Bernas.id – Monde Ariezta Al Hassan menceritakan tahun 2006-2011, ia bekerja di sebuah perusahaan akademi pilot di Jakarta. Lulus dari sebuah SMA terbaik di Bandung, ia pun langsung ditawari bekerja di sebuah perusahaan bisnis internasional di bidang penerbangan karena kemampuan bahasa Jepang dan akademis.
Baca juga: Apa Itu Jurusan Sistem Informasi? Inilah Mata Kuliah dan Prospek Kerjanya
“Awalnya saya tidak punya peluang untuk menjadi seorang pilot karena biaya sekolah pilot itu bagi saya tinggi sekali. Tapi kesempatan datang setelah komisaris perusahaan tempat saya bekerja menawari dan membuka jalan bagi saya untuk menjadi seorang pilot, asalkan saya mengabdi dulu ke perusahaan untuk beberapa waktu. Ia melihat potensi yang sangat baik di diri saya untuk menjadi seorang pilot terutama dalam hal kecerdasan saya untuk mudah mempelajari apapun dengan cepat. Hal itu diperlukan bagi seorang pilot misalnya untuk mempelajari medan, cuaca, dan ketika kondisi darurat. Ditambah pengalaman saya mendapatkan training pengetahuan penerbangan di Jepang tahun 2009,” ungkapnya ke Bernas.
Namun, suatu hari ada konflik internal perusahaan di antara para komisaris. Ditambah saat itu ayahnya meninggal dunia dan ibu memintanya kembali ke Bandung untuk menemaninya sambil membuka usaha. Mau tidak mau, ia harus kembali ke Bandung dan melepaskan cita-citanya menjadi seorang pilot.
“Di Bandung saya membuka sebuah cafe. Tak lama setelah itu, adik kelas saya meminta saya menemaninya hadir ke sebuah pelatihan bisnis. Dari situ saya mengenal guru saya yang mengajari saya menjadi seorang trainer. Meskipun saat masih di Jakarta saya pernah mengikuti pelatihan public speaking dan trainer, namun baru kali itu saya bertekad menyeriusi bidang training menjadi seorang trainer. Ditambah bekal kecintaan saya terhadap dunia psikologi sejak saya SMP, maka hingga saat ini saya terus memperdalam ilmu-ilmu yang berkaitan dengan human develoment dan menjadi seorang trainer yang mengkhususkan di bidang human development. Insya Allah cerita selengkapnya akan tertuang di novel saya yang sedang ditulis, mohon doanya agar segera selesai,” bebernya.
Baca juga: 5 Universitas Jurusan Sistem Informasi Terbaik di Indonesia
Untuk pengalaman istimewa di pekerjaan, coach ini mengatakan seringkali dianggap MC oleh peserta training. “Saat mengisi training, saya seringkali disangka peserta training sebagai MC, peserta dengan latar belakang mahasiswa, atau trainer yang masih sangat muda, padahal sudah cukup berumur, hehe. Pernah suatu saat ketika acara belum dimulai, saya duduk di kursi depan untuk visualisasi penampilan saya dari sisi peserta, lalu ada peserta datang dan mengajak berkenalan dan menanyakan, peserta dari mana? Kuliah di mana? Pernah juga saat memasang kabel proyektor sebelum training dimulai, saya dikira petugas hotel tempat training tersebut. Setelah tahu bahwa ternyata saya trainernya, saya bertanya kepada mereka apa alasan mereka menyangka saya demikian. Jawabannya rata-rata karena faktor wajah dan ukuran badan saya yang terlihat muda. Karena sering dianggap demikian, akhirnya saya memelihara janggut hingga sekarang dan sering memasang foto di brosur atau backdrop training. Alhamdulillah sekarang tidak pernah kejadian lagi hal demikian,” paparnya.
Untuk permasalahan yang paling sering dihadapi, CEO ini menyebut tentang beberapa sifat di dirinya yang selalu ingin sempurna dan berkualitas. “Hal ini berimbas saat saya membuat konten materi ataupun slide, atau ketika diminta mendesain sebuah program, membuat saya selalu membutuhkan waktu banyak. Saya biasa menyikapinya dengan mengelola waktu, target, dan obstacle dengan lebih baik. Sedangkan dalam hal faktor eksternal, biasanya adalah kesediaan peralatan atau sumber daya terkadang kurang mendukung saat dibutuhkan. Saya biasa menyikapinya dengan menyediakan cadangan, memastikan segalanya sesuai Riders yang saya buat ketika saya diundang pihak penyelenggara, dan juga dengan mempersiapkan keterampilan saya jika harus tampil tanpa didukung peralatan yang dibutuhkan,” katanya.
Baca juga: 13 Universitas Jurusan Akuntansi Terbaik Indonesia dan Luar Negeri
Untuk tantangan peekrjaan ke depannya, konselor ini menjelaskan dunia training dan human development yang berkembang pesat. ”Dunia training, human development, dan sejenisnya kini sedang tumbuh pesat. Banyak para trainer, coach, consultan, mentor, dan tokoh-tokoh baru yang lahir dan ikut aktif di bidang ini. Bahkan banyak di antara mereka yang juga membuat perusahaan sendiri di bidang ini. Artinya, tantangan kompetitor adalah salah satu yang akan saya hadapi. Saya akan menyikapinya dengan terus meningkatkan inovasi dan kualitas materi, delivery, produk/program, dan keilmuan dengan terus berinvestasi dalam belajar,” tuturnya.
Konsultan pun meyakini bahwa bidang pekerjaan yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. “Secara fitrah, manusia diciptakan Tuhan untuk terus bertumbuh, menjadi lebih baik dari sebelumnya, fastabiqul khoirot (berlomba dalam kebaikan), mencari ilmu, dan rahmatan lil’alamin (bermanfaat kepada alam semesta). Atas dasar itulah saya yakin bidang ini selalu dibutuhkan oleh manusia manapun di belahan dunia manapun. Manusia akan selalu membutuhkan bidang ini,” ucapnya.
Dikatakannya, belajar dan menguasai sesuatu lalu segera membagikannya kepada orang lain menjadi habit khusus yang dibangunnya selama ini untuk mendukung pekerjaannya karena baginya ilmu itu adalah amanah yang perlu ditunaikan kepada orang lain. Selain itu, terbuka dengan hal-hal yang baru ataupun yang lama yang bisa dikembangkan, lalu menyediakan jadwal untuk berbagi ilmu gratis, dan memberikan pelayanan lebih di atas standar yang diberlakukan. Analis ini pun memberikan inspirasinya kepada orang yang membaca kisahnya ini.
Baca juga: Inilah 6 Sertifikasi Akuntansi Bagi Profesi Akuntan di Indonesia
“Milikikah sebuah profesi, bukan pekerjaan. Profesi bisa jadi adalah pekerjaan Anda saat ini, tetapi pekerjaan belum tentu profesi. Profesi bagi saya memiliki 4 karakter : sebagai sumber penghasilan yang mencukupi, sebagai panggilan hidup/panggilan jiwa, bermanfaat bagi sekitar, membuat kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Jika hanya sebagai sumber penghasilan yang mencukupi saja, itu namanya pekerjaan, bekerjanya adalah kerja komersil. Jika hanya sebagai panggilan hidup dan bermanfaat bagi sekitar saja, itu namanya mengabdi, bekerjanya adalah kerja bakti. Jadi mesti lengkap keempatnya. Seorang dokter A menganggap profesinya sebagai pekerjaan, karena ternyata itu bukan panggilan jiwanya. Seorang dokter B menganggap profesinya sebagai pengabdian, karena ternyata dia tidak berniat mencari uang atau tidak punya keterampilan menjual bidangnya. Keduanya tidak salah, hanya saja menurut saya tidak mengoptimalkan peran dia sebagai manusia yang sejati ciptaan Tuhan,” urainya.
Penyuka hobi menonton film dan membaca buku ini membocorkan rencana dalam waktu dekat dan impiannya ke depan. “Saat ini perusahaan saya sedang membuat dan mengembangkan portal pendidikan dan human development online yang menyediakan layanan training, coaching, konsultasi, asesmen, terapi, sertifikasi, kursus, hingga diploma, terpadu dalam satu website. Orang dari manapun di Indonesia akan dapat menikmati jasa tersebut. Kemudian nantinya, portal tersebut akan menembak pasar internasional. Insyaa Allah portalnya akan launching maksimal awal tahun 2018. Untuk impian, memiliki perusahaan layanan human development berbasis online terpadu terbaik di Indonesia dan Asia, memiliki saham di beberapa perusahaan, membangun kebermanfaat lebih banyak bagi masyarakat dalam bentuk fisik maupun kekaryaan. Pensiun di usia yang relatif muda untuk kemudian fokus berdakwah,” pungkasnya.
Baca juga: Daftar Universitas Kuliah Jurusan Bisnis Manajemen di Indonesia
