Bernas.id – Liliana Lyn Wong menyebut dirinya sebagai pribadi yang keras terhadap dirinya sendiri. Dulu, ketika remaja usia 15 tahun, ia sering pingsan di sekolah jika kelamaan berdiri dan sering terkena sakit kepala karena terlalu keras terhadap dirinya sendiri.
?Saat itu, saya selalu ingin menjadi nomor satu dan berusaha keras untuk mewujudkan itu dengan keterbatasan waktu di mana sejak kelas 1 SPG saya sudah membiayai sendiri sekolah saya dengan memberikan bimbingan belajar sehingga waktu setelah pulang sekolah saya lewatkan untuk membimbing murid-murid yang dipercayakan kepada saya dengan sepenuh hati dan baru malamnya saya bisa menyempatkan diri untuk belajar sampai larut malam dan subuh-subuh saya sudah bangun untuk belajar lagi. Praktis jam istirahat saya menjadi sangat kurang (kurang dari 5 jam). Saat itu, saya periksa ke dokter dan dokter menyarankan saya untuk periksa EEG dan hasilnya saya normal dan dokter menyarankan untuk saya lebih menyempatkan diri untuk istirahat sampai memberikan saya valium. Tapi, obat itu tidak saya beli karena saya takut jadi ketergantungan,? ungkapnya ke Bernas.
Dikatakannya, persitiwa itu menjadi titik balik kehidupannya yang kemudian membuatnya untuk lebih banyak bersyukur dan mengimbangi otak kirinya dengan memberi kesempatan pada dirinya untuk rileks dan kadang di sela waktu senggang, ia pergi ke Wiyata Guna Bandung sebagai reader, pembaca buku untuk para tunanetra.
Diakuinya, terkadang bersama mereka para tunanetra, ia bisa menyanyi atau sekedar ngobrol dan bercanda ria mengembangkan sense of humornya. Kegiatan ini barangkali terpantik dari cita-citanya masa kecil yang ingin menjadi dokter jiwa. Ya, sejak kecil, ia memang sering merasa iba bila melihat orang-orang yang dalam kesusahan, tertekan jiwanya.
Kini ia aktif menjadi trainer softskills dan mendirikan perusahaan dengan nama PT Achievement Resources Solusindo dengan websitenya di www.cien-resources.com. Juga sebagai Ketua III bidang pemasaran Yayasan IndHRI (Indonesia Human Resources Institute), yayasan yang bergerak di bidang pembekalan para HRD Supervisor dan Manajer untuk bisa kompeten di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia.
Ketika bertemu dengan peserta yang merasa mentok di karir menjadi salah satu pengalaman uniknya di pekerjaan. ?Peserta yang merasa mentok di karir itu akhirnya bisa bangkit, bahkan kemudian dipromosikan menjadi manager, bahkan sempat bertemu peserta yang ?Trouble Maker? di pekerjaannya, tetapi setelah ikut pelatihan saya, di mana saya ajak simulasi, role play, dan saya berikan personal ?touch?, akhirnya peserta ini berubah drastis sampai-sampai direktur perusahaan tersebut kagum melihat perubahan yang signifikan orang tersebut sehingga ketika beliau pindah ke grup perusahaan lain, HRD Manager perusahaan tersebut diminta untuk mencari saya dan memberikan training dengan topik yang sama untuk level supervisor dan managernya. Bidang ini adalah passion saya. Melihat orang berubah hidupnya jadi lebih baik, lebih bahagia, lebih produktif dan tidak berada terlalu lama di zona nyaman membuat saya ada kepuasan tersendiri. Saya bisa mengaktualisasikan diri saya dan peserta saya pun bisa memiliki harga diri yang meningkat, pengetahuan dan ketrampilan bertambah, serta sikap yang berubah ke arah yang positif,? tuturnya.
Untuk permasalahan yang paling sering dihadapi, ia menyebut tidak ada permasalahan yang berat karena semua mudah dan bisa diatasi. Pernah di awal memulai bisnis ini, ia terlalu percaya pada mitranya dan ternyata mereka low komitmen, kerjaan belum selesai minta bayaran dulu dan ia tidak berpikir macam-macam karena selalu full komitmen mengerjakan tugas-tugasnya. Ia penuhi keinginan mereka, tetapi setelah itu, mereka menghilang dan tidak menuntaskan pekerjaan mereka. Ketika diminta pertanggungjawabannya, mereka, satu sama lain saling lempar tanggung jawab. Sejak kejadian itu, ia lebih berhati-hati dan baru lakukan pembayaran kalau sudah tuntas pekerjaan yang harus diselesaikan. ?Untuk tantangan ke depannya, persaingan semakin kompetitif dengan lembaga-lembaga mancanegara, jadi kita harus lebih kompak dan bisa bersinergi dengan lembaga-lembaga lain. Untuk saya pribadi, harus terus meningkatkan kompetensi saya dan adding value setiap tahun saya berinvestasi diri saya dengan ikut pelatihan-pelatihan yang bisa mendukung bisnis saya agar semakin berkembang,? bebernya.
Ia pun meyakini bidang pekerjaan yang dilakukan ini penting dilakukan dan dibagikan ke masyarakat. ?Kita memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean dan tiga tahun lagi era globalisasi. Masyarakat harus dipersiapkan untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat, mereka harus terdidik dan terlatih. Oleh karena itu, saya dan teman-teman senior mendukung Kementrian Tenaga Kerja dalam upaya peningkatan kualitas SDM Indonesia. Kita mau bukan hanya TKI di sektor informal saja yang dikirim oleh Indonesia, tetapi tenaga terdidik dan terlatih di berbagai bidang seperti kesehatan, pelayanan masyarakat, pertambangan, dan sebagainya. Kami melakukan sosialisasi ke kampus dan sekolah-sekolah supaya mereka sadar bahwa saat ini bukan lagi saatnya untuk bersantai, tetapi harus bekerja keras supaya mereka kompeten di bidang masing-masing dan terus meningkatkan daya saing mereka agar semakin diperhitungkan,? paparnya.
Trainer Softskills ini membocorkan inspirasi dan sarannya kepada orang yang membaca kisahnya ini. ?Jadikan setiap hari yang kita jalani adalah momen yang penting bagi diri sendiri, bagi sekeliling kita, dan jangan lupa untuk menyenangkan hati sang Pencipta sehingga berkat yang luar biasa kita dapatkan. The more you give, the more you receive. Berikan yang terbaik dulu, suatu saat Anda pasti dapat yang terbaik. Pepatah orang bijak katakan, bermimpilah setinggi mungkin seakan dirimu hidup seribu tahun lagi, tetapi berbuat baiklah seakan hidupmu tinggal sehari lagi. Untuk saran, berani berjuang untuk meraih apa yang diidam-idamkan, jangan mau meraih dengan cara instan, tapi jalani setiap proses supaya kita benar-benar bisa menghayati dan mendapatkan banyak pembelajaran dalam setiap proses kesuksesan itu,? katanya.
Diakuinya lingkungan memengaruhi dirinya hingga menjadi seperti sekarang ini. Baginya, lingkungan pertemanan itu seperti eskalator yang bisa membawa kita naik atau sebaliknya. ?Menjadi apa Anda selain tergantung pada diri Anda sendiri juga tergantung dengan siapa Anda banyak berinteraksi. Saya bergabung dengan banyak komunitas positif sehingga positif pula hasilnya. Contoh di IndHRI saya bergabung dengan banyak senior-senior HR yang hebat-hebat sehingga kita pun bisa belajar dari senior kita, di Lions Club, komunitas sosial yang saya ikuti, di mana saya menjadi ketua (presiden) klub saya banyak bertemu orang-orang yang hebat secara posisi dan finansial, tetapi mereka tidak pernah menyombongkan diri mereka dan status sosial mereka sehingga menyenangkan berinteraksi dengan mereka apalagi ketika kita berbaur jadi satu dalam kegiatan sosial untuk anak yatim piatu, orang-orang jompo, atau korban kebakaran/bencana alam. Sangat menyenangkan bersama mereka sehingga kita selalu bisa positif,? urainya.
Penyuka hobi traveling ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impiannya ke depan. ?Dalam waktu dekat, saya akan memulai bisnis baru yang sesuai dengan hobi saya karena saya ingin bisa mewariskan sesuatu bagi anak-anak saya dan project sertifikasi MSDM. Saya juga berencana agar anak-anak saya bisa melanglang buana untuk meraih impiannya. Untuk impian saya terbesar, ingin melihat SDM Indonesia lebih diakui keberadaannya dan saya bisa menjadi salah satu kontributor dengan kompetensi yang saya miliki serta bisa banyak membantu anak-anak tidak mampu untuk bisa memasuki pendidikan tinggi dengan menggalang dana dari berbagai komunitas dan pemerintah serta swasta,? pungkasnya.
