Bernas.id ? Jika anda pernah membuat akun baru di sebuah situs, mungkin anda pernah diminta memilih gambar atau mengetik ulang tulisan yang ditampilkan secara samar-samar. Itu adalah sistem Captcha yang dimaksukan untuk mencegah situs tadi dijebol oleh program-program pembuat akun otomatis (bot) untuk keperluan yang tidak bertanggung jawab.
Captcha dibuat sedemikian rupa supaya hanya manusia yang bisa menjawab tantangan yang diberikan oleh Captcha dengan tepat. Namun apakah sistem tersebut memang benar-benar tidak bisa ditembus oleh program kecerdasan buatan? Jika kita menanyakannya pada tim peneliti dari lembaga kecerdasan buatan Vicarious, mereka akan menjawab sebaliknya.
Untuk menciptakan program yang bisa menbobol Captcha, tim peneliti tadi menciptakan suatu program bernama Recursive Cortical Network (RCN) yang mekanismenya meniru cara kerja otak manusia dalam mengenali objek secara visual. Dengan memakai algoritma khusus, RCN bisa mengenali suatu objek dengan tepat hanya dengan melihat kecocokan pada bagian tepi objeknya.
Tim peneliti Vicarious juga sudah mengujikan program mereka ini kepada Captcha yang digunakan di sejumlah situs besar. Berdasarkan pengujian yang mereka lakukan, RCN memiliki tingkat efektifitas mencapai 66,67% dalam menjebol Captcha Google, 57,4% kepada Captcha Yahoo, dan 57,1% kepada Captcha PayPal.
Menanggapi hasil penelitian tersebut, Simon Edwards dari lembaga keamanan cyber Trend Micro Europe berpendapat kalau wajar-wajar saja teknologi Captcha pada akhirnya bisa dijebol. Pasalnya teknologi tersebut sudah beredar begitu lama sehingga hanyalah waktu sebelum ada yang menemukan celah pada Captcha dan memanfaatkannya.
?Dalam rentang waktu tiga hingga empat bulan, apapun yang dikembangkan tim peneliti ini bakal menjadi hal yang lazim, sehingga hari-hari bersama Captcha akan segera berakhir,? kata Edwards kepada BBC. ?Menurut saya, metode autentikasi terbaik adalah metode dua-faktor. Hanya itu cara terbaik untuk melangkahi masalah ini.?
