Bernas.id ? Bersyukurlah, maka nikmat akan ditambah, itulah kata yang paling tepat. Sering orang mengeluh karena merasa kurang sempurna. Seolah dialah yang paling menderita sehingga berbagai alasan dimunculkan agar mendapat simpati. Padahal tidak demikian, bukankah Allah sudah menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Jadi bagaimana dengan yang mempunyai tubuh kurang sempurna. Tubuh bolehlah mungkin ada kekurangan namun tetap dihadapan Allah sempurna.
Tidak berlebihan ketika kita memberikan contoh konkretnya adalah Agus Yusuf seorang yang tidak punya tangan, hidup hanya dengan satu kaki. Namun beliau menjadi seorang pelukis. Dalam suatu kesempatan di televise nasional, ternyata dengan modal memegang petuah orang tua dan doa kepada Allah, maka keberhasilan pun didapat, yakni dengan masuk ke salah satu perhimpunan pelukis yang bernama AMFPA. Ini adalah komunitas para pelukis mulut dan hati yang diikutinya sejak tahun 1989.
Pak Agus ini beralliran naturalis dan dan realis katanya ketika ditanya aliran apa yang dipakainya dalam menulis. Ternyata beliau sudah melukis sebanyak 450-an lukisan. Lukisan termahalnya ada yang dijual sekitar Rp12.000.000,00. Selain dijual, lukisannya juga ada yang dipamerankan. Beliau telah keliling dunia dengan lukisannya semisal di Malaysia, Taiwan, Hongkong, Singapura, Burma, terakhir pada bulan April 2017 di Spanyol.
Sebenarnya Pak Agus yusuf bukan satu-satunya orang yang berahsil dengan keterbatasan yang dimilikinya. Jika kita melihat salah satu video mengenai never give up, yang menceritakan seorang anak yang punya keterbatasan fisik, namun dengan segala daya upaya dia berhasil melewati permainan ?perosotan?. Sekilas mungkin sang ibu tampak tega membiarkan anaknya yang masih kecil dengan keterbatasan fisik, menaiki tangga dengan susah payah, tapi sang ibu hanya meneriaki anaknya agar semangat dan jangan menyerah. Itulah hebatnya seorang ibu, dengan motivasinya sehingga anaknya berhasil melewati rintangannya dengan bahagia sehingga menjadi pribadi mandiri dan berhasil.
Kita memang dilarang berburuk sangka. Mungkin itulah yang paling tepat dalam hal apapun termasuk memandang keadaan yang terlihat kurang baik, ternyata ada hikmah di baliknya.
Tersebutlah seorang Thomas Alva Edison, jika ibunya tidak menyembunyikan surat dari sang guru apa yang akan terjadi? Mungkin saja Thomas Alva Edison tidak setenar saat ini. Beliau mungkin saja berputus asa atas apa yang disampaikan gurunya. Tetapi atas kebijaksanaan seorang ibu, akhirnya Thomas Alva Edison semakin giat belajar, bahkan menjadi seorang penemu yang mendunia.
Keterbatasan bukanlah suatu hal yang buruk, jika kita menghadapinya dengan lebih bijak. Kekurangan bukanah hal yang harus disesali. Hal apapun harus disyukuri, agar dapat bermanfaat. Mengubah kekurangan menjadi kelebihan yang dapat dibanggakan.
Kembali ke cerita Pak Agus, tergelitik ketika sang istri bercerita, kenapa ia tertarik dengan suaminya dengan segala keterbatasannya. Ternyata beliau sangat berpikiran luas dan terbuka. Isteri beliau menyatakan, bahwa orang lain makan, dan Pak Agus juga makan, hanya caranya saja yang berbeda. Itulah di antara ketertarikan seorang isteri terhadap suami dengan segala keterbatasannya.
Fisik bolehlah terbatas tapi pikiran tidak boleh terbatas . Selama masih bisa bermanfaat untuk orang lain pasti akan banyak jalan menuju Roma. Selain pak Agus dan Thomas Alva Edison, juga ada yang bernama Helen Keren, seorang penemu alat optik. Beliau dengan kekurangan dirinya, sehingga dapat menemukan optik yang menjadi dasar untuk kaca mata. Penemuan yang sampai saat ini diguunakan, bagi yang mempunyai keterbatasan dalam melihat. Kemudian ada juga tokoh dunia yang tidak mempunyai tangan dan kaki, namun dia mendunia dengan melaksanakan apapun keperluannya sendiri, bahkan akhirya menjadi motivator.
Maka melihat kenyataan-kenyataan demikian, kenapa kita harus menunda, padahal kita sudah diberi kelebihan berupa fisik yang kuat dan sempurna, akal yang sehat dan berbagai fasilitas yang diberikan tanpa kekurangan. Maka mari kita manfaatkan apapun anugerah yang telah diberikan dengan kembali memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Jangan menyerah ketika mendapati kekurangan dalam diri. Jangan banyak mengasihani diri, tapi bangkitlah!
