HarianBernas.com – Asfar Arief, MBA telah menggeluti bidang pekerjaan HRD Management selama 3 dekade lebih. Setelah pensiun, ia tetap bekerja selama 15 tahun secara kontrak di 8 perusahaan lain sambil menyelenggarakan dan sekaligus memberi training di bidang HRD Management.
Umumnya, ia bekerja dengan perusahaan asing. Sebagai HRD Manager, ia bertanggung jawab langsung kepada President Director yang orang asing atau expatriate.
Dikatakannya, bekerja dengan orang asing beda sekali dengan bekerja di bawah orang lokal. Baginya, orang asing harus mengejar target tertentu sehingga mereka bekerja serius sekali.
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
“Mereka bekerja dengan rencana, ada target, dan jadwal kapan pekerjaan itu harus diselesaikan. Mereka on time sekali. Kalau boleh dikatakan, mereka pelit sekali dengan waktu, tidak boleh terlambat, dan tidak boleh melebihi waktu yang sudah dialokasikan. Orang asing sangat tidak suka mencampuri urusan pribadi orang, private life orang lain. Pernah saya coba bekerja dengan satu perusahaan lokal yang cukup banyak karyawannya, saya tidak bertahan lama, karena tidak cocok dengan budaya kerja yang beda sekali dengan yang sudah terbiasa saya lakukan,” ungkapnya ke Bernas (4/5).
Ia pun membagikan cerita tentang pengalaman uniknya saat bekerja dengan orang asing yang terkenal konsekuen dengan tanggung jawabnya dan tidak menyalahkan orang lain karena melaksanakan perintah dia.
“Pada suatu hari Minggu pagi sekitar jam sembilan saat saya sedang bersama istri dan bercanda dengan anak-anak saya, sopir bos saya, expatriate, datang ke rumah saya di kawasan Salemba. Saya diminta datang ke kantor, di kawasan Menteng, dan menemui bos saya di sana. Saya disuruh ke sebuah bengkel di kawasan Cilandak untuk mengambil satu unit generator (genset) yang cukup besar dan mengantarkannya ke pelabuhan di kawasan Tanjung Priok di mana kapal-kapal perminyakan berlabuh untuk transportasi pekerja offshore dan supply. Boss saya sendiri mendapat permintaan (perintah sebenarnya) dari Operation Manager dari perusahaan minyak Amerika yang menjadi klien perusahaan di mana saya bekerja. Rupanya, genset itu harus dikirim segera ke salah satu platform di-offshore untuk penerangan, tenaga listrik untuk mengoperasikan peralatan dan permesinan.Tanpa banyak tanya saya berangkat bersama sopir kantor menuju bengkel generator itu,” tuturnya.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
Sampai di lokasi, ia kaget luar biasa karena genset itu besar sekali. Cukup besar untuk mengisi penuh satu truck long chassis dan beratnya pasti lebih dari 10 ton. Ia pun bertanya-tanya, bagaimana mencari truk untuk membawanya ke Tanjung Priok, bagaimana mencari forklift, dan bagaimana menaikannya ke truck, bagaimana membawanya ke Tanjung Priok, bagaimana menurunkannya dari truck dan bagaimana menaikannya ke deck Tug Boat yang sudah menunggu. Hal itu membuat hatinya cemas, tapi berusaha untuk tidak panik karena si bos mempercayakan kepadanya.
“Jabatan saya sebagai Administration & Personnel Supervisor, tapi harus melakukan pekerjaan yang sifatnya teknis. Langganan adalah raja, itu yang dilakukan bos saya dan melimpahkannya kepada saya. Saya sama sekali tidak berkeberatan dan enjoy saja melaksanakannya,”imbuhnya.
Singkat cerita, genset itu sampai di dermaga di mana Tug Boat menunggu. Tugas-tugas yang harus dilakukan selanjutnya dengan dibantu sopir kantor pada hari libur itu adalah mencari forklift, mobile crane untuk menurunkan dan menaikan genset itu ke deck Tug Boat, mencari tenaga kerja untuk mengikat genset, dan membantu operator forklift dan crane. Genset berhasil diturunkan dari truk dan sudah berada di dermaga dekat ke deck Tug Boat. Tinggal tugas mobile crane yang akan mengangkat genset dan mendudukannya di atas deck Tug Boat.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Hatinya berdegup melihat mobile crane mulai mengangkat genset dan mulai mengarahkan genset keatas deck Tug Boat. Tiba-tiba crane kehilangan keseimbangan pada saat genset sudah ada di pinggiran Tug Boat. Genset juga bergoyang dan dalam hitungan detik. OMG! Genset itu lepas dari tali gantungannya dan jatuh menimpa pinggiran Tug Boat langsung kecebur masuk air.
“Saya hampir pingsan kaget melihatnya. Rupanya, tanah dudukan mobile crane itu tidak padat jadi salah satu kakinya amblas dan terjongkang,” katanya.
Saat itu, ia langsung menelpon bosnya dan tidak bisa manahan tangisnya.
“Saya minta maaf karena telah mengecewakannya dan tentu saja telah mendatangkan kerugian besar karena genset itu baru selesai di-overhaul dan akan digunakan di salah satu platform. Jawaban bos saya menghentikan tangis saya, ‘Don’t worry Asfar, that’s not your fault, you have done your job, don’t cry mate,’ jawabnya dengan gaya Australian-Englishnya.”
Saat itu, ia tetap saja menangis menyesali kejadian itu. Selesai kontak sana-sini, ia akhirnya bisa meninggalkan genset itu di dermaga setelah dikeluarkan dari dalam air. Orang bengkel genset itu akan mengambil keesokan harinya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
“Senin siangnya, Operation Manager perusahaan minyak Amerika itu datang ke kantor saya menemui Bos saya dan memanggil saya. Sama sekali, saya tidak diomeli atau dimarahi. ‘That’s not your fault Asfar. That’s my fault. Thank you anyway’ katanya yang melegakan.
“Sampai sekarang, saya kagum bagaimana orang expatriate itu mengambil tanggung jawab atas kesalahan dan kerugian yang timbul karena dia menyuruh orang yang tidak kompeten sama sekali untuk melakukan pekerjaan seperti itu,” paparnya.
Dikatakannya, mengembangkan SDM, tidak bisa diabaikan karena akan menentukan keberhasilan dari pembangunan yang dilakukan di negara ini. Seperti yang disebutkan oleh Anies Baswedan dalam kampanyenya dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta bahwa untuk membangun Jakarta, pembangunan SDM-nya perlu diprioritaskan.
Pembangunan akan gagal kalau tidak dilakukan oleh SDM yang handal dan berkualitas. HRD Management akan memfasilitasi bagaimana pembangunan dan pengembangan SDM itu dilaksanakan.
Trainer & HRD Consultant ini memberikan inspirasi dan nya kepada orang yang membaca kisahnya ini.
“Sekarang, sudah zaman information & communication technology yang berjalan seiring. Kita sudah dimanjakan oleh berbagai software berupa aplikasi, hardware berupa gadget yang berkembang semakin canggih. Berbagai media sosial tersedia untuk digunakan. Kepada orang-orang yang punya pengetahuan tertentu, marilah kita minta agar mau berbagi melalui media sosial seperti Facebook dan WhatsApp. Tulislah buah pikiran Anda yang bermanfaat bagi orang lain. Masyarakat membutuhkan informasi dari berbagai arah. Untuk menulis tidak perlu sekolah khusus kalau hanya untuk menulis sekedar membuat artikel pendek. Untuk saran, gunakan waktu secara produktif. Hindari melamun, berpangku tangan yang tidak berarti,” bebernya.
Alumni Fakultas Keguruan Sastra Seni (FKSS), Jurusan Bahasa Inggris IKIP Padang, Bukit Tinggi ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impiannya ke depan.
“Untuk ke depan ini, saya akan konsentrasi meneruskan menulis dan menyelesaikan buku-buku HRD saya. Sangat dirasa kurangnya buku pegangan untuk mata kuliah MSDM di perguruan tinggi. Banyak Dosen yang mengajar MSDM menggunakan text book import dan sangat teoritis sekali. Jadi, tidak applicable di tempat kerja. Saya menulis sebagai praktisi HRD dan saya tahu yang dibutuhkan oleh orang HRD. Untuk impian ke depan, saya mengharapkan pihak Dikti memikirkan agar HRD Management bisa dijadikan salah satu prodi, program studi, yang sejajar dengan Finance, Accounting Marketing, dan lainnya. Bagaimanapun HRD Department harus ada pada setiap perusahaan sebagaimana department lainnya,” pungkasnya.
Baca juga: Daftar Universitas Kuliah Jurusan Bisnis Manajemen di Indonesia