Bernas.id – Ir Victor Siagian menceritakan tentang pengalaman unik atau khususnya yang menjadi titik balik baginya ketika berproses sehingga menjadi seperti sekarang ini. Ia menyebut saat dirinya memutuskan untuk pensiun dari perusahaan tempatnya bekerja.
?Saya putuskan pensiun dari perusahaan di usia 46 tahun. Semuanya terlihat, tergambar jelas, dan cerah. Tidak ada yang aneh, tapi uniknya tidak sesederhana yang saya bayangkan. Baik pensiun dini ataupun memang karena sudah umur 55 atau 58 selama ini tidak terlalu diberi perhatian oleh orang-orang. Pensiun bagi kebanyakan orang adalah banyak punya waktu luang, tapi masih tetap mendapatkan income. Ternyata tidak sesederhana itu karena banyak faktor terkait yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang masuk ke ranah itu sehingga tidak semata-mata masalah waktu dan uang. Hal ini jugalah yang menginspirasi saya sehingga memiliki/ men-develop module training Persiapan Masa Pensiun. Training 4 hari dan telah saya conduct di salah satu perusahaan client saya di Cikarang,?ungkapnya ke Bernas.
Ia kini menekuni bidang pekerjaan yang lebih dari satu. ?Profesi yang sedang saya tekuni saat ini adalah Trainer and People Development, Coach and Counselor, Motivator, dan Housing and Town House Developer,? ucapnya.
Sebagai trainer dan coach di MetaMorph, ia telah mengembangkan portofolio dan client dari berbagai sektor industri. MetaMorph sendiri bukanlah sebagai pendatang baru di bidang Pelatihan Bisnis karena sudah berjalan selama 7 tahun untuk menyediakan pelatihan-pelatihan dalam berbagai varian bisnis.
Dikatakannya, pengalaman unik dari pekerjaannya yang ditekuni saat ini, ia merasa bahwa dengan banyak berbagi ke orang lain akan menaikan posisi dan kapasitasnya. ?Semakin banyak saya berbagi, membantu orang, semakin naik saya dalam posisi dan capacity saya. Ternyata justru mereka-mereka (orang yang kita bantu sukses itu) yang membuat kita juga semakin sukses,? imbuhnya.
Praktisi NLP berlisensi dari The Society of NLP dan R Bandler ini menjelaskan alasan terus menekuni bidang pekerjaannya sampai sekarang ini. ?People development itu asyik dan keasyikan itu membawa saya ke sana dan menuntun saya menemukan apa yang menjadi misi besar saya dalam hidup ini, sedangkan untuk bidang property, menarik dan menjanjikan,? katanya.
Diploma in Art & Science of NLP dari International NLP Trainers Association, UK ini juga memaparkan permasalahan yang paling sering dihadapi dalam pekerjaannya.?Berhadapan dengan peserta atau orang-orang yang sangat tidak menyadari apa yang harus mereka lakukan. Saya sikapi, usahakan mereka memahami dan menemukan titik balik, apabila tidak, ya sudah,? tukasnya.
Untuk tantangan ke depan, pria kelahiran Sumatra Utara ini menyebut bahwa banyak tantangan yang akan dihadapi. ?Ke depan, banyak perusahaan yang tidak terlalu memandang perlunya people development. Saya menyikapinya, menunjukkan fakta-fakta bahwa orang yang berhasil kebanyakan bukan orang pintar dan orang tidak sepintar kita ternyata bisa lebih berhasil dari kita. Artinya, perlu self development,? ucapnya.
Ayah empat anak ini pun meyakini bahwa bidang pekerjaan yang digeluti saat ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. ?Karena banyak situasi yang menjadi persoalan banyak orang dalam bekerja ataupun dalam hidup yang seharusnya tidak harus terjadi dan itu dapat diantisipasi dengan pengembangan diri dan belajar yang berkesinambungan,?terangnya.
Alumni Universitas Jambi ini juga membangun habit khusus selama ini untuk mendukung pekerjaannya dengan membaca dan mendengarkan. Baginya, membaca sangat berpengaruh terhadap dirinya dan sampai sekarang, sudah ribuan judul buku yang telah dibacanya. ?Untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja, membayangkan wajah anak dan istri dan menelepon orang-orang yang mengakui terbangunkan dengan adanya saya dalam kehidupan mereka,? tuturnya.
Training & Development Manager ini pun memberikan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ?Keberhasilan menggapai itu hanya sebatas belajar dan berani melangkah. Untuk saran, bantulah orang lain sukses, niscaya Anda akan menerima dan sampai pada beberapa kesuksesan yang Anda rencanakan, bahkan di luar yang Anda rencanakan,? pesannya.
Diungkapkannya, lingkungan memengaruhinya hingga menjadi seperti sekarang ini karena ia ternyata memilih lingkungannya. ?Saya memilih lingkungan saya, komunitas saya, bahkan saya bentuk karena atmosfer kebanyakan orang adalah biasa-biasa saja. Saya mau tidak sekedar biasa.Lingkungan yang mempengaruhi saya satu-satunya adalah para mentor, terkadang mentee saya juga. Untuk pencapaian yang paling membanggakan, berbicara di tingkat global atau dengan audiens dari berbagai belahan dunia dan membangun, serta memiliki rumah idaman saya,? imbuhnya.
Dikatakannya, ia ternyata masih ingat cita-cita atau impian masa kecilnya.?Cita-cita saya di masa kecil menjadi Pilot, lalu cita-cita saat remaja-kuliah mendapatkan kesempatan melanjutkan kuliah S2 dan S3 di luar negeri dengan jalur bea siswa. Di tahun terakhir perkuliahan, ia pernah membatalkan walau ada tawaran dari kampus kesempatan menjadi dosen. Ia pun tak memungkiri bahwa banyak sosok yang memiliki peran atas apa yang dicapai saat ini. ?Yang pertama adalah istri dan anak-anak saya. Mereka mengasihi saya, membantu, mendorong dan menopang saya sehingga saya semakin giat berkarya. Saya juga punya beberpa mentor yang membuka wawasan saya, memfasilitasi, bahkan menuntun saya,? imbuhnya.
Penyuka hobi membaca ini pun membagikan motto yang diyakini memiliki kebenaran tersendiri kepada pembaca. ?Kalau Anda memiliki pola pikir dan pola kerja yang sama dengan kebanyakan orang maka nasib Anda pun adalah nasib orang kebanyakan. Karena yang menjadi pemimpin, yang lebih berhasil, adalah memang orang yang tidak berpikir seperti orang kebanyakan berpikir. Artinya, selangkah bahkan sekian langkah kita harus di depan, harus lebih. Terkadang bahkan sering diejek dan cemooh, tapi yakinlah setelah kesuksesan hinggap, mereka akan menyanyikan senandung pelipur lara,? bebernya.
Coach ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impian terbesarnya ke depan. ?Mengambil gelar S2 bidang Psikologi dan impian terbesar ke depannya, memiliki cluster, perumahan sendiri (atau kerja sama), tapi bukan milik bersama,?pungkasnya.
