Bernas.id – Bangsa Indonesia adalah contoh kebhinnekaan yang paling representantif dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain dunia, ditinjau dari berbagai aspek. Misalnya, ditinjau dari gugusan pulau yang membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, terdapat sebanyak 17.508 pulau (sumber: Pusat Survei dan Pemetaan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).
Ditinjau dari jumlah etnik atau suku bangsa yang mendiami pulau-pulau di Indonesia, terdapat sebanyak 1.340 suku bangsa (sumber: BPS, 2010). Ditinjau dari jumlah bahasa daerah yang digunakan oleh etnik atau yang ada di Indonesia sebanyak 1.158 (sumber: BPS, 2010). Demikian pula dengan warna kulit suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke sangat beragam, hampir mewakili semua warna kulit suku bangsa yang ada di dunia.
Dan masih banyak lagi contoh keragaman lainnya yang terdapat di Indonesia. Realitas sosial kebhinekaan ini menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain, baik di kancah regional (ASEAN) maupun Internasional.
Dalam perspektif Ilahiyah, ada empat prinsip dasar yang harus ditanamkam secara sungguh-sungguh kepada bangsa ini secara revolusioner, yaitu:
- Menanggalkan sikap memandang diri sebagai bangsa ?inferior? dan memandang bangsa lain sebagai bangsa yang ?superior?, menanggalkan budaya sebagai bangsa ?in lander? dengan menumbuhkan sikap hidup mulia (?izzah) sebagai bangsa yang besar tanpa harus merendahkan bangsa-bangasa lain. Sebab semua manusia itu hakikatnya sama, yaitu sama-sama sebagai anak keturunan Adam ?alaihi sallam. Sedangkan Allah Ta?ala menciptakan Adam ?alaihi sallam berasal dari tanah. Lalu, kenapa harus merasa diri sebagai bangsa ?in lander?, kenapa harus merasa diri sebagai bangsa ?In ferior? atau sebaliknya, kenapa harus memandang bangsa lain begitu superior??? Atau kenapa harus memandang orang lain lebih rendah dari diri sendiri.
- Untuk itu, Indonesia harus mampu mandiri dalam segala aspek kehidupan, jangan sampai menjadi budak bangsa lain! Apalagi menjadi budak di negeri sendiri, mungkinkah, kapan?
- Sikap saling tolong menolong dan bekerja sama untuk kemaslahatan bersama bagi seluruh anak bangsa dan menjauhi sikap permusuhan, merupakan sebuah keharusan.
Dalam konteks ini Allah Ta?ala berfirman di dalam Al Qur?an, yang terjemahannya:
?Tolong menolonglah kalian untuk berbuat kebajikan dan ketaatan. Janganlah kalian tolong menolong untuk berbuat osa dan permusuhan. Taatlah kalian kepada Allah. Sungguh siksa Allah itu sangat berat.? [QS. Al Maidah (5) : 2]
- Tidak menyombongkan diri di hadapan Allah Ta?ala dan meremehkan anak bangsa yang lain karena penguasaannya terhadap sumber daya alam yang sangat besar. Sikap-sikap yang demikian harus diposisikan sebagai pantangan bagi semua anak bangsa sebab memiliki potensi yang sangat besar untuk mendatangkan musibah dan malapetaka bagi bangsa Indonesia. Dalam konteks ini Allah Ta?ala berfirman di dalam Al Qur?an, yang terjemahannya:
?Memang benar, manusia itu sangat durhaka kepada Tuhannya (melampaui batasan kedudukan yang diperkenankan kepadanya). Karena manusia merasa dirinya sangat kaya.? [QS. Al ?alaq (96) : 6-7]
Apabila bangsa Indonesia mampu menanamkan keempat prinsip dasar tersebut secara baik dan benar dengan gerakan revolusioner yang terukur, saya memiliki persangkaan yang sangat kuat bahwa bangsa Indonesia akan mampu survive dan melepaskan diri dari tantangan kebhinekaan dalam realitas social dan budaya, serta akan memiliki modal yang sangat besar dan tangguh untuk memasuki arena persaingan global. Sebaliknya, apabila ketiga prinsip dasar di atas tidak segera disadari oleh bangsa Indonesia, khususnya para pemangku kepentingan di negeri ini dengan membuat kebijakan dan regulasi yang kondusif untuk mewujudkan ketiga prinsip tersebut, maka saya khawatir negeri dan bangsa ini akan menghadapi musibah yang besar. Dalam konteks ini Allah Ta?ala berfirman, yang terjemahannya:
?Allah memberi contoh sebuah negeri yang dahulunya aman dan tentram, rezkinya datang ke negeri itu dari setiap penjuru dengan baik, tetapi penduduk negeri itu ingkar kepada nikmat-nikmat Allah. Kemudian Allah timpakan kepada mereka derita kelaparan dan ketakutan karena dosa-dosa mereka. Allah jadikan negeri itu contoh buruk bagi segenap umat manusia.
?Sungguh telah datang kepada kaum kafir seorang rasul dari bangsa mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya. Oleh karena kezhaliman mereka itu, mereka ditimpa adzab sampai binasa.? [QS. An Nahl (16) : 12- 13]
Pada ayat yang lain, Allah Ta?ala juga berfirman, yang terjemahannya:
?Wahai Muhammad, apakah kamu tidak melihat orang-orang yang menukarkan keimanan kepada Allah dengan kekafiran, dan membuka jalan kehancuran bagi kaum mereka.? [QS. Ibrahim (14) : 28].
Oleh Ustadz Hasyim Abdullah
Direktur Pusat Studi Hadits dan Pemberdayaan Masyarakat kecil ?Daarus Sunnah? Yogyakarta
Sekretaris Bidang Pemberdayaan Masyarakat Forum Kerukunan Umat Beragama DIY periode 2014 – 2019
Anggota Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) DIY periode 2017 – 2022
Aktivitas keseharian adalah sebagai penulis buku dan praktisi Dakwah Islamiyah
