HarianBernas.com – Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan orang muda katolik (OMK) se-Asia tahun 2017. Asian Youth Day (AYD) ke tujuh ini menjadi momen istimewa sekaligus tantangan bagi Indonesia. Tema yang diusung pun disesuaikan dengan keadaan negara yang menjadi tuan rumah AYD.
Apa itu AYD? Hari orang muda Asia adalah perjumpaan OMK se-Asia. Acara ini diselenggarakan tiap tiga tahun sekali. Pembina OMK se-Asia dan Federasi Konferensi Uskup-uskup se-Asia (FABC) telah mempercayakan AYD kepada Indonesia. Ini adalah kabar gembira bagi umat Katolik di Indonesia khususnya Keuskupan Agung Semarang (KAS).
Bersyukur Indonesia punya keberagaman budaya, bahasa, ras, dan agama. Inilah kekayaan Indonesia yang dipercaya menjadi penyelenggara AYD dengan tema ?Joyful Asian Youth! Living the Gospel In Multiculture Asia?. Indonesia dipercaya sebagai tuan rumah dengan mengangkat sukacita OMK dalam menghidupi injil di tengah keberagaman. Perlu disadari keberagaman budaya, bahasa, ras, dan agama adalah kekuatan bangsa Indonesia. Ini adalah wujud kasih Tuhan.
Lebih dari 2.000 orang muda katolik se-Asia datang ke Indonesia. Mereka dikirim ke 11 keuskupan di Indonesia untuk merasakan sendiri keramahan, kebudayaan, di berbagai tempat di Indonesia. OMK yang datang dari berbagai negara di Asia diajak untuk live in dalam rangkaian acara Days in the Dioceses (DID). Mereka akan ditempatkan di Keuskupan Pontianak, Palembang, Malang, Makasar, Jakarta, Bandung, Purwokerto, Bogor Denpasar, Surabaya, dan Keuskupan Agung Semarang.
Para peserta AYD dari 30 Juli hingga 2 Agustus 2017, diberi kesempatan untuk belajar sekaligus memberikan pengalaman iman. Lewat live in di berbagai keuskupan ini orang mudah hadir dalam realitas kehidupan umat beriman dan merasakan langsung kehidupan saudara-saudarinya di negara yang berbeda.
Karenanya, gereja ingin hadir di tengah masyarakat. Salah satunya lewat OMK yang tinggal beberapa hari di tengah masyarakat Indonesia.
AYD adalah peristiwa yang baik sebagai pengingat bahwa gereja berada di tengah masyarakat dan gereja harus hadir untuk masyarakat. Sukacita ini tak hanya dirasakan bagi OMK melainkan semua orang katolik. Peristiwa ini juga menguatkan bahwa masa depan gereja ada di tangan orang muda. Kegiatan ini sebagai salah satu cara menambah kembali semangat untuk terus berkarya di ladang Tuhan.
Bagaimana kita mencintai keberagaman dan kemajemukan?
Mencintai keberagaman dan budaya lewat Festival Kesenian Tradisional (FKT). Ini salah satu contoh yang patut ditiru dan dikembangkan. Festival ini berlangsung di Kabupaten Kulon Progo. Para peserta AYD bisa melihat langsung bagaimana OMK dan masyarakat setempat mengolah budaya menjadi tampilan yang apik dan menyenangkan banyak orang. Pada intinya setiap event FKT selalu mengangkat nilai-nilai budaya tentanga kerukunan, keindahan, dan kebenaran.
Acara FKT yang sudah bertahun-tahun dilaksanakan menjadi momen baik di mana semua orang merasakan budaya tanpa memandang agama yang satu dengan yang lain. Kesenian bisa diolah menjadi festival dan melibatkan banyak orang hingga Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. Inilah contoh nyata, bagaiamana setiap orang melakukan perbuatan yang baik didasari cinta kasih bisa membuat kreativitas. FKT menjadi ajang pembelajaran bagi orang muda hingga orangtua yang terlibat. FKT ini mampu merangkul banyak orang bekerjasama menghasilkan karya seni yang dinanti-nantikan setiap tahunnya.
Lagi, kita berbeda tapi satu!
Tak hanya FKT, jauh sebelum AYD di Yogyakarta berlangsung. Ada Srawung Kaum Muda Lintas Agama. Kegiatan toleransi antarumat beragama yang disiapkan oleh beragam komunitas berbasis agama di Kota Solo, serta didukung oleh Dinas Wali Kota Surakarta dan HAK Keuskupan Agung Semarang. Acara ini digelar pada 23 April 2017 lalu. Kuncinya adalah toleransi. Keberagaman itu indah dan tetap berjalan seirama kalau semua orang memiliki rasa toleransi.
Gereja ingin hadir bersamaan dengan momen AYD di Yogyakarta. Orang muda dan umat katolik harus mampu mewartakan injil dan membangun rumah bersama. AYD mengingatkan kita semua untuk menghidupi keadilan sosial, menghidupi persatuan Indonesia, menghidupi kemanusiaan yang adil dan beradab, menghidupi kesejahteraan bersama. Utamanya Ketuhanan Yang Maha Esa.
Umat beriman tak perlu takut untuk menanggapi berbagai masalah yang ada di negeri ini. Banyak masalah kemiskinan, masalah sosial, dan banyak hal karenanya umat katolik harus punya peran yang signifikan. Semangat dan sukacita AYD7 ini tak hanya berhenti sampai acara selesai. Tapi terus disemai agar menjadi berkat untuk sesama kita. Jadilah pelopor peradaban kasih di tengah masyarakat!
Oleh: Romo Heribertus Budi Purwantoro Pr
- Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Semarang (Komkep KAS), di Wisma Salam
- Dalam Acara AYD7 menjadi ketua Organizing Commite/OC (Panitia Pelaksana)
