HarianBernas.com – Evada Rustina, SE, MM memaknai pentingnya pendidikan itu seperti senjatanya karena sebagai dasarnya. Pendidikan akan mampu memajukan masyarakat melalui lembaga atau yayasan yang berperan aktif membantu, termasuk membantu masyarakat yang tidak mampu.
?Ketika membantu masyarakat tidak mampu, tidak mungkin kita hanya memberikan roti atau makanan, tapi baiknya memberikan ikan pancingnya, memberikan ilmunya, memberikan caranya melalui pendidikan itu. Karena pendidikan itu juga penting dalam rangka membentuk karakter bangsa apapun bidangnya. Pendidikan itu terjadi dalam proses yang ilmiah, bagaimana orang berpikir untuk memberikan solusi secara sistematis dan ilmiah dengan cara-cara yang ilmiah dengan ahlak yang baik. Jadi, lulusan lembaga pendidikan pasti akan berguna,? ungkapnya ke Bernas.
Dikatakanya, profesi sebagai dosen atau pendidik menjadi bidang yang ditekuni dan dicintanya. Baginya, pekerjaan mengajar yaitu dosen menjadi sebuah amanat. Di luar sebagai pengajar, ia juga berwirausaha seperti wirausaha jasa persewaan, jual beli apa saja yang penting halal, home stay, kos-kosan, kemudian menjadi narasumber untuk mengisi kewirausahaan.
Ia rupanya juga menyukai hobi traveling, tapi di mengajar di kelas menjadi kesukaan yang paling senangi karena mengajar itu merupakan kegiatan nonprofit karena tidak mencari keuntungan. ?Saya menikmati dunia pendidikan. Ketika di kelas itu menyampaikan ilmu, memberi motivasi, kemudian mereka paham, mereka senang, mereka optimis, positif. Nah itu, kepuasannya sehingga saya betah,? tukasnya.
Ia bercerita tentang pengalaman berkesannya di dalam pekerjaannya sebagai direktur AKPN Bahtera. ?Jadi, pernah dua periode ini saya menjabat dan sebelumnya memang sempat ada banyak kendala, kemudian saya sampai di mana saya tidak mau terima amanat itu untuk menjabat dan melanjutkan karena saat itu sumber dayanya sangat terbatas. Saya mau menyerah, tapi saya teringat dengan alumni yang sudah tersebar, bagaimana nanti kelanjutannya dan tanggung jawab saya kalau saya tidak menerima? Kemudian, saya meminta dari hati ke hati kepada dosen dan mereka mensupport saya untuk melanjutkan. Jadilah bersama-sama untuk melanjutkan agar bagaimana berkembang dari beberapa keterbatasan dalam sumber daya itu. Kalau kita bersama-sama itu ternyata bisa juga dalam apapun karena tetap ada solusinya asal kita itu mau. Jadi, saya kira itu,? tuturnya.
Pemilik cita-cita masa kecil ingin keliling dunia ini pun memiliki pandangan yang berbeda tentang tantangan pekerjaan ke depan. ?Tantangan itu, kalau kita sadar diri, selama kita hidup pasti ada, tapi yang penting menyadarinya. Karena itu, kita harus menyadari perubahan di luar. Ketika di dalam masalah, kita akan tahu kekuatan kita apa, kelemahan kita apa, kemudian peluang dari luar itu apa, tantangannya apa. Kalau itu dilihat dengan betul-betul, semua itu ada solusinya. Bagi saya, saya tidak bisa berjalan sendiri bagi. Saya harus bersama tim work bersatu untuk mengabdi. Semua elemen di sini penting dan bermanfaat. Saya bisa belajar dari karyawan. Karyawan bisa belajar dari dosen. Dosen bisa belajar dari teman-temannya. Bisa belajar dari sekelilingnya, bahkan ketika saya rekrutmen karyawan baru maka akan muncul pertanyaan misal ketika rekrutmen laborat atau pustakawan, akan ditanya kenapa keluar dari tempat itu. Setelah menceritakan alasannya, itu akan menjadi masukan saya. Tantangannya dunia maritim pun sama, seperti isu-isu kalau pendidikan maritim itu keras. Sedikit banyak memengaruhi meskipun tidak terjadi di sini (AKPN Bahtera-red). Ada satu sekolah tinggi ilmu pelayaran yang melakukan kekerasan, tapi imbasnya kepada banyak sekolah dan berpengaruh ke penerimaan. Bagaimana kita bisa selesai dengan pendapatan yang ada? Kita harus mencari sumber pendapatan lain untuk tetap kontinyu. Tantangannya di situ. Tapi, sebenarnya itu bukan hambatan, tetapi itu tantangan. Saya harus efisien, efektif, dan berkesinambungan menggunakan sumber daya yang ada dan selalu ada solusi,? jelasnya.
Master Manajemen ini pun membangun kebiasaan untuk mendukung pekerjaannya dan memajukan akademi pendidikannya. ?Saat ini, kita berkomitmen akan mutu. Peningkatan mutu secara terus-menerus dan berkesinambungan dari lini atas sampai bawah. Semua berkomitmen pada peningkatan mutu. Jadi, budaya itulah yang saya bangun di sini (AKPN Bahtera-red). Semua harus menyadari itu, tidak hanya dari pimpinan, tapi juga dari bawah. Saya sampaikan bahwa dosen dan semua karyawan sama, tidak ada yang lebih tinggi. Saya bisa belajar dari siapa saja dan saya bebas menyalurkan aspirasinya memberi masukan dan sebagainya. Kita itu sama untuk menjadi tim kebersamaan yang berkomitmen kepada peningkatan mutu,? urainya.
Dosen ini pun membagikan inspirasinya yang kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ?Kalau kita itu bekerja, bekerjalah dengan tekun. Berusahalah dengan sungguh-sungguh dan menjadi bagian di lembaga tempat kita bekerja. Jangan menjadikan itu alat belaka. Kita harus bersunguh-sungguh bukan karena ingin menjadi apa pada siapa, tetapi agar kita lebih bermanfaat kepada sesama,? katanya.
Dikatakannya, lingkungan sangat berpengaruh, terutama dari lingkungan pendidik dan agama. ?Kita itu walaupun heterogen, kita tetap kompak bersama. Sebagai contoh, saya sekolah waktu muda itu di Muhammaditah, tetapi ketika liburan, saya mondok di pondok NU. Saya punya hobi bertemu dengan banyak orang yang bermacam-macam sehingga bisa membangun semuanya sehingga positif dan teroganisasi. Untuk pencapaian membanggakan, saat saya bisa membuat orang yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin, yang tadinya jatuh menjadi bangkit,? ucapnya.
Pengagum sosok Buya Hamka ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impiannya ke depan. ?Untuk kampus, InsyaAllah, tahun depan membuka program S1 dan memajukan usaha traveling yang bekerja sama dengan teman-teman penulis dan teman dari traveling supaya lebih konsen. Untuk impian terbesar ke depan, membuat masjid dan sudah jalan. Masjid itu sekaligus akan menjadi pusat studi, pelatihan, dan bisa dimanfaatkan oleh orang banyak, termasuk orang tidak mampu tanpa membiayai, kemudian dikelola dengan bagus. Masjidnya dikelola dengan bagus, kemudian ada kursus-kursus untuk orang yang berbudaya. Itu impian pribadi saya,? pungkasnya.
