Bernas.id – Mengamati perbincangan di sosial media topik kaum pelangi memang tiada habisnya. Saat yang sama kita sebagai manusia normal juga punya satu kekhawatiran tersendiri, jika para lelaki sudah tidak lagi merasa butuh kehadiran perempuan sebagai pasangan hidupnya. Apa jadinya jagad ini tanpa regenerasi makhluk yang bernama manusia. Padahal manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini demi kemaslahatan seluruh makhluk hidup, tersebab manusia telah dibekali akal dan fitrah yang menjadikannya mampu bersikap manusiawi.
Potensi manusia untuk bersikap manusiawi ini seakan dibajak oleh kekuatan global. Kekuatan yang berlindung atas nama hak asasi manusia untuk bebas berprilaku. Dikatakan kekuatan global karena sejatinya arus pengakuan kaum LGBT ini memang secara serentak nampak di berbagai belahan negeri di dunia ini, bahkan mereka telah legal berkendara dibawah payung hukum global tepatnya dalam deklarasi PBB tahun 2008.
Bayangkan, jika dua puluh tahun lalu fenomena kaum LGBT serasa hanya terjadi di Barat sana, nyatanya hari ini sudah ada di depan mata kita secara langsung. Jika dulu fenomena waria menjadi bahan lelucon, namun kini fenomen itu telah berubah menjadi tero. Orang tua waras mana yang tidak ketakutan anak-anak keturunan mereka terjebak penyimpangan seksual seperti kaum Nabi Luth yang dimurkai Allah. Dulu ketakutan para bunda begitu besar melepas anak gadisnya keluar rumah, kini hal itu juga terjadi ketika melepas anak lelakinya, khawatir terjebak pergaulan bebas yang kebablasan seperti LGBT ini.
Fitrahnya manusia diciptakan sejak manusia pertama adalah berpasangan, laki-laki dan perempuan. Adam dan hawa, ada ayah ada ibu, bukan keluarga model ?papa-papi? seperti yang diutarakan seorang gay baru-baru ini di sebuah media nasional. Simple nya, secara manusiawi penyimpangan tetaplah sebuah penyimpangan yang harus segera diluruskan. Tentunya banyak faktor yang memengaruhi mengapa penyimpangan bisa terjadi dan berkembang bak penularan.
Bijaklah jika seluruh pihak yang ada mengambil posisi yang sama, merangkul yang bengkok untuk bisa berjalan lurus bukan mendiskriminasi. Norma agama di negeri kita pun telah tegas menjelaskan hal tersebut. Lalu mengapa masih ada juga upaya sekelompok pembela HAM yang berusaha membenarkan penyimpangan dengan mengabaikan nasib generasi normal yang terancam punah karena virus yang secara nyata mulai banyak menjangkiti bersamaan dengan meningkatnya angka perilaku seksual menyimpang tersebut? Jujurlah pada kelogisan pikir kita yang manusiawi. Sebab semua pembelaan atas penyimpangan LGBT hanyalah suara kebebasan yang kebablasan. Semoga negeri kita terbebas dari azab yang menimpa kaum Nabi Luth
