Bernas.id – Antony Japari pada awal tahun 1997, ia mulai bekerja sebagai marketing officer yang menjual produk reksadana di Bank BII. Perusahaan tempatnya bekerja setelah ia selesai MDP (Management Development Program) di Bank BII adalah perusahaan aset manajemen patungan (joint venture) antara Sinar Mas Group (BII) dan Lend Lease of Australia, yaitu BII Lend Lease Investment Services. Karena mampu mencapai target setahun yang diberikan atasan dalam waktu 6 bulan, ia pun dipromosikan menjadi supervisor di pertengahan tahun 1997.
Namun, karena akhir tahun 1997 mulai terjadi krisis ekonomi dan reksadana tidak bisa dijual, ia pun dimutasi ke perusahaan asuransi jiwa yang masih 1 grup dengan Sinar Mas dan Lend Lease of Australia, yaitu Simas Lend Lease Life. Karena dimutasi ke industri yang berbeda maka posisinya turun dari supervisor menjadi marketing officer lagi yang menjual produk asuransi jiwa di Bank BII (bancassurance).
?Saat itu saya pikir hal tersebut adalah kegagalan, namun sekarang saya sadari itu adalah kesempatan kedua yang diberikan kepada saya untuk belajar hal yang baru sehingga saya lebih baik dan mendapatkan pengetahuan yang lebih luas. Saya jadi bersyukur karena ?by accident?, saya masuk ke industri asuransi jiwa yang selalu bertumbuh setiap tahunnya karena penetrasi asuransi jiwa yang masih rendah sehingga karir saya juga bisa bertumbuh seiring berkembangnya perusahaan. Karena ada di tempat yang tepat dan selalu mencapai target yang diberikan atasan maka saya bisa mencapai posisi sebagai Direksi di usia yang cukup muda yaitu 33 tahun,? ungkapnya ke Bernas.
Untuk profesi yang ditekuni saat ini, ia menyebut sebagai CEO perusahaan asuransi jiwa PT Capital Life Indonesia. ?Selain itu, saya juga adalah Financial Planner dengan sertifikasi Certified Financial Planner (CFP) dan juga dosen tamu di beberapa universitas seperti Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) dan Institut Bisnis & Informatika Kwik Kian Gie (IBI KKG/Kwik Kian Gie School of Business) untuk program Pasca Sarjana kedua institusi pendidikan tersebut,? jelasnya.
Dikatakan, banyak pengalaman unik terjadi di pekerjaannya, tapi ada satu kejadian yang sangat membekas saat ia harus membantu mengurus suatu klaim asuransi jiwa, padahal orang tersebut bukan nasabahnya langsung dan bukan bagian saya (harusnya bagian klaim).
“Waktu itu, saya bekerja di Panin Life sebagai Head of Training & Development dan ada teman saya yang menelpon saya meminta bantuan karena ada temannya yang meninggal tiba-tiba karena sakit jantung. Teman dia tersebut mempunyai polis Panin Life melalui kartu kredit ANZ Panin Bank, yaitu credit shield. Karena teman saya tahu saya kerja di Panin Life maka dia meminta bantuan untuk mengurus klaim polisnya. Jadi, saya membantu menghubungi istri almarhum sebagai ahli warisnya dan menghubungkan ke bagian klaim Panin Life. Setelah semuanya beres dan klaimnya dibayarkan, saya menemui istri almarhum untuk memberitahukan bahwa tagihan kartu kredit ANZ Panin Bank-nya sudah lunas. Dia senang sekali karena satu beban keuangannya bisa diringankan, namun sayangnya menurut dia masih ada tagihan kartu kredit lainnya yang tidak dicover oleh credit shield sehingga menjadi beban bagi dirinya, apalagi suaminya tidak memiliki polis asuransi jiwa sehingga pendapatan yang hilang karena sang suami meninggal tidak ada yang menggantikan. Pengalaman unik ini memberikan saya pelajaran tentang beberapa hal, yaitu asuransi jiwa sangat berperan dan membantu ahli waris saat terjadi risiko meninggal dunia atas diri tertanggung. Risiko meninggal bisa terjadi kapan saja sehingga sangat diperlukan adanya rencana keuangan khususnya rencana proteksi pendapatan yaitu asuransi jiwa sejak dini,? urainya.
Di posisi sebagai CEO, ia menyebut banyak masalah yang harus dihadapi setiap harinya. ?Menurut saya, masalah SDM perusahaan adalah hal yang sangat penting untuk ditangani dengan benar. Karena suatu perusahaan bisa bergerak maju dan berkembang kalau ada SDM. Jadi, saya menyikapinya dengan berusaha memimpin SDM yang ada di perusahaan saya saat ini yaitu Capital Life dengan prinsip-prinsip kepemimpinan yang melayani dan memperhatikan perkembangan diri setiap SDM yang ada di perusahaan. Setiap SDM di perusahaan mempunyai kekuatan dan kelemahan masing-masing dan tugas saya sebagai CEO untuk mengembangkan potensi mereka melalui pelatihan yang kontinyu dan menempatkan ?the right man in the right place?. Jika karyawan mempunyai keyakinan perusahaan memperhatikan mereka dari sisi pendapatan dan karir sehingga mereka senang bekerja di Capital Life maka mereka juga akan melayani nasabah Capital Life dengan senang hati dan memberikan yang terbaik,? bebernya.
VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) dan Business Disruption akan menjadi tantangan pekerjaannya ke depan. ?Untuk menghadapi VUCA, sebagai profesional saya harus mempunyai intrapreneurship yaitu profesional yang juga mempunyai jiwa entrepreneurship. Dan untuk menghadapi Business Disruption, dalam sebuah perusahaan diperlukan kepemimpinan dan budaya perusahaan yang mendukung. Edgar Schein mengatakan.
?Tugas utama dan terpenting dari seorang pemimpin adalah membangun dan mengelola budaya.? Perusahaan bisa membuat strategi bisnis yang memberitahu arah yang hendak dituju serta cara untuk sampai ke sana. Namun, strategi itu belum tentu berhasil dieksekusi kalau budaya kerja karyawan tidak mendukung. Oleh sebab itu, budaya kerja karyawan sangatlah penting untuk menhadapi tantangan ke depan yang makin keras dan sulit,? paparnya.
Penyuka hobi mengajar ini pun meyakini bidang pekerjaan yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. ?Bidang asuransi jiwa khususnya adalah bagian dari perencanaan keuangan seseorang sehingga mereka bisa mencapai kebebasan keuangan. Dalam perencanaan keuangan, ada 5 sub perencanaan yang perlu dibuat oleh seseorang secara komprehensif, yaitu perencanaan asuransi, perencanaan investasi, perencanaan pensiun, perencanaan pajak pribadi, dan perencanaan distribusi aset. Asuransi jiwa adalah wahana untuk mengelola risiko hidup seseorang dan merupanan bagian yang sangat krusial dalam perencanaan keuangan seseorang. Masyarakat Indonesia masih harus diberikan pendidikan literasi keuangan dan pendidikan keahlian untuk melakukan perencanaan keuangan personal sehingga masyarakat Indonesia bisa menjadi lebih sejahtera. Hal ini menurut saya sangat penting, karena jika tidak maka masyarakat Indonesia tidak akan bebas secara keuangan dan tidak sejahtera di masa tuanya,? terangnya.
Pengagum sosok Bill Gates ini memberikan inspirasinya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ?Semua orang bekerja dari bawah dan bisa naik tangga sukses jika memang mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk itu. Jika Anda adalah karyawan dan profesional, karir bisa naik turun sehingga Anda harus selalu belajar dan mengembangkan diri Anda. Dan Anda harus ulet dan pantang menyerah. Kegagalan bukan merupakan kegagalan kalau Anda selalu bangkit dan menjadikan hal tersebut sebagai pembelajaran,? ucapnya.
The Best CEO Insurance Indonesia 2017 versi majalah Economic Review membocorkan rencana dalam waktu dekat dan impiannya ke depan. ?Dari sisi pengembangan diri, saya berencana mengambil program Doktor tahun 2018. Dari sisi perusahaan, ada corporate action yang saya harus tangani di tahun 2018 dan hal tersebut akan menjadi pengalaman yang luar biasa untuk karir saya ke depan. Untuk impian terbesar saya, sebagai orang tua adalah mendidik anak-anak saya sehingga menjadi orang yang baik dan menjadi manusia seutuhnya. Suskes tidak diukur dari materi saja namun dari kebahagiaan diri dan kepuasan batin serta kontribusi yang bisa diberikan ke masyarakat luas. Dari sisi pelayanan masyarakat, saya ingin menjadi financial educator yang bisa mendidik masyarakat Indonesia tentang literasi keuangan sehingga melek keuangan dan menjadi financial planner yang membantu masyarakat Indonesia mencapai kebebasan keuangan,? pungkasnya.
