Bernas.id – Islam mendorong kita untuk saling mengingatkan dan mempelajari hal-hal yang tidak kita ketahui. Pemberitahuan itulah yang bisa jadi sebuah nasehat, masukan atau kritikan. Agar kita tahu kekurangan kita dan segera memperbaikinya.
Salah satu hikmah mengapa kita harus saling menasehati adalah karena setiap orang mendambakan keselamatan hidup. Keselamatan dari kerusakan, dari hal-hal yang membahayakan dirinya, lahir dan batin. Berita buruknya, diantara kita masih belum siap menerima kritikan, nasehat dari orang lain. Terlebih jika orang yang memberi nasehat itu kita anggap lebih rendah dari kita.
Menerima nasehat itu laksana bercermin. Agar diri kita bisa menjadi cermin untuk orang lain, hindari memberi nasehat secara kasar pada seseorang. Karena hanya menimbulkan rasa sakit hati, dan bukannya mendekatkannya pada kebaikan.
Akan lebih baik jika kita menggunakan cara-cara berikut dalam memberi nasehat :
1. Niatkan semata-mata untuk mengharap ridha Allah
Ketika seseorang menasehati orang lain hendaklah bukan bertujuan menjatuhkan tetapi karena ridha Allah, semata-mata ingin agar orang yang dinasehati itu mendapat kebaikan karena Allah mencintai orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan.
2. Bernada lembut dan tetap saling menghargai
Ketika kita melihat seseorang melakukan kesalahan berulang dan kita ingin menghentikannya, terkadang kata-kata kasar yang terucap. Semakin kasar ucapan kita, semakin kita terlihat menghakimi dan semakin sulit kita dimengerti. Pesan kita tidak sampai, rasa benci justru tumbuh. Tiada lagi kata-kata penuh welas asih dan nada yang lembut.
Semua orang memiliki opini, dan ingin agar pendapatnya dihargai. Beri kesempatan untuk bicara tentang pandangannya lalu luruskanlah dengan nasehat yang menyejukkan.
3. Tempatkan diri kita dalam posisi yang tepat
Menyenangkan dan memuaskan saat menghakimi orang lain. Namun pernahkah menempatkan diri pada posisi seseorang yang dihakimi, atau seseorang yang menjadi sasaran pernyataan menyakitkan kita?
4. Menanamkan optimisme dalam diri dan doakan
Sikap seseorang pada hari ini mungkin buruk namun bisa jadi akan lebih baik keesokan harinya, kita harus optimis akan hal itu. Lebih baik demikian daripada memberikan label buruk selamanya. Doakan agar Allah memberikan hidayah padanya untuk berubah.
5. Sampaikan secara pribadi
Hindari memberi nasehat pada seseorang di muka umum. Kecuali ketika itu kita dalam posisi sebagai narasumber yang berdiri di depan umum. Jika benar-benar tulus menyeru pada kebaikan, maka kita nasehati secara pribadi.
Ada sebuah syair Imam Syafi?i:
?Hendaklah engkau sengaja mendatangiku untuk memberi nasehat ketika aku sendirian, hindarilah memberikan nasehat kepadaku di tengah khalayak ramai, karena sesungguhnya memberikan nasehat di hadapan banyak orang, sama saja dengan memburuk-burukkan, saya tidak suka mendengarnya, jika engkau menyalahi saya dan tidak mengikuti ucapanku, maka janganlah engkau kaget apabila nasehatmu tidak ditaati.?
Maka, mendengar nasehat yang disampaikan secara baik itu seperti menikmati kacang garing yang gurih. Lho? Menarik minat untuk segera membuka kulit dan merasakannya isinya. Setelah satu-dua biji, seterusnya tak mau berhenti mengupas untuk menikmati, semakin terasa nikmatnya. Rasa asinnya itu diibaratkan kritikan atau sindirian dalam nasehat kita. Tetap enak, tidak melukai hati. Kritikan kita tetap enak didengar, seperti rasa asin yang ada pada kacang garing, rasanya malah jadi nikmat dan menimbulkan sensasi tersendiri.
