Bernas.id – Kebanyakan orang saat ini berlomba-lomba memiliki badan yang ideal. Terlihat langsing dengan badan semampai atau tinggi dengan badan berotot. Paras yang cantik dan senyum yang manis sering dikait-kaitkan dengan tingkat kebahagiaan seseorang. Benarkah badan yang ideal sudah dapat diindikasikan sebagai bahagia yang ideal? Apakah bahagia yang ideal sama dengan dilingkupi kesenangan setiap saat?
Setiap orang pasti pernah merasakan bahagia dan sedih. Kedua perasaan itu memiliki masanya masing-masing. Rasa yang berkebalikan namun senantiasa menerpa batin kita.
Saat kita dirundung musibah seketika wajah menjadi muram sepanjang hari. Merasa bahwa kitalah yang paling menyedihkan. Sebaliknya bahagia adalah keadaan yang identik sesuai harapan.
Memang benar badan yang ideal adalah badan yang terlihat proporsional. Sempurna di hadapan khalayak ramai.
Namun kata ideal sendiri bukan berarti selalu sempurna setiap detik melainkan mampu memposisikan sesuatu secara tepat. Sama halnya dengan kata bahagia. Bahagia dengan kadar yang ideal adalah kemampuan menempatkan kebahagiaan secara baik, apa adanya dan tidak menuntut.
Lalu, bagaimana kriteria ideal bagi sebuah kebahagiaan?
Menurut Iman Ibnu Al-Qayyim ada tiga tanda kebahagiaan bagi seseorang. Berikut ulasannya:
Bersyukur ketika mendapat kenikmatan
Nikmat yang datang menghampiri kehidupan kita tidak lain adalah karena kehendak Allah. Maha Baik Allah melengkapi hidup kita dengan berbagai kenikmatan. Bernapas gratis tanpa harus membayar setiap meter kubik udara yang terhirup oleh kita. Belum lagi mata yang diberikan keluasaan secara bebas menyaksikan segala keindahan alam. Kita tak berkewajiban menyetor biaya sewa. Maka salah satu kebahagiaan yang tepat pada porsinya adalah senantiasa bersyukur atas kenikmatan-kenikmatan tersebut.
Bersabar ketika mendapat cobaan
Kita terkadang merasa hal buruk yang menimpa kita adalah sebuah bencana besar. Menganggap diri berada di posisi paling berat. Padahal Allah menyimpan sebuah anugerah besar di balik itu semua. Kenikmatan untuk berada lebih dekat pada Allah. Maka tak ada kebahagiaan yang lebih hakiki selain mengakrabkan diri dengan Allah lewat cobaan yang datang.
Bertaubat ketika melakukan kesalahan
Sadarkah kita bahwa kesalahan yang kita perbuat tidak hanya satu dua seumur hidup? Jika kesalahan yang terjadi adalah yang disadari maka secara cepat bisa segera diperbaiki. Lalu, bagaimanakah jika kesalahan yang terjadi tidak disengaja sekaligus tidak kita sadari?
Kebahagiaan itu akan muncul justru saat kita sebisa mungkin bertaubat. Semaksimalnya memohon ampun. Kebahagiaan bukan serta merta tentang banyaknya impian nyata yang berhasil kita genggam, tetapi sekedar beristighfar bertaubat juga merupakan kebahagiaan yang menenangkan.
Jadi, siapkah Anda memeluk bahagia secara ideal?
