Bernas.id – Ike Devi Sulistyaningtyas, MSi menceritakan pengalaman unik dalam pekerjaannya sehari-hari. Sebagai ketua program studi, ia ternyata bukan hanya menjadi dosen saja, tetapi kadangkala juga menjadi ruang bagi berbagai problem yang dialamai bukan saja oleh mahasiswa, tetapi bahkan orang tua mahasiswa pun menyampaikan dengan detil problem dan kehidupan yang dialaminya.
?Dengan berbagai cerita dan permasalahan tersebut, justru membuat saya makin mengerti dinamika kehidupan yang dialami. Pada saat itu juga pada akhirnya kami (saya, mahasiswa dan ortu mahasiswa) akhirnya justru memiliki silaturahmi yang baik layaknya keluarga, dan terus berelasi hingga saat ini dan harapannya hingga masa yang akan datang,? ungkapnya ke Bernas (10/8).
Ia pun membagikan pengalaman khususnya yang menjadi titik balik baginya ketika berproses sehingga menjadi seperti sekarang ini. ?Pada saat mengikuti kompetisi dan menang maka saya belajar bahwa kemenangan itu adalah ketika saya bisa mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan dari rasa takut, was-was, kekhawatiran, dan rendah diri,? tuturnya.
Pengajar tetap di program studi ilmu Komunikasi FISIP UAJY ini ternyata banyak menekuni bidang pekerjaan, misalnya trainer di bidang Komunikasi, Public Relations dan Public Speaking, Komunikasi Organisasi, Motivator Team Building, dan Drafter untuk naskah akademik Promosi Yogyakarta.
?Di luar profesi, saya juga berkecimpung pada asosiasi lain seperti Kepala Divisi Publikasi dan Riset pada Persatuan Hubungan Masyarakat (PERHUMAS) BPC Yogyakarta dan Divisi Pengembangan kurikulum pada Asosiasi Pendidikan tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) korwil DIY- Jateng,? jelasnya.
Banyak sosok yang berperan atas apa yang dicapainya saat ini. ?Yang utama adalah orang tua, kemudian suami, lalu kolega di lingkungan kerja saya. Peran keluarga (ortu dan suami) memberikan kepercayaan penuh dan bersedia berbagi peran, manakala saya mendapat tugas berkaitan dengan pekerjaan.Kepercayaan yang diberikan orang tua sejak kecil membuat saya bebas aktif dalam berkegiatan, bahkan mendorong saya untuk selalu percaya diri dalam memulai segala sesuatu yang akan saya tekuni. Sedangkan Suami juga memberikan kepercayaan dalam melakukan aktivitas sekalipun pada beberapa kesempatan harus meninggalkan rumah hingga lebih dari 1 minggu untuk melakukan tugas. Pada saat itulah suami rela berbagi peran dalam rumah tangga. Teman-teman di tempat kerja, menjadi inspirasi bagi saya, bahka di antaranya dengan rela mengajak saya untuk ikut serta dalam aktivitas yang ditekuninya. Dari kesempatan itulah saya mampumeningkatkan kemampuan saya,? paparnya.
Perempuan kelahiran Semarang ini menjelaskan tentang alasan menekuni bidang pekerjaan sampai sekarang ini. Ia menjawab bahwa bidang pekerjaannya saat ini membuatnya selalu mendapatkan pengetahuan baru, tidak hanya secara formal, tetapi juga informal. Bahkan pengalaman-pengalaman yang dialami oleh mahasiswa pun memberikan kontribusi berupa pengetahuan baginya. ?Untuk permasalahan yang paling sering dihadapi, manajemen waktu. Saya harus membagi waktu untuk melakukan beberapa peran saya dalam waktu yang berdekatan. Kadangkala bahkan pada saat yang bersamaan. Oleh karena itu dalam setiap waktu yang saya lalui, saya selalu belajar bagaimana mengelola waktu,? terangnya.
Dikatakannya, untuk tantangan yang akan dihadapi ke depan, ia penyuka hobi membaca ini menyebut bahwa meningkatkan kemampuan diri dengan studi lanjut program doktor. ?Sebagai pendidik, peningkatan pengetahuan berjenjang sampai jenjang tertinggi adalah mutlak. Bukan hanya sekedar mendapatkan titel, namun harus mampu menghasilkan sebuah karya akademik yang akan memperkaya bidang ilmu yang saya tekuni, sekaligus memberikan kontribusi bagi pengembangan institusi tempat saya berkarya,? katanya.
Alumni Universitas Diponegoro ini meyakini bahwa bidang pekerjaan yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat.?Bidang akademik bukan semata milik institusi pendidikan, namun bidang yang dibutuhkan oleh segenap bidang. Terutama aspek komunikasi yang saya geluti bisa memberikan kontribusi bagi pengembangan bidang lain. Contohnya pada bidang kesehatan, bagaimana misalnya mengkampanyekan hidup sehat dan bersih bermula dari kelompok paling kecil hingga pada ranah yang lebih luas,? jelasnya.
Master Ilmu Komunikasi selama ini rupanya membangun habit khusus untuk mendukung pekerjaannya, yaitu terus meningkatkan habit mendengar. Baginya, sebagai manusia, selama ini ia masih ingin lebih banyak didengarkan ketimbang mendengarkan maka habit mendengar ini sedang terus dibangunnya agar dua telinganya menjadi lebih peka.? Untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja, menyerap semangat dari dinamika akademik yang terjadi pada mahasisewa. Setiap mahasiswa memiliki energi yang luar biasa, dibarengi dengan mimpi ideal yang mereka bangun. Dengan mimpi itu mahasiswa kemudian bersemangat melaksanakan studinya. Semangat yang mereka miliki itulah jarum suntik ampuh bagi saya dalam mengembalikan semangat menagabdi pada bidang akademik,? bebernya.
Alumni Universitas Indonesia ini pun membagikan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ?Mencintai dan konsisten dengan bidang yang kita tekuni, sembari terus meningkatkan kemampuan diri dari apapun yang kita temui sepanjang hidup kita. Untuk saran, sebetulnya saya belum merasa berada pada titik kesuksesan. Namun apabila apa yang saya raih ini dianggap oleh orang lain sebagai kesuksesan maka yang bisa saya sarankan adalah konsisten pada sesuatu yang akan kita raih,? tukasnya.
Pengagum sosok Bunda Teresa juga mengakui bahwa lingkungan memengaruhinya hingga menjadi seperti sekarang ini. ?Lingkungan kerja di institusi pendidikan yang mempengaruhi saya dalam mendewasakan diri. Keberhasilan dan kegagalan yang terjadi pada lingkungan saya, memberikan pengalaman yang berharga. Bahkan kadangkala belajar juga strategi menghadapi kondisi-kondisi tersebut. Bebebrapa strategi saya amati, saya adopsi, kadangkala saya areproduksi menjadi sebuah strategi baru dalam menghadapi hal-hal dalam kehidupan saya,? ucapnya.
Untuk pencapaian yang paling membanggakan, penyuka hobi membaca ini menjawab bahwa yang paling membanggakan baginya dan tidak terbayarkan adalah ketika mendapati mahasiswa yang didampinginya berhasil. ?Berhasil bukan bicara pada aspek posisi atau materi, namun ketika alumni mampu memberikan kontribusi bagi berkembangnya almamater, lingkungan bahkan bagi negara,? imbuhnya.
Dosen komunikasi ini membocorkan tentang project dalam waktu dekat dan impiannya ke depan. ?Menghasilkan lagi karya ilmiah berupa buku, dengan berkolaborasi dengan pebisnis dari negeri Jiran. impian terbesar ke depan, menjadi akademisi yang produktif menghasilkankarya-karya ilmiah. Mimpi ini sampai sekarang sulit diwujudkan mengingat peran yang harus saya emban cukup banyak,?pungkasnya.
