dari sekitarnya. Namun, yang paling dibutuhkan adalah kepedulian dan keberanian dari diri sendiri untuk mau melakukannya. Sudah pedulikah kita dengan sekitar kita? Beranikah kita untuk mengambil tindakan untuk menghentikannya? Satu nyawa terlalu banyak untuk hilang karena kekerasan. Mari peduli dan jangan biarkan kekerasan terus terjadi. (*Penulis: Agnes Gabe, Siswa SMAK PENABUR Harapan Indah)
Daftar Pustaka
24hourparenting.com, Bincang, E., Inibudi.org, Education, L L., & Pulih, Y (2015). #BERANIBICARA: PANDUAN PRAKTIS MENGHADAPI KEKERASAN PADA ANAK. Jakara: Literati
Liye, Tere. 2016. Tentang Kamu. Jakarta: Republika
McCoy, M L & Keen, S M. 2013. Child Abuse and Neglect. California: Psychology Press
