Bernas.id – Bonek, istilah yang sontak akan membawa pikiran kita kepada suporter kesebelasan sepakbola Persebaya. Yere Agusto, kebetulan berasal dari Surabaya, walaupun tak pernah menonton satu pun pertandingan Persebaya langsung di stadion, layak disebut juga bonek alias bondo nekad. Hanya bermodalkan kenekadan sanggup meraih hal-hal yang belum tentu bisa diraih oleh kebanyakan orang.
Bayangkan saja, tak memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik dan Sastra Indonesia, tapi pernah menjadi jurnalis, editor, bahkan pemimpin redaksi. Pernah bekerja sebagai desainer grafis, tapi tak pernah menuntut ilmu desain komunikasi visual sampai tuntas di perguruan tinggi. ?Saya selalu berusaha menjawab bisa, ketika ada klien atau atasan yang memberikan tantangan untuk mengerjakan pekerjaan yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Saya menganggap itulah kesempatan saya untuk belajar hal-hal yang belum saya ketahui,? ungkapnya ke Bernas (27/9).
Jawaban untuk selalu bisa tersebut jugalah yang membawa Yere Agusto terjun ke dunia media massa selama 13 tahun. Ketika itu, tahun 2000, seorang pemilik Yayasan Misi mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ia bisa membuat buletin? Ia pun membuktikannya dengan menyusun buletin itu sendirian. Hebatnya, perannya sebagai pemimpin redaksi, editor, jurnalis, desainer grafis, layouter, marketing iklan, distributor, semuanya dilakoni sendiri. Setelah itu berturut-turut, ia berkiprah di buletin Garis Depan, Warta FA, buletin Attitude, tabloid MyPet. Lalu, sempat menerbitkan majalah komputer Click.
Dikatakannya, istrinya, Diyan Pramudya disebut sebagai sosok yang paling mendukung kariernya sebagai penulis sekaligus komikus dan kartunis. Pengagum penulis JK Rowling dan Sidney Sheldon ini, bersama dengan istrinya, pernah membangun dua perusahaan advertising. Sempat memberikan penghasilan yang lumayan hingga meredup pada tahun 2013. Saat ini, selain berkarya dibidang literasi, ia memiliki Ruko Hawila yang bergerak di bidang grosir krupuk dan snack, serta perusahaan properti, PT Soli Deo Gratia Interland, yang beroperasi di Kota Tabanan, Bali. Untuk novel pertamanya, Cinta Satu Mantra telah diterbitkan Great Publisher, Yogyakarta tahun 2013. Pada tahun yang sama, seri cerita bergambar (cergam) Nea, Petualangan Bintang Kecil, volume 1-4 juga diterbitkan. Saat ini, sudah delapan bukunya diterbitkan penerbit. Satu bukunya berjudul The Slippy Naughty Monkey akan diterbitkan dalam bentuk digital di Amazon.com.
Titik balik dalam kehidupannya terjadi ketika ia memutuskan untuk kembali terjun dalam bidang desain grafis pada tahun 2001. Setelah sebelumnya, absen selama kurang lebih empat tahun. Ketika sedang merenungkan masa depannya yang tidak jelas arahnya, ia merasakan dorongan kuat dalam pikirannya untuk kembali mencari pekerjaan sebagai desainer grafis. ?Tidak pernah pegang komputer grafis selama 3-4 tahun sempat membuat saya gamang. Mampukah saya bekerja sebagai desainer grafis lagi? Tapi tak lama setelah itu, tiba-tiba kakak pertama saya datang ke rumah dan memberi uang sebesar tiga puluh ribu rupiah. Uang itu saya belikan tiga buah buku komputer: CorelDraw, Adobe PhotoShop dan Adobe PageMaker. Kemudian, setiap hari saya berkunjung ke rumah Paman di daerah Dupak, Surabaya sejauh tujuh kilometer dari rumah untuk pinjam komputer sebagai sarana belajar. Usai kembali menguasai komputer grafis, saya melamar kerja di sebuah perusahaan Konsultan SDM. Jadilah, saya desainer grafis lagi,? cerita kenangnya.
Banyak pengalaman unik yang dialami ketika menekuni dunia literasi. Suatu ketika, pernah ada buku cergam yang telah lewat masa kontrak penerbitannya. ?Saya pikir karena sudah dua tahun, maka cergam berjudul Mimpi Uro itu tak jadi diterbitkan. Lalu, saya berniat merevisinya karena menurut saya gambarnya bisa dibuat lebih menarik. Tapi, tak lama kemudian, ketika saya berjalan-jalan di toko buku, eh ternyata cergam itu terpajang di sana. Pengalaman unik lain adalah ada teman-temannya yang kurang percaya saat bukunya pertama kali diterbitkan oleh anak perusahaan penerbitan di Jogja. Ada teman yang bertanya-tanya, penerbit itu kan tidak menerima penulis pemula, kenapa karyamu bisa diterbitkan? Mereka lupa, tentunya penerbit itu telah melihat pengalaman saya berkecimpung di media massa selama sepuluh tahun sebagai salah satu dasar pertimbangannya. Artinya, saya bukan penulis pemula,? paparnya.
Untuk masalah yang sering dihadapi selama kariernya, baik dibidang literasi maupun wiraswasta, ia menyebut tentang masalah permodalan dan pembagian waktu kerja. ?Untuk menyikapi permasalahan modal ini, saya selalu berpikir bahwa sang Pencipta hidup kita sudah menyediakan segala bentuk bantuan dan jalan keluar bagi setiap permasalahan yang kita hadapi. Yang harus diupayakan adalah ketenangan dan ketabahan dalam menghadapi berbagai situasi sulit, serta sikap hati yang percaya penuh kepada pemeliharaan Tuhan. Kedua, membuat proposal usaha yang telah dipersiapkan dengan matang dan teliti. Ketiga, menjalin kemitraan dengan investor yang potensial. Itulah pentingnya senantiasa berusaha mencari teman sebanyak-banyaknya atau berjejaring. Bisa dengan cara masuk di dalam komunitas profesi atau penghobi. Keempat membina hubungan baik dengan bank/lembaga Finance sebagai mitra penyalur kredit,? jelasnya.
Diungkapakannya, cara mengatasi pembagian waktu kerja adalah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi semaksimal mungkin. ?Menulis dan menggambar harus menggunakan alat digital karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan untuk mobile ke berbagai kota di Indonesia, bahkan nantinya, kelak ke mancanegara, maka di manapun dan kapan pun harus tetap bisa menghasilkan karya tulis, komik, dan kartun. Jadi, harus punya laptop yang bisa untuk menggambar digital. Dalam bidang properti, memantau pekerjaan, meeting, presentasi marketing via Skype atau Video Call aplikasi Whatsapp. Memaksimalkan medsos online seperti sebagai sarana promosi dan marketing,? terangnya.
Penghobi menulis dan menggambar ini mengatakan tentang pentingnya menggiatkan kegiatan literasi mengingat jumlah penulis, komikus, dan kartunis di Indonesia karena masih sangat minim dibandingkan dengan negara-negara lain. Pada waktu acara Borobudur Cartoonist Forum 2017 yang baru lalu, kartunis yang terdata dari angkatan 1980-an hingga 2000-an hanya 110 orang dari 250 juta rakyat Indonesia. Jika tidak terus digiatkan dan dikembangkan bisa jadi dunia literasi kita bakal mengalami kepunahan penulis, komikus dan kartunis.Lagipula apabila ditekuni dengan serius, dunia literasi bisa menjadi industri multi milyaran dollar, sebagaimana yang sudah dinikmati negara Asia seperti Jepang dan Korea Selatan.
Ia pun memberikan inspirasi dan sarannya kepada yang membaca kisahnya ini. ?Jangan mudah menyerah. Setiap persoalan selalu ada jalan keluar. Milikilah mimpi dan cita-cita yang terbaik. Gali potensi diri Anda. Perhatikan bakat dan kemampuan yang ada dalam diri. Lalu petakan mimpi Anda. Susun dalam pikiran lalu tuangkan di secarik kertas atau alat pencatat lainnya (hp, laptop, dan komputer). Yakini bahwa Anda pasti bisa meraih mimpi tersebut. Persiapkan dirimu sebaik mungkin dari berbagai segi. Pikirkan langkah-langkah bagaimana mewujudkan mimpi tersebut. Lalu, yang terpenting adalah, bertindaklah. Jangan terlalu memikirkan resiko kegagalan. Setiap usaha, walaupun sudah dipersiapkan dengan seteliti dan sematang mungkin, tetap mengandung resiko kegagalan,? bebernya.
Sementara itu, proyek ke depan yang sedang dikerjakannya saat ini adalah menerbitkan beberapa novel dan komik. Ada yang dikerjakan sendirian, ada pula yang berkolaborasi dengan komikus lain. Ia berencana pula untuk masuk ke kancah internasional melalui karya-karya tersebut. Dalam bidang properti, melalui PT Soli Deo Gratia Interland, sedang memasarkan kavling HomeVilla siap bangun di Desa Wisata, Dukuh Pulu Kaja, Selemadeg Timur, Tabanan, Bali.
