Bernas.id – Inco Hary Perdana, SIKom, MSi, mulanya tidak pernah terpikirkan menjadi dosen. Namun, karena beberapa kali diundang banyak kampus untuk sharing tentang industri periklanan, ia menjadi merasa sangat tertarik, lalu merasa tertantang karena melihat banyak sekali gap antara apa yang diajarkan di kampus dengan apa yang dibutuhkan di industri. “Akhir tahun 2009, saya resign dari advertising agency tempat saya bekerja saat itu. Salah satu alasan yang paling kuat adalah jenuh dan capek dengan klien saat itu. Tekanannya cukup berat sehingga saya akhirnya memutuskan mundur, beristirahat dari advertising agency untuk berpikir ulang tentang karir saya di industri tersebut. Januari 2010, saya tidak bekerja selama sebulan. Untuk keperluan sehari-hari, saya menghabiskan uang dari gaji terakhir dan THR Natal 2009, serta uang Jamsostek yang saya cairkan. Saat itu, saya sudah menikah dan istri saya sedang hamil 8 bulan. Syukurnya, istri saya juga bekerja sehingga masih bisa menutupi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya ke Bernas.
Baca juga: Apa Itu Jurusan Sistem Informasi? Inilah Mata Kuliah dan Prospek Kerjanya
Februari 2010, istrinya melahirkan anak pertamanya. Saat itu, ia justru bersyukur sudah tidak bekerja di advertising agency lagi karena dapat menemani secara penuh proses kelahiran anaknya dan mendampingi istri selama tinggal di rumah sakit. Jika masih bekerja di advertising agency, ia yakin tidak akan mungkin bisa seperti itu karena pasti tuntutan pekerjaan yang banyak menyebabkannya untuk lembur dan lebih banyak di kantor. “Di bulan Februari 2010 pula, saya ditelpon oleh kawan lama saya dan diajak mengajar di UMN untuk Mata Kuliah TV Commercial. Saya langsung iyakan dan setelah melalui proses rekruitmen, saya mulai bergabung menjadi dosen part-time di UMN dan mengajar seminggu sekali. Di saat yang bersamaan, saya juga mendapatkan tawaran untuk mengajar Creative Advertising di IDS – International Design School. Saya juga mengajar sebagai dosen part-time di tempat tersebut,” tuturnya.
Bulan Mei 2010, ia sempat menjadi Art Director freelancer di salah satu multinational advertising agency untuk mengerjakan sebuah pitching produk telco. Beberapa hari, ia pun terpaksa pulang pagi dalam pekerjaan tersebut. “Saat itulah saya sadar bahwa saya sudah tidak mau lagi bekerja dengan ritme kerja seperti itu lagi. Saya menyerah dan akhirnya memilih untuk benar-benar keluar dari industri periklanan dan masuk dalam dunia pendidikan sebagai dosen. Saya juga bersyukur, di tahun 2010 setelah tidak lagi bekerja di advertising agency saya akhirnya bisa melanjutkan studi S2 saya. Saya rasa akan sangat sulit melanjutkan studi S2 jika saya masih bekerja di advertising agency,” katanya.
Baca juga: Inilah 5 Universitas Jurusan Sistem Informasi Terbaik di Indonesia
Untuk pengalaman unik di pekerjaan sebagai dosen, ia menceritakan banyak hal seru. “Sebagai dosen banyak sekali pengalaman unik dan seru. Saya berhubungan dengan millennials yang secara generasi sudah berbeda dengan saya yang merupakan generasi-x. Saya juga harus berhubungan dengan para orangtua, harus berhubungan dengan masalah-masalah remaja di luar masalah akademik. Saya belajar banyak dari hal tersebut. Pernah ada kejadian, orangtua datang ke kampus mencari anaknya yang kabur dari rumah. Orangtua menyangka hal tersebut karena masalah skripsi anak tersebut, tapi ternyata diketahui kemudian mahasiswa tersebut kabur dari rumah karena masalah lain,” ucap ceritanya.
Kecintaannya terhadap dunia iklan memang tidak diragukan. Inilah juga yang membuatnya untuk terus menekuni pekerjaan di bidang yang berkaitan dengan iklan, termasuk pekerjaannya sebagai dosen. “Saya cinta dengan iklan semenjak saya kuliah S1 di periklanan. Sejak itu, saya selalu bekerja dalam industri periklanan. Saat ini, setelah menjadi dosen, saya juga mengajar mata kuliah yang berhubungan dengan iklan-tidak jauh-jauh dari pengalaman saya selama menjadi praktisi di industri periklanan. Saya ingin suatu saat gap antara dunia pendidikan dengan kebutuhan di industri semakin kecil. Saya ingin nantinya mahasiswa ketika lulus langsung bisa siap kerja karena bagi saya kampus harus menjadi sebuah simulasi industri tempat bekerja nantinya,” tukasnya.
Untuk permasalahan yang dihadapi dalam pekerjaan, ia menyebut tidak mudahnya untuk mencari cara mengajar generasi millennials yang sangat berbeda ketika ia kuliah dulu. ”Cara mengajar millennials justru berbeda dengan saat saya kuliah dulu. Sekarang millennials cepat bosan, gampang terganggu smartphone, dan cukup vokal. Kalau cara mengajar saya nggak menarik tentu mereka akan meninggalkan ruangan, ya pura-pura ke WC-lah atau izin ini dan itu. Oleh karena itu, saya mesti berpikir kreatif bagaimana mengajar dan menarik perhatian para millennials ini. Saya justru banyak memanfaatkan social media dalam tugas-tugas dan latihan. Jadi mereka menggunakan smartphone mereka di kelas justru dalam rangka belajar, bukan cuma main,” paparnya.
Baca juga: 13 Universitas Jurusan Akuntansi Terbaik Indonesia dan Luar Negeri
Diungkapkannya, tantangan pekerjaan ke depannya adalah bagaimana bisa menghasilkan lulusan yang siap bekerja dan sesuai dengan kebutuhan industri yang begitu dinamis. “Hal ini akan menjadi tantangan terus-menerus karena kebutuhan industri yang begitu cepat berubah, tapi kurikulum tidak bisa selalu direvisi. Artinya, sebagai dosen harus visioner yang berpikir ke depan. Misalkan apa yang 5 tahun ke depan akan sangat dibutuhkan oleh industri, nah itulah yang dijadikan sebagai pengembangan kurikulum,” bebernya.
Ia pun meyakini bidang pekerjaannya ini penting dibagikan dan dilakukan untuk masyarakat. “Saya percaya ketika kualitas dan tingkat pendidikan sebuah negara meningkat maka bangsa tersebut akan menjadi lebih maju. Kalau pendidikan rendah kualitasnya ya sulit bagi sebuah bangsa untuk maju. Makanya saya yakin ini merupakan salah satu ‘jihad’ saya, mempersiapkan generasi muda penerus bangsa. Menjadikan bangsa ini lebih baik pada masa yang akan datang. Selain itu, untunglah kampus saya cukup menghargai profesionalisme saya sebagai dosen sehingga bisa hidup layak dan fokus pada profesinya,”jelasnya.
Baca juga: Inilah 6 Sertifikasi Akuntansi Bagi Profesi Akuntan di Indonesia
Dosen ini memberikan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. “Jalani saja hidup ini. Saya percaya Tuhan nggak akan membuat kita kekurangan. Tuhan selalu tahu apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan ya. Percaya saja kalau kita mendapat sesuatu yang buruk, pasti akan ada suatu hal yang jauh lebih baik yang telah disiapkan oleh Tuhan. Untuk saran, Ora et Labora et Ludere, Berdoa, Bekerja, dan Bermain. Main itu penting untuk menjaga kewarasan,” terangnya.
Ketua Program Studi Komunikasi Strategis Universitas Multimedia Nusantara ini membocorkan rencana dalam waktu dekat dan impiannya ke depan. “Untuk project, tahun depan, saya berencana melanjutkan studi S3 dalam bidang ilmu komunikasi, di dalam negeri. Untuk impian ke depannya, saya punya mimpi, suatu saat nanti sekolah komunikasi di Indonesia bisa menjadi rujukan negara-negara lain, minimal Asia Tenggara. Sistemnya tentu banyak perlu dibenahi. Selain itu, fasilitas terutama laboratorium penunjang kuliah juga perlu direvitalisasi. Ke depannya, sistem pendidikan online tidak akan bisa dihindari. Jika semua bisa online, apa gunanya lagi sistem pendidikan tatap muka di kelas? Justru yang menjadi pembeda adalah sistem laboratorium yang terintegrasi dan menjadi penunjang perkuliahan,” pungkasnya.
Baca juga: Daftar Universitas Kuliah Jurusan Bisnis Manajemen di Indonesia
