Bernas.id – Denny Henry Samboh menceritakan perjalanan karirnya dari bidang jurnalistik sekarang beralih ke dunia training dan HRD. Semua berawal dari rasa ?jatuh cintanya? dalam dunia mengajar. Pada suatu ketika, saat saya masih aktif sebagai jurnalis, ada salah satu dosen almamater kampusnya yang menghubunginya. Selain karena hubungan yang memang dekat, dosen tersebut menghubunginya dengan maksud untuk memintanya sharing pengalaman jurnalistik bagi adik-adik almamater kampusnya.
?Sejujurnya sempat menolak karena saya tidak biasa berbicara di depan orang banyak dan di depan forum. Biasanya, saya hanya head to head interview dengan narasumber. Sampai mantan Presiden (Alm Gusdur) juga saya pernah dan buat saya itu biasa, wawancara tokoh-tokoh, menteri, itu biasa. Tapi, ini diminta berbicara di depan kelas, saya langsung menolaknya. Tapi dosen saya tetap memaksa dan meyakinkan saya bahwa saya harus dapat berbagi pengalaman saya dalam bekerja sebagai jurnalis. Karena itu yang paling dibutuhkan oleh teman-teman mahasiswa. Contoh nyata di kehidupan pekerjaan. Singkat cerita akhirnya, saya menerima kesempatan tersebut dan memang seperti yang sudah saya prediksi saya pasti akan sangat grogi,? ungkapnya ke Bernas.
Alhasil, 10-15 menit awal, ia mengaku sangat grogi, bahkan muncul keringat sampai sebesar biji jagung.
?Nervous luar biasa. Namun, berangsur menghilang, setelah saya mulai fokus kepada wajah teman-teman mahasiswa yang sedang mendengarkan saya bercerita, bahkan ada yang mulai bertanya. Di situlah menjadi titik balik ?kecintaan? saya kepada dunia mengajar. Mulai saat itulah saya mulai membekali diri dengan beberapa sertifikasi dan pendidikan lanjutan, untuk bekal saya mengajar. Kemudian, karena mengajar waktunya belum banyak, jadi saya berpikir mencari pekerjaan professional yang tidak jauh dari kegiatan mengajar. Akhirnya, saya memberanikan diri mencari dan melamar pekerjaan sebagai seorang trainer dan berlanjut sampai sekarang. Karena training/people development di beberapa perusahaan termasuk dalam area HRD, saya juga banyak belajar mengenai dunia HR sambil juga mengambil sertifikasi mengenai dunia HRD di beberapa training yang saya ikuti,? tuturnya.
Dikatakan alasan lain kenapa cinta mengajar, ia menjawab karena sebelum mengajar, ia wajib belajar. Sebelum memberikan sesuatu, ia harus memastikan dirinya tidak ?kosong?, jadi ia harus mendorong dirinya untuk belajar, menggali lebih dalam lagi apapun materi atau topik yang ingin dibagikan. Untuk pengalaman unik, ketika menjadi trainer / HRD di perusahaan, ia pernah mendapatkan tugas untuk pengurangan karyawan kurang lebih 40% dari karyawan yang ada. Kebanyakan masa kerja mereka juga sudah jauh lebih lama daripada dirinya di perusahaan tersebut.
?Walaupun ada hak yang harus dibayarkan, tetapi terkena pengurangan mendadak pasti akan sangat mengejutkan bagi semua orang. Kembali lagi dasarnya, bagaimana mengkomunikasikannya. Bahkan banyak yang sudah belasan, puluhan tahun mengabdi di perusahaan tersebut, sedangkan saya baru 4 bulan bekerja di perusahaan itu. Namun, keputusan manajemen tetap harus dilaksanakan demi menyelamatkan ?perahu? yang lebih besar,? bebernya.
Stress dalam mengelola waktu dalam bekerja menjadi permasalahan yang paling sering dihadapi dalam pekerjaannya. ?Yang paling sering saya hadapi, sangat klasik, yaitu stress, kebanyakan stress dalam mengelola waktu dalam bekerja. Selalu yang saya lakukan ketika menghadapi kondisi stress tersebut, selain datang kepada si pemilik hidup (Tuhan), saya juga mendapatkan kesempatan untuk membuktikan setiap ilmu, pengetahuan, skills yang saya miliki. Saya dituntut tidak hanya bisa mengajarkan mengenai time management kepada orang lain, tetapi saya justru tertantang untuk melakukan apa yang akan saya share-kan tersebut. Semakin mengasah juga skills saya, kemampuan untuk self-hipnosis, menyugestikan ke dalam diri sendiri hal-hal yang super positif,? katanya.
Perkembangan teknologi pun diakuinya menjadi tantangan ke depannya dalam pekerjaannya. ?Saya melihat lebih kepada perkembangan teknologi. Di satu sisi, bisa sangat positif membantu, tetapi juga tidak sedikit yang justru menjadi menggeser nilai-nilai atau fungsi komunikasi antarpribadi secara langsung. Karena semua hal yang saya kerjakan sekarang semua muaranya adalah bagaimana kekuatan / kemampuan komunikasi harus tetap dijalankan. Media sosial memang sangat bisa membantu asalkan tepat menggunakannya. Selayaknya pisau, bisa memotong sayuran untuk dapat menyiapkan masakan yang lezat atau bisa juga dipakai untuk mengancam kenyamanan hidup orang lain,? terangnya.
Ia pun meyakini bidang pekerjaannya ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. ?Buat saya, apapun yang kita lakukan dalam hidup ini harusnya berdampak bagi masyarakat luas. Tentunya, dampak positif, yang membangun serta menumbuhkan. Selagi saya masih diberikan kekuatan, napas hidup dan akal yang sehat, saya mau terus berkontribusi bagi sekitar saya minimal, syukur-syukur bisa diteruskan lagi untuk banyak orang,? katanya.
Trainer ini juga membangun habit khusus selama ini untuk mendukung pekerjaannya. ?Balance of life. Semua bagian harus seimbang dalam hidup ini. Bagian Ibadah, kerja, sosialisasi, olahraga, makan, semua harus seimbang dan saya terus mencoba belajar melakukannya. Untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja, pertama, mendengar musik. Musik adalah bahasa internasional. Untuk jenis musik, kebetulan telinga saya bisa mendengarkan segala jenis musik, tapi kalau yang paling saya sukai ya Jazz.Kedua, berpikir positif. Berpikir postif akan menghasilkan tindakan positif,?ucapnya.
Human Capital, Communication & Soft Skills Specialist ini memberikan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ?Lakukan apapun pekerjaan kita untuk mendatangkan kebaikan buat orang lain, bukan untuk diri sendiri. Karena jika memang yang kita kerjakan itu untuk kebaikan orang lain, saya sangat yakin pasti akan berdapak super positif untuk diri kita sendiri. Kebaikan disini maksudnya adalah; berdampak positif, ber-efek positif. Untuk saran, tentukan dulu skala dan tolak ukur kesuksesan kita masing-masing. Karena buat saya pribadi, kesuksesan tidak hanya diukur dari materi saja. Ketika saya melihat orang lain lebih bahagia/senang/gembira, berubah menjadi lebih positif aspek2 hidupnya karena hasil pekerjaan kita, disitulah tolak ukur kesuksesan saya,?tukasnya.
Lingkungan pun diakuinya memengaruhinya hingga menjadi seperti sekarang karena ia percaya dengan pepatah yang mengatakan, ?Jangan Main Api Kalau Takut Terbakar. Jadi, ia sangat bersyukur tumbuh dan berada di lingkungan-lingkungan yang positif, baik itu di lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan pekerjaan. Kita sebagai manusia juga dianugerahi oleh Tuhan kemampuan untuk menilai dan memfilter segala aspek yang akan masuk ke dalam kehidupan kita. Untuk project dalam waktu dekat, ingin memiliki sendiri konsultan komunikasi (training dan hypnotherapist) yang berbadan hukum. Impian terbesar ke depannya, memiliki keturunan dan melihat mereka tumbuh dewasa bahagia dan yang terpenting bermanfaat bagi keluarga terlebih masyarakat luas,? pungkasnya.
