Bernas.id – Buddha berkata, ?Para bhikhu, saya akan mengajar kalian perihal sifat orang yang tidak mempunyai integritas dan kualitas orang yang mempunyai integritas. Dengarkan dan perhatikanlah baik-baik apa yang saya sampaikan.?
?Baiklah, Bhagava,? jawab para bhikhu.
Buddha kemudian berkata, ?Apakah sifat orang yang tak mempunyai integritas? Seseorang yang tak berintegritas, dia tidak berterima kasih dan tidak bersyukur. Rasa tidak berterima kasih ini, rasa tidak bersyukur ini, dilakukan oleh orang-orang yang tidak beradab. Ini sepenuhnya adalah sifat dari orang-orang yang tak berintergitas.
Seseorang yang mempunyai integritas, dia berterima kasih dan bersyukur. Rasa berterima kasih ini, rasa bersyukur ini, dilakukan oleh orang-orang yang beradab. Ini sepenuhnya adalah sifat dari orang-orang yang mempunyai integritas. ?
Kunyatakan, O, para bhikhu, ada dua orang yang tidak pernah dapat dibalas budinya oleh seseorang. Apakah yang dua itu? Ibu dan Ayah.
Bahkan seandainya seseorang memikul ibunya ke mana-mana di satu bahunya dan memikul ayah di bahu yang lain, dan ketika melakukan ini dia hidup selama seratus tahun, mencapai usia seratus tahun; dan seandainya saja dia melayani ibu dan ayahnya itu dengan meminyaki mereka, memijit, memandikan, dan menggosok kaki tangan mereka, serta membersihkan semua kotoran mereka di sana, perbuatan itupun belum cukup, dengan semua itu dia belum dapat membalas budi ibu dan ayahnya.
Bahkan seandainya saja dia mengangkat orangtuanya sebagai raja dan penguasa besar di bumi ini, yang sangat kaya-raya dalam tujuh macam harta, dengan itu dia masih belum berbuat cukup untuk mereka, dia belum dapat membalas budi mereka.
Apakah alasan untuk hal ini?
Oleh karena orangtua telah berbuat sangat banyak untuk anak mereka: mereka membesarkannya, memberi makan dan membimbingnya melalui dunia ini.
Akan tetapi, O, para bhikhu, seseorang yang mendorong orangtuanya yang tadinya tidak percaya, membiasakan dan memantapkan mereka di dalam keyakinan;
yang mendorong orangtuanya yang tadinya tidak berkebajikan, membiasakan dan memantapkan mereka di dalam kebajikan;
yang mendorong orangtuanya yang tadinya kikir, membiasakan dan memantapkan mereka di dalam kemurahan hati;
yang mendorong orangtuanya yang tadinya bodoh batinnya, membiasakan dan memantapkan mereka di dalam Kebijaksanaan –
maka orang seperti itu,
O, para bhikhu, ia telah berbuat cukup untuk ibu dan ayahnya: ?dia telah membalas budi mereka, ?dan bahkan lebih dari membalas budi atas apa yang telah mereka lakukan.
?—Katannu Sutta (AN 2. 31) (AN 2. 32); bisa dilihat juga:
MN 110; SN 7.14; AN 4.73; Iti 106.
Nasehat Buddha tersebut mengatakan bahwa kita tak bisa membalas hutang budi kita ke orangtua dengan segala harta, kekuasaan, ataupun nikmat indrawi; akan tetapi, apabila kita bisa mendorong dan memantapkan orangtua ke dalam pemahaman, kebajikan, kemurahan hati, dan kebijaksanaan, maka kita sudah membalas dengan cukup, dan bahkan lebih. Ini sungguh sebuah strong words yang tidak terlalu lazim bagi orang umum, bahwa harta, kekuasaan, dan nikmat indrawi itu levelnya jauh lebih rendah dibanding terbitnya pemahaman, kebajikan, kemurahan hati, dan Kebijaksanaan?
Buddha Dharma jelas tidak anti harta, kekuasaan, ataupun nikmat indra atau ragawi. Harta, kekuasaan, dan kesejahteraan ragawi apabila dikelola dengan arif tentu saja akan bisa memberi banyak manfaat bagi banyak makhluk. Namun tidak mandeg di situ, Buddhisme mengarah ke aspirasi yang lebih tinggi, yakni kebahagiaan sempurna. Batin pribadi yang bahagia adalah kaya dan berkepenuhan, ia jelas sudah tak lagi haus menimbun, menguasai, atau apalagi merugikan liyan; ia murah hati, longgar, ingin membantu dan tak terobsesi dengan kenikmatan pribadi. Kebahagiaan sempurna hanya bisa direalisasi lewat kebijaksanaan. Buddhisme adalah Jalan Kebijaksanaan.
Harta, kekuasaan, ataupun nikmat indrawi, selalu dilihat dalam perspektif: apa manfaatnya? Apakah bisa membawa kebahagiaan?
Manusia punya kapasitas yang lebih luhur ketimbang binatang yang orientasinya cuma soal nyaman, aman, dan sex semata. Manusia mampu memahami bahwa harta, kekuasaan, dan nikmat ragawi itu terbatas, tak dapat diandalkan (anicca), tak mampu benar-benar tulen memberi kepenuhan total (dukkha).
Buddhist tujuannya adalah untuk tercerahkan sempurna, merdeka dari segala belenggu tubuh dan pikiran. Lewat praktik meditasi, sebelum seseorang tercerahkan, dia akan mengalami kemanunggalan. Tubuh dan pikiran, hingga seluruh alam semesta manunggal. Manunggal artinya bukan dari beberapa hal menjadi satu, akan tetapi bahwa tiada lagi resistensi ataupun kemelekatan terhadap tubuh dan lingkungan. Rasa berhadap-hadapan dengan liyan, bahkan dualitas aku di sini dengan liyan di luar sana, telah luruh. Semuanya sebagaimana adanya, serba selaras sehingga dinamakan manunggal (unified).
Jauh sebelum mencapai keadaan selaras total ini, tentu saja seseorang butuh punya pemahaman, kemantapan, melatih kebajikan, kemurahan hati, meditasi dan Kebijaksanaan.
Demikianlah perspektif dari ujaran Buddha.
Oleh: Agus Santoso
Ketua Majelis Buddhayana Indonesia DIY
