YOGYAKARTA, Bernas.id – Ketua Tim Percepatan Pembangunan Destinasi Wisata Kementerian Pariwisata, Hiramsyah S Thaib, menyebut pembangunan bandara baru di Kulonprogo sebagai sebuah keharusan. Sebab, kondisi bandara Adisutjipto saat ini dinilai tidak lagi memadahi.
?Karena sesungguhnya Yogyakarta ini memang harus menjadi salah satu destinasi utama. Misalnya dari sisi aspek kunjungan untuk pariwisata karena kekayaan budayanya. Tentunya bandara Kulonprogo akan menjadi sangat penting karena menjadi salah satu pintu masuk untuk wisatawan asing maupun wisatawan nusantara,? kata Hiramsyah kepada Bernas, Senin (28/8).
Tujuan dibangunnya bandara internasional di Kulonprogo harus memberikan manfaat bagi masyarakat, baik secara ekonomi, konservasi budaya, serta dampak terhadap pertumbuhan seluruh wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. ?Yang menjadi menarik adalah, ada suatu pendekatan dalam 10 atau 20 tahun terakhir, bahwa membangun itu temanya membangun kawasan, tidak hanya membangun secara parsial, baik infrastruktur, properti, dan aspek lainnya,? ujarnya.
Jika sudah sepakat bahwa pendekatannya adalah kawasan, lanjut Hiramsyah, tentunya dari sejak awal desain dan master plannya harus terintegrasi, dilakukan secara menyeluruh. Pembangunannya harus sama. Misalnya pembebasan lahan, harus dilakukan serentak. ?Karena kalau pembebasan lahan hanya untuk bandaranya saja, untuk kotanya dalam tanda petik, atau aktivitasnya itu belakangan, dia akan menjadi sangat mahal. Dan ujung-ujungnya tidak bisa dilakukan secara optimal. Karena keterbatasan dari pembebasan lahan. Jadi dari sisi aspek perencanaan, kemudian akuisisi lahan, termasuk pembangunan, itu harus serentak, harus simultan. Dan itu akan jadi jauh lebih baik,? tandasnya.
Hiramsyah mengingatkan pentingnya implementasi lapangan terhadap semua konsep yang telah disusun. ?Niat baik saja tidak cukup. Dia juga harus dilakukan dengan cara yang baik. Inilah tantangan terbesar kita. Bagaimana mengimplementasikan perencanaan dan pembangunan secara terpadu,? ujarnya.
Selain itu, Hiramsyah juga mengingatkan pentingnya pembanguan peran atau berbagi tugas antara akademisi, bisnis, pemerintah pusat dan daerah, komunitas yang mewakili masyarakat serta media massa, yang disebutnya sebagai pentahelix. Peran media massa menjadi penting sebagai pilar keempat demokrasi.
Menurut Hiramsyah, Yogyakarta memiliki peran sangat sentral dari aspek geografis maupun historis. Peran sentral inilah yang harus dioptimalkan. ?Sayang kalau Jogja yang sangat istimewa tidak dioptimalkan perannya. Ini yang menurut saya adalah saatnya, karena memang zaman sudah seperti itu. Apalagi kalau dilihat spiritnya semua sudah sepakat. Tinggal bagaimana kemudian mengimplementasikan. Di sini butuh leadership, butuh wawasan tinggi supaya tidak ada ego sektoral. Butuh empati, tidak hanya menggunakan akal tapi juga hati,? ujarnya.
Hiramsyah juga mengapresiasi komitmen Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla tentang pentingnya sinergi antara pemerintah dan swasta. ?Karena pak presiden dan pak wapres latar belakangnya swasta, jadi beliau sangat memahami dinamika yang ada di kita saat ini. Dengan beliau masuk di pemerintahan dengan latar belakang swasta, beliau tahu bahwa betul-betul harus ada satu sinergi antara pemerintah dengan swasta. Kita sama-sama tau, sekarang ini anggaran pemerintah sangat terbatas. Tidak mungkin semua dikerjakan dan dibiayai pemerintah. Harus melibatkan swasta dan masyarakat,? ujarnya.
Menurut Hiramsyah, keterlibatan masyarakat sangat penting agar nantinya tidak menimbulkan gejolak sosial. ?Yang paling penting sekarang adalah bagaimana bisa proyek atau program kerja yang sangat strategis dipegang dan ditangani oleh orang yang memang kompeten dalam bidangnya. Bukan hanya kompetensi secara tekhnis, tapi justru yang paling penting adalah leadership. Menurut saya inilah tantangan hari ini. Dicari para pemimpin dalam tanda petik yang mempunyai jam terbang tinggi, sehingga bisa melakukan sinergi di antara para stakeholder. Karena suka tidak suka, ini kan sangat beragam. Dan Indonesia adalah negara yang sangat beragam. Apalagi sekarang isu bhineka menjadi penting dan sedang diuji,? ujarnya.
Nantinya, keberadaan NYIA akan menjadi salah satu entry, show case, etalase, atau apapun namanya. Karena itu, perlu dilibatkan kalangan akademisi, mengingat Yogyakarta sebagai kota pendidikan.
?Pengalaman saya sebelumnya pada waktu membangun jalan tol di pantura, para pendidik ini (akademisi) dianggap paling netral, paling murni, dalam memberikan pemikiran-pemikiran. Tidak terkontaminasi atau tidak dianggap terlalu komersial. Dia akan selalu berpihak pada hal-hal yang benar, berpihak pada kepentingan masyarakat. Sehingga konsekuensinya dia akan mudah diterima dimanapun, termasuk oleh masyarakat. Kalau kita mau berkomunikasi dengan mudah dengan masyarakat, gunakan perguruan tinggi setempat. Merekalah yang paling tahu persis, dan mereka yang dianggap independen dan murni. Belum terlalu terkontaminasi dengan kepentingan-kepentingan lainnya, terutama kepentingan komersial. Tapi kalau sudah swasta, bahkan BUMN pun sudah punya kepentingan komersial,? papar Hiramsyah.
Di sisi lain, lanjut Hiramsyah, dunia perguruan tinggi pun membutuhkan sarana untuk mengaplikasikan dan mengimplementasikan karya-karyanya dan hasil risetnya. Karena ujung-ujungnya hasil riset itu harus memberikan manfaat nyata buat masyarakat.
?Kalau dia hanya sekadar paper, kemudian tidak bisa diimplementasikan untuk memberikan manfaat nyata pada masyarakat, sayang sekali. Kalau bisa diimplementasikan dan memberi manfaat nyata, tidak hanya masyarakatnya yang bisa merasakan manfaatnya,? ujarnya.
Hiramsyah juga mengingatkan pentingnya mengembangkan dunia pariwisata. Namun, ia mengingatkan pentingnya komposisi pengembangan wisata kedepan. Ia mengusulkan pariwisata harus berbasis pada budaya, kemudian menyusul faktor alam dan kemdian manmade.
?Artinya, Indonesia adalah negara yang paling kaya dari sisi budaya. Ini sebenarnya yang harus diberdayakan. Karena semakin diberdayakan budayanya, dia akan semakin dikonservasi. Karena semua orang tahu kekuatan kita di budaya. Budaya juga memberikan kita nafkah, ayo dilestarikan supaya bisa kita wariskan terus sampai anak cucu kita,? katanya.
Pariwisata, lanjut Hiramsyah, menjadi salah sektor yang paling kuat yang tidak mungkin ditandingi oleh negara-negara lain. Indonesia adalah negara yang sangat kata dengan kekayaan budaya dan kekayaan alam yang luar biasa. ?Cuma selama ini belum dikelola secara baik. Inilah harapannya pak presiden sudah menyatakan bahwa sektor pariwisata adalah satu dari 5 sektor unggulan. Sehingga seluruh kementerian dan lembaga itu harus mendukung sektor pariwisata, bukan hanya kementerian pariwisata,? tandasnya.
Menurut Hiramsyah, pengembangan dunia pariwisata juga harus didukung oleh peran media massa. Ia mencontohkan peran media massa di Thailand yang dinilainya sangat mendukung dunia pariwisata di negara itu. ?Kita iri dengan media yang ada di Thailand. Mereka betul-betul memahami bahwa sektor pariwisata adalah prioritas mereka. Sehingga, misalnya ada kejadian bom di Thailand beberapa waktu lalu, itu beritanya mungkin tidak sampai 6 jam, kemudian hilang dari media mereka. Karena mereka tahu kalau itu dibesar-besarkan, ujung-ujungnya mereka juga yang kena, saudara-saudara mereka. Titipan buat rekan-rekan media, mari kita sama-sama jaga negara dan bangsa yang kita cintai bersama. Apalagi sekarang dengan adanya sosial media, semakin tidak mudah dalam menjaga kondisinya itu kondusif. Jangan kemudian kita lakukan satu berita-berita yang kontraproduktif,? kata Hiramsyah.
Hiramsyah yang mengaku punya ikatan emosi yang kuat dengan Jogja ini mengaku yakin bahwa Yogyakarta akan menjadi salah satu ujung tombak bangsa ini, dalam hal aspek kebudayaan, pendidikan, dan sektor pariwisata. ?Karena dalam sektor pariwisata itulah seluruh dunia akan tahu bahwa bangsa ini adalah bangsa dengan budaya yang sangat tinggi. Salah satunya dipresentasikan oleh Jogja Istimewa,? ujarnya.
