Bernas.id – Hidup di dunia ini semata untuk ibadah di sisi Rabb-nya, begitulah kira-kira motto hidup manusia yang sejalan dengan risalah agama (baca: Islam). Manusia dengan segala fitrah dan hajat hidupnya menjalani roda kehidupan sudah sepantasnya senantiasa menyesuaikan pada rel kehidupan yang ditunjukkan agama. Sebut saja ada tiga fitrah yang biasa disebut kebutuhan naluri dalam diri manusia yaitu; naluri beragama, berkasih sayang dan naluri untuk mempertahankan diri.
Saat yang bersamaan pada diri manusia juga ada hajat hidup yang disebut kebutuhan jasmani berupa makan, minum, istirahat, BAK hingga BAB memang ikut mewarnai roda kehidupan manusia. Pada prinsipnya aktivitas harian manusia hanyalah berputar pada pemenuhan dua hal itu saja pemenuhan hajat hidup dan naluriahnya, betul kan? Lihatlah satu contoh, romantika kehidupan di kota besar pergi subuh pulang malam, jika ditanya padanya mengapa betah melakoni hal yang demikian tentunya seseorang akan mengatakan “ini tuntutan hidup”.
Sebenarnya jika mau jujur, yang menuntut bukanlah kehidupan melainkan naluri dan kebutuhan jasmaninya. Buktinya, masih ada pekerjaan lain yang tak menyiksa hidup yang bisa dilakukan orang lain, namun karena gaji yang diperoleh orang lain tersebut terlihat jauh dari menggiurkan misalnya, atau untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang semakin meroket harus mencari pekerjaan yang lebih bergengsi, atau karena tak sesuai level pendidikan yang sudah ditempuhnya selama ini maka ekspektasinya pekerjaan yang dilakoni harus begini bukan begitu.
Sebenarnya, tidak ada yang salah jika kita memilih pekerjaan yang lebih menjanjikan pendapatannya. Apalagi, kenyataan hari ini begitu sulitnya mencari pekerjaan, jangankan yang halal, yang haram saja juga tidak gampang. Kesulitan ekonomi memang menjadi tema kondisi keuangan masyarakat menengah ke bawah hari ini. Untuk itu perlu kiranya memperhatikan dua hal agar aktivitas bekerja yang dikerjakan setiap harinya dengan susah payah bisa bernilai pahala di sisi Allah.
Pertama, aktivitas kita hendaknya diawali dengan niat Lillahi Ta?ala (semata-mata karena Allah). Agar aktivitas dalam kehidupan kita tidak sia-sia dan agar tidak hanya bernilai lelah, maka pastikan semua aktivitas dipersembahkan kepada Sang Pencipta manusia dan alam semesta. Minimal kita bekerja agar bisa menikmati hidup dengan cara halal tanpa mencuri, menipu ataupun meminta-minta. Kita bekerja demi menunaikan perintah agama yaitu ikhtiar menjemput rezeki.
Kedua, tidak cukup hanya dengan niat baik saja, melainkan harus dibarengi dengan cara yang benar. Maksudnya, aktivitas yang dikerjakan harus sesuai dengan ketentuan Allah yang tertuang dalam syariat agama. Dalam konteks masyarakat, juga ada nilai hukum yang berlaku maka seharusnya niat yang baik sebelumnya dibarengi dengan tata cara pelaksanaan aktivitas yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku di dalam masyarakat. Aktivitas yang sesuai dengan peraturan yang berlaku akan legal di masyarakat, sementara aturan yang sesuai dengan syari?at agama maka akan diterima di sisi Allah sebaga amal ibadah yang bernilai pahala.
Tentunya masih banyak yang mengira cukup dengan niat baik saja, padahal tidak demikian. Sebagai satu permisalan bahayanya jika amalan hanya disandarkan pada niat, seperti perampokan atau pembegalan atas orang kaya akan dianggap sah-sah saja jika ditujukan untuk membantu kebutuhan ekonomi orang miskin, sekali lagi niat baik saja tidak cukup, harus disempurnakan dengan tata cara yang baik pula. Baik menurut agama dan kebiasaan masyarakat yang sejalan dengan agama tentunya. Sudah saatnya menyempurnakan amal shalih kita di dunia ini dengan memenuhi kedua syarat di atas, agar menuai pahala. Semoga bermanfaat!
