Bernas.id – Pengalaman adalah guru terbaik. Ungkapan ini layak sekali dipegang dalam mewujudkan kesuksesan kita. Pernah merasakan bingung masuk jurusan saat SMA? Atau bingung mau masuk jurusan apa saat kuliah? Biasanya, kebingungan kita adalah buah dari ketidaktahuan akan passion. Selain ketidaktahuan akan passion, pengalaman kita belum masuk untuk mengerti bagaimana kesuksesan itu diraih dengan cepat. Memang bisa cepat? Bisa! Inilah gunanya Mentor.
Dalam keluarga, sangat penting anak-anak diajarkan untuk selalu mengambil hikmah akan kejadian. Merasakan pengalaman orang lain saat mereka berjuang akan membuat anak-anak memiliki bayangan bagaimana kesuksesan diraih. Mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang tak boleh, membuat anak-anak bisa merasakan sendiri langkah-langkah yang akan dilakukan kelak.
Mentor berasal dari nama tokoh dalam mitologi Yunani, di mana Odysseus memiliki anak bernama Telemachus dan menyuruh mentor menjadi penasihat bagi anaknya. Kemudian diangkat menjadi istilah yang umum dalam pembimbingan (Moory, Ed. 1997). Kata ini melebur dan berarti penasihat. Mentor dari Arisia, sebuah serial novel Lensman karya E.E. ?Doc? Smith, bercerita tentang petualangan futuristic patrol di galaksi, di mana kekuatan luar angkasa bertanggung jawab memandu manusia menuju kedewasaannya (Wikipedia). Mentor biasanya mau berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya sewaktu berjuang menuju impiannya. Seperti senior yang disegani dan telah mengalami proses perjuangan sampai sepahit mungkin untuk bisa menjadi sukses. Ia akan menjelaskan apa yang penting dan apa yang tidak penting dalam proses perjalanan untuk bisa sukses (Kiyosaki, 2002). Proses mentoring bisa melalui mempelajari sejarah sukses dari mentor kita, bahkan dari mentornya mentor kita.
Bagi pengembangan minat dan bakat anak, orang tua perlu mencarikan seorang mentor yang dapat membimbing anak-anak. Terkadang keterbatasan orang tua dalam ketidakmampuan membimbing anak secara khusus dalam bidang tertentu, merupakan hal krusial untuk menimba dari mentor lain. Kita bisa meniru cara Ibu Profesional, Septi Peni Wulandani. Penggagas program jarimatika ini, memilih menjadi ibu rumah tangga setelah ia mendapat SK PNSnya. Karena hal apa? Dia memiliki visi dan misi bersama suaminya, Dodik, untuk membimbing anaknya sendiri. Belajar bersama dari nol, menutup ijazah mereka dan menimba ilmu dari siapa pun dan di mana pun.
Keluarga ini punya cara belajar yang unik. Selain belajar metode home schooling dengan Ibu sebagai pendidik, memakai sumber belajar buku dan media lain, keluarga ini juga punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Dalam hal ini, nyantrik bisa dikatakan sebagai belajar dengan mentor. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Magang jadi tukang ngepel, bersih-bersih kamar mandi, apapun. Tanpa meminta gaji. Sebagai gantinya, anak-anak Ibu Peni meminta waktu 15 menit untuk bisa berdiskusi dengan pemimpin perusahaan/para ahli setiap hari selama mereka magang.
Nyantrik ini mulai diterapkan Bu Septi dari anak-anaknya usia 9 tahun, saat si anak punya proyek yang harus dijalani. Ada salah satu proyek pemberdayaan susu sapi oleh anak kedua Ibu Septi, Ara, yang sangat menyukai susu. Bahkan di usianya 10 tahun saat itu, Ara sudah menjadi pebisnis sapi, bahkan mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa (Himsa, 2013).
Pola pembelajaran pada anak ini bisa kita tiru. Mencarikan anak seorang mentor yang sesuai dengan minat dan bakat. Bisa jadi kita memiliki seorang teman yang pandai berenang, lalu kita bisa memintanya mengajari sambil menceritakan kisah suksesnya menjadi perenang handal kepada anak kita yang sangat suka berenang. Juga bisa saja anak kita yang suka membuat kerajinan tangan, kita arahkan untuk belajar kepada ahlinya. Karena setiap anak itu unik, tidak bisa kita seragamkan untuk belajar semua mata pelajaran. Ada satu hal yang yang menonjol, yang harus diasah dari usia belia dan menjadi permata untuk kebermanfaatan.
