Bernas.id – Sebelum menjadi anggota DPRD DIY, H Koeswanto, SIP pernah bekerja pada sebuah proyek di pedalaman Sumatra. Ia pun mengalami peristiwa bertemu harimau secara langsung.
?Ketika masih bekerja di proyek di Sumatera itu, harimau-harimau itu masih berkeliaran di mana-mana, tapi Alhamdulillah masih dilindungi ketika pulang dari proyek. Kalau pergi ke tempat bos, sudah menjadi hal biasa, harimau melompat di atas mobil dan di bawah beteng itu, babi hutan itu mau makan babi hutan yang ukurannya sangat besar. Lalu, ketika kerja Cilacap, saya setiap hari melihat mayat karena di Nusa Kambangan. Itu terjadi pada zamannya Petrus (penembakan misterius). Zaman itu, orang yang suka malak ditembak langsung dan mayatnya dilempar begitu saja di kali. Melihat mayat tidak dikenal merupakan pengalaman ngeri saya. Yang mati itu masyarakat sipil. Setelah bekerja di Cilacap, lalu melamar dan bekerja di perusahaan rokok,? ungkapnya ke Bernas.
Ia pun menceritakan tentang keputusannya untuk menjadi anggota dewan sampai 3 periode. Ketika itu, ia melihat situasi masyarakat yang memprihatinkan, lalu merasa terpanggil untuk mengedukasi masyarakat. Bila tidak ada yang mengedukasi, mereka akan buta sama sekali, sedangkan sosialisasi Pemerintah tidak sampai ke bawah.
?Nah, di situ, saya terpanggil. Menjadi anggota dewan itu tiga periode, saya tidak pernah mempunyai kekayaan khusus, misalkan membangun rumah, tidak ada, karena saya merasa yang namanya anggota dewan itu yang milih rakyat, yang mendudukkan anggota dewan itu rakyat,? terangnya.
Diceritakan, banyak teman-temannya yang menjadi anggota dewan, tapi tidak mau turun ke masyarakat. Kata mereka, besok saja turunnya kalau mau nyalon lagi. ?Namun, saya tidak. Sepanjang saya didukung oleh mereka, saya selalu mendatangi mereka kalau mereka ada sesuatu dan ada keperluan. Jadi, mereka akan selalu ingat. Itu menunjukkan saya sebagai anggota dewan, tapi ya itu, gaji itu tidak pernah nyantol ya karena kembali ke masyarakat yang membutuhkan. Dewan yang berbeda dengan sumpah janjinya ada lho. Ada banyak itu dewan yang mengingkari sumpah janjinya. Waktu disumpah di hadapan dewan paripurna akan memperjuangkan aspirasi rakyat. Itu ada dalam sumpah. Namun faktanya, belum tentu dilakukan. Itu sangat disayangkan bila seperti itu. Itu sangat disayangkan, tapi kalau saya tidak bisa,? tuturnya.
Untuk permasalahan yang sering dihadapi dalam kesehariannya, ia menyebut program pemerintah yang tidak terakses masyarakat.
?Ini ada program pemerintah, kita sampaikan ke masyarakat. Masalahnya itu. Masyarakat enggan mengakses. Saya memaklumi ini karena Indonesia itu pernah dijajah Belanda sehingga sudah terbiasa dan jadi tidak mau berusaha. Misalkan, Pemerintah memberikan bantuan, tapi mereka tidak mau bikin proposal dan sebagainya. Padahal, bikin proposal itu berapa menit sih kalau memang niat, tapi tidak mereka lakukan. Kalau sudah begitu, kitalah yang membantu. Ini repotnya dan menjadi kesulitan bagi kami. Kesadaran masyarakat itu belum seperti negara-negara maju. Masyarakat belum bisa menyadari karena pendidikan politiknya masih rendah. Kalau kita bantu mengakseskan walaupun ini bantuan pemerintah, tapi tanpa ada masyarakat yang mengakseskan kan sulit. Masyarakat pun banyak yang punya penyakit lupa, yaitu setelah jatuh temponya pemilu, mereka disodori uang 20.000 saja, jasa kami kemaren dulu cukup besar dilupa begitu saja. Ini yang jadi permasalahan-permasalahan kami,? bebernya.
Pengangguran yang semakin bertambah banyak menjadi tantangan berat ke depan. ?Kita akan selalu memperjuangkan mati-matian karena masyarakat itu menjadi tanggung jawab Pemerintah. Jadi, kita juga perlu sadar asal daerah itu mampu, negara itu mampu. Itu memang harus masuk dalam UU dasar kita, baik itu pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan lain sebagainya. Itu harus menjadi tanggung jawab Pemerintah sepanjang mampu. Namun, sedikit demi sedikit kemampuan itu harus kita perjuangkan dari sekarang seperti Freeport yang sudah diambil alih oleh Pertamina dari tangan orang asing. Itu adalah bentuk-bentuk yang tujuannya memikirkan masyarakat,? jelasnya.
Ia pun membangun kebiasaan khususnya untuk mendukung pekerjaannya selama ini. ?Inginnya punya waktu yang bisa dibagi kepada masyarakat, baik dalam suka dan duka masyarakat. Keinginan khusus seperti bisa tertawa dan menangis bersama rakyat. Kalau ada waktu luang, malam pun saya turun ke pos-pos ronda yang sering ada orang ngomong-ngomong sekaligus bisa menyerap aspirasi programnya Pak Dukuhnya atau warga. Dari situ, kita tahu, oh ternyata programnya ini. Kalau kita mampu bantu, ya bantu,? tukasnya.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sleman ini pun merasa yakin bahwa bidang yang ditekuni saat ini penting dilakukan dan dibagikan ke masyarakat. ?InsyaAllah, saya bisa melakukan sepanjang kita itu selalu ingat untuk selalu tekun bekerja sesuai amanat rakyat karena sudah menjadi ucapan dan sumpah itu tidak main-main menurut saya. Sumpah itu disaksika forum yang hadir. Di samping itu, Tuhan juga menyaksikan. Namun, sekarang ini, melanggar sumpah itu dianggap biasa yang berarti dengan Tuhan pun tidak takut. Nah, kalau sudah seperti itu, negara ini sulit akan maju kalau orangnya sudah tidak takut kepada sang Penguasa,? ucapnya.
Pria kelahiran Sleman ini memberikan inspirasi dan sarannya kepada orang yang membaca kisahnya ini. ?Karena kemampuan negara itu belum mampu, istilahnya mengakses kepentigan-kepentingan masyarakat miskin khususnya, harapan saya bagi warga masyarakat yang punya penghasilan lebih disubsidi silangkan karena negara belum mampu menjangkau ke sana. Saran saya, sukses itu tidak bisa diperjuangkan secara pribadi, tapi harus ada pendukung yang lain. Kesuksesan itu paling tidak ditularkan kepada orang lain,? katanya.
Dikatakannya, ia akan memberikan hidupnya untuk rakyat kalau bisa berbagi suka dan duka bersama rakyat dan menangis bersama rakyat karena masih banyak rakyat yang terlantar dan belum banyak yang bisa memenuhi kebutuhan mereka.
?Masyarakat menghendaki saya untuk selalu menjadi wakil mereka karena apa ,karena saya selalu melakukan tugas saya. Menjadi wakil tidak boleh lupa dengan yang mendudukkan. Yang memilih saya itulah yang memotivasi saya. Prinsipnya, kalau orang Jawa mengatakan, Kacang Ojo Ninggal Lanjaran. Jangan sampai menjadi kacang lali kulite. Itu selalu saya pegang sehingga tidak atau jangan sampai kualat karena lupa,?paparnya.
Pengagum sosok Soekarno ini membocorkan project dalam waktu dekatnya dan impiannya ke depan.
?Dalam waktu dekat ini, terus bisa mengaspirasi masyarakat karena telah mendekati pemilu, sebab mempermudah apa yang bisa diakses masyarakat, nanti akan berdampak pada pemilu legislatif 2019. Saya punya rencana khusus, di samping berencana menjadi anggota dewan 2019, Saya ingin punya usaha nanti seandainya kalau tidak jadi dewan bisa menopang kelancaran hidup. Untuk APBD 2018, saya menekankan dan mohon dengan hormat kepada eksekutf agar anggaran publik lebih besar dibanding anggaran gaji pegawai. Itu yang saya sarankan pada saat rapat komisi dengan mitra APBD. Impian ke depan, hidup ini bisa bermanfaat bagi masyarakat itu impian saya. Semoga Tuhan juga selalu memberi kesehatan kesehatan kepada kami sekeluarga dan masyarakat DIY, khususnya itu. Keinginan saya tidak ada permasalahan-permasalahan yang istilahnya mengganggu kestabilan DIY,? pungkasnya.
