Bernas.id – Indonesia yang mempunyai jumlah penduduk sekitar 261 juta jiwa, merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-empat di dunia. Di bawah China, India dan Amerika. Namun sangat disayangkan dengan jumlah penduduk sebesar itu rasanya sulit untuk menemukan 11 pemain sepakbola kelas dunia. Bahkan 5 tahun terakhir muncul pemain naturalisasi alias pemain asing atau keturunan yang beralih menjadi warga negara Indonesia.
Beberapa tahun belakangan ini muncul harapan baru dari Timnas U-19. Adalah Indra Sjafri yang memunculkan harapan baru tersebut dengan membawa Timnas U-19 menjadi juara AFF ditahun 2013. Bak mendapatkan air di padang pasir, Indonesia yang sudah lama haus gelar sukses menjadi kampiun dengan mengalahkan Vietnam dengan adu tendangan pinalti dengan skor 7-6. Seakan melepas kutukan selalu gagal di final sejak tahun 2000. Angka 13 yang biasanya dianggap angka sial kini menjadi angka hoki.
Harapan besarpun kembali booming. Satu tahun berikutnya Timnas U-19 ditargetkan untuk masuk ke dalam 4 besar dalam ajang Piala AFC U-19 2014 yang menjadi tiket untuk ikut serta dalam gelaran Piala Dunia 2015. Namun bukannya memenuhi target, U-19 malah menjadi bulan-bulanan 3 negara penghuni grup yaitu Uzbekistan, Australia dan Uni Emirat Arab. Indonesia pulang dengan raihan nol poin. Nampaknya muncul kembali generasi emas seperti Timnas arahan Sinyo Aliandoe tahun 1986 yang hampir meloloskan Indonesia pentas di Piala Dunia, untuk sementara harus disimpan.
Di tahun ini harapan itu muncul kembali. Egy Maulana Vikry dan kawan-kawan, mampu menunjukkan permainan yang berkualitas. Walaupun pada helatan Piala AFC U-19 2017, Indonesia hanya menempati posisi ke tiga, namun permainan Timnas jauh diatas rata-rata Negara lain di kawasan Asia Tenggara. Terbukti dengan produktivitas gol yang mencapai 26 gol dan hanya kemasukan satu gol. Ditambah Timnas U-19 mampu melumat Juara Piala AFF U-19 2017, Thailand. Tidak tanggung-tanggung, tiga gol digelontorkan tanpa balas.
Agaknya tidak berlebihan jika masa depan sepakbola Indonesia dibebankan pada mereka. Hanya saja butuh konsistensi terus menerus dari semua pihak untuk mendukung kesuksesan anak-anak muda harapan bangsa Indonesia. Dengan cara memfokuskan energi mereka untuk meningkatkan kemampuan ditingkat tertinggi. Dan mereka tidak dilibatkan dengan kepentingan jangka pendek terlebih yang bersifat komersial. Hasilnya akan dirasakan lima sampai sepuluh tahun kemudian. Harapan Indonesia untuk tampil di Pentas Dunia akan menjadi kenyataan.
