Bernas.id – Kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh faktor intelegensi (IQ) namun juga faktor kecerdasan emosional (EQ) juga kecerdasan spiritual (SQ). Tenyata tiga hal tersebut belum cukup untuk membawa seseorang menuju kesuksesan. Paul Stlotz, seorang konsultan di dunia kerja dan pendidikan berbasis skill mengembangkan sebuah konsep yang diberi nama Adversity Quotient (AQ). Menurut Stlotz, Adversity Quotient (AQ) merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk bertahan dalam menghadapi masalah hidup, mengamati kesulitan dan mengolahnya dengan kecerdasan yang dimiliki sehingga mampu menyelesaikan kesulitan tersebut.
Stlotz mengibaratkan tingkatan daya tahan seseorang dalam menghadapi masalah dengan 3 istilah berikut:
1. Quitter
Individu dengan tipe ini adalah individu yang memilih menyerah sebelum mendaki, berhenti dan mundur dari kesulitan dan permasalahan maupun tantangan yang sedang dihadapinya. Ciri lainnya adalah hidupnya yang datar, melakuan sesuatu secukupnya asal masih bisa hidup, cenderung lari atau bahkan menolak perubahan. Padahal orang yang hancur dalam perubahan akan hancur oleh kesulitan. Individu dengan tipe ini sering membatasi diri dengan perkataan negatif seperti ?tidak mungkin?, “aku tidak bisa?, ?bukan keahlianku? dan sebagainya selain itu mereka juga tidak memiliki visi sehingga kontribusinya terhadap masa depan sangat rendah.
2. Camper
Invidu dengan tipe ini berbeda dengan tipe sebelumnya yang cenderung menyerah sebelum mendaki. Individu ini bahkan semangat dalam mengawali sesuatu, akan tetapi mereka seringkali kehilangan semangat ketika berada di tengah perjalan, seperti seorang pendaki yang merasa cukup puas walau hanya berada di lembah dan memilih untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju puncak. Mereka akan puas dengan pencapaian yang sudah diraih tanpa perlu untuk belajar dan melakukan perbaikan. Para camper cenderung menahan diri terhadap perubahan, memiliki semangat yang rendah dan sedikit dalam berusaha. Terbiasa menggunakan kata-kata seperti ?cukup sampai di sini?, ?ini sudah cukup bagus?, ?aku tidak ingin melanjutkannya lagi? dan sebagainya. Selain itu mereka juga tidak memiliki prestasi yang tinggi dan kontribusinya juga kecil.
3. Climber
Individu dengan tipe ini adalah pendaki sejati yang berusaha mendaki hingga mencapai puncak kesuksesan tanpa menghiraukan rintangan yang ada di depannya. Individu ini sudah terbiasa dengan situasi sulit yang memang bagian dari hidup, mereka menyadari bahwa akan banyak imbalan yang akan diperoleh melalui langkah yang dilaluinya. Ciri lainnya adalah para climber tidak takut menghadapi tantangan, memotivasi diri, berusaha mewujudkan apa yang ingin mereka raih dengan penuh semangat serta berani menjelajah setiap potensi. Kontribusi mereka sangat besar karena mampu menerima bahkan mendukung setiap perubahan ke arah yang lebih baik. Mereka membicarakan apa yang bisa dikerjakan beserta cara mengerjakannya serta berbicara dengan tindakan.
Berdasarkan uraian tersebut sangat penting bagi kita untuk menjadi seorang climber bukan hanya sekedar camper atau malah quitter. Orang dengan tipe climber akan merespon segala kesulitan yang datang sebagai hal yang baik. Respon seseorang terhadap suatu tantangan adalah hal yang penting karena persaingan sangat ditentukan oleh hal tersebut. Tingkatan respon seseorang inilah yang disebut dengan Adversity Quotient (AQ), semakin tinggi nilai AQ seseorang, maka semakin optimis responnya dalam menghadapi setiap permasalahan. Orang dengan respon yang optimis dalam menghadapi permasalahan akan berani mengambil risiko, produktif, memiliki kinerja yang baik serta mampu bertindak kreatif. Kreativitas muncul dalam keputusasaan yang menuntut kemampuan untuk mengatasi kesulitan dari suatu kejadian yang tidak pasti.
Stoltz memberikan cara untuk mengembangkan AQ dengan singkatan LEAD yang terdiri dari Listened, Explore, Analized dan Do. Listened berati mendengarkan respon terhadap kesulitan, seseorang berusaha menyadari dan menemukan kesulitan kemudian menanyakan pada diri sendiri apakah itu respon AQ yang tinggi atau rendah. Explored adalah mencari penyebab masalah serta mengeksplorasi alternatif tindakan yang tepat. Analized melakukan analisa yang menyebabkan seseorang tidak bisa mengendalikan permasalahannya, termasuk mencari tahu apakah kesulitan sudah menjangkau ke wilayah lain dalam kehidupan serta mengetahui kenapa kesulitan berlangsung dalam waktu yang lama. Do, mengambil tindakan nyata dengan melakukan pengendalian situasi yang sulit, kemudian membatasi jangkauan permasalahan agar, masalah yang dihadapi tidak menjangkau ke wilayah lain dalam kehidupan, sehingga bisa lebih fokus dalam menyelesaikan permasalahan.
