HarianBernas.com – H Muhammad Yazid, SAg, dalam perjalanan karirnya sebagai anggota dewan turut merintis paguyuban dukuh pertama kali di Sleman bernama Cokro Pamungkas. Sebelum adanya paguyuban, posisi dukuh seringkali hanya menjadi ujung tombak dan pelengkap penderita. Untuk itu, bersama dengan para dukuh Perintis Pak Wagiarto, Pak Zakarsi, dan Pak Warno Alm ( Mas Wan ), Yazid memberikan solusi agar para dukuh membuat pressure grup berupa sebuah paguyuban.
?Dukuh yang berjumlah 1212 di Sleman, eman-eman merasa selalu diajak, tapi tidak pernah mendapat panggung. Kalian mbok punya paguyuban, paguyuban dukuh untuk menjadi pressure group, dalam artian posisi tawar untuk bisa memperoleh kebijakan umum. Ya, menuntut haklah karena selama ini hanya mendapatkan bagian pelungguh. Ya kalau pelungguhnya di daerah Depok, tidak masalah. Kalau daerah Prambanan, kasihan sekali, kering kerontang,? ungkapnya ke Bernas.
Setelah rapat kecil itu, diadakan pertemuan di balai desa Sumber Agung untuk membuat paguyuban. ?Dulu idenya hanya Sleman barat, akhirnya Sleman tengah dan timur, merespon. Kemudian, menyusun Cokro Pamungkas itu. Dari situ, komunikasi terus sama saya. Untuk pertama kali itulah muncul paguyuban dukuh di Sleman dari empat (4) kabupaten satu (1) kota di DIY. Saat itu, kita merintis paguyuban, kemudian merintis untuk kesejahteraan, yaitu tunjangan ADD (Alokasi Dana Desa dari APBN) untuk kesejahteraan dukuh. Saat itu, 500 ribu sekitar tahun 2000-an. Alhamdulilah, cukup berdaya,? jelasnya.
Dewan penyuka hobi Moge dan Trail ini pun menceritakan tentang Pak Wagiarto, seorang Pak Dukuh Dusun Pendulan, Moyudan, Sleman yang aktif dalam kegiatan dan komunikasi di paguyuban Cokro Pamungkas sehingga informasi-informasi peluang yang ada di kabupaten Sleman bisa diakses sama beliau, misal pembangunan jalan.
?Dulu belum ada namanya pembangunan jalan lingkungan. Dulu adanya cuma swadaya masyarakat. Salah satunya, di tempatnya Pak Dukuh ini, saya dulu carikan aspal. Tidak punya uang ya saya pinjamkan truk dari Pemda, PU. Dulu kan, tahun 2000-an, jalan-jalan kampung masih tanah, belum ada proyek jalan lingkungan. Tidak seperti sekarang, jalan lingkungan dibangunkan. Beliau ini yang merintis di awal-awal tahun itu meristis jalan, infrastruktur, dan kepentingan yang lain. Banyak hal yang diperjuangkan oleh beliau lewat kami,?urainya.
Alhamdulilah, pemberdayaan masyarakat yang didampingi Wakil Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan ini meraih penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup tingkat nasional. ?Beliau ini (Pak Wagiarto,-red) membuat selokan sepanjang 4 km yang swadaya murni, bukan program Pemerintah. Dibangun 3 sampai 4 tahun. Di Kulon Ngijon, Dusun Pendulan, ada sungai besar, tapi dalam. Air permukaan sumur pun sangat dalam sehingga kemarau nyaris tidak ada air, kayak Wonosari. Masuk kampung, lihat air mengalir, sisi kanan Sungai Progo, sisi kiri juga ada sungai. Tapi, ketika kemarau tidak ada air karena sungainya dalam sehingga air permukaan tersedot. Dengan kekompakan, warga membuat irigasi dengan membuat bendungan di Gandri dahulu, kemudian selokan sepanjang 4 km dialiri air. Setelah teraliri, kampung beliau menjadi ijo royo-royo, sampai-sampai tidak hanya kebun yang ditanami segala macam buah dan sayuran, bahkan sampai-sampai di pinggir kanan kiri jalan ada polybag tanaman. Kolam-kolam juga banyak di kampungnya. Dusun Pendulan ini sampai-sampai menjadi pilot project, menjadi jujugan, tidak hanya dari kampung-kampung dari Moyudan, Sleman, tapi di luar Sleman sebagai contoh yang baik,? paparnya.
Anggota Komisi D DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta juga menginisiasi gerakan antisipasi rentenir melalui Ibu Suharti, pensiunan guru, sebagai penggerak.?Beliau ini, kita ini carikan bansos sekitar 5 juta. Ya, sampai sekarang, jumlahnya bertambah sekitar hampir 16-20 juta, baru sekitar 4 tahun. Beliau menggarap bakul anyaman, bakul tempe, bakul kecil-kecil. Daripada terjerat rentenir, dana bansos itu diakomodasi untuk dilakukan simpan pinjam, ada sisa hasil usaha, dan segala macam. Sekarang, asetnya 16 juta. Beliau juga merintis bank sampah. Kalau di kota wajar, tapi ini di kampung Deles, pinggir Progo. Bank sampah ini tidak hanya sekedar cinta lingkungan, tapi menghasilkan uang. Setahun yang lalu, Pak Dukuh juga mendapat program IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Kalau di kota wajar dengan bahaya bakteri coli, tapi beliau ini di kampung bikin IPAL. IPAL diresmikan langsung oleh KGBH Paku Alam X, Wakil Gubernur, Kanjeng Bimo. Warga juga merespon dengan luar biasa dan menyambut baik. Kanjeng Bimo menyempatkan diri untuk hadir dan takjub supaya nanti ditindaklanjuti dinas koperasi dan lingkungan hidup untuk memperhatikan itu. Dusun Pendulan, bisa untuk sampling bagi masyarakat lain untuk berbuat baik,?bebernya.
Tak dipungkiri, sebetulnya masih banyak kegiatan lain dari Ketua Umum FORKI (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia) DIY ini. Ia memang banyak menawarkan program, bukan uang untuk banyak kampung yang lain. ?Kader-kader selalu saya minta sosialisasi kepada masyarakat bahwa saya siap membantu masyarakat. Apapun sebisa mungkin saya bantu. Memfasilitasi masyarakat yang membutuhkan. Apa yang dilakukan terdata selama 20 tahun,? ujar pria yang sudah 5 kali periode menjadi anggota DPRD DIY ini.
Mantan Aktivis IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) menceritakan sisi pribadinya yang unik lainnya, yaitu ia dulu tidak bisa bicara di podium. ?Karena jadi politisi, mau nggak mau, harus belajar karena saya bukan seorang orator atau orang terbaik di PPP, tapi belajar karena pengalaman saja,?imbuhnya.
Selama ini terus menekuni karir sebagai anggota dewan, ia menyikapinya secara keimanan. ?Sebagai seorang muslim, ini garis tangan saya, memang Allah berkehendak jalur saya di dunia politik. Beberapa kali mendapat tawaran atau ajakan dari calon wakil Bupati untuk menjadi calon wakil Bupati tapi sementara ini saya tolak secara halus, karena saya merasa belum mampu atau siap secara financial dan secara partai pengusung. saya merasa, jalur saya jalur legislatif, yang mempunyai fungsi kontrol, budgeting, dan fungsi aspirasi. Jadi Saya lebih enjoy di sini.?
Untuk permasalahan induk partai, ia menjawab bahwa permasalahan itu dinamis.?Partai baru ada dua kubu dan keduanya, menurut kami, sebagai orang Islam, kalau itu sebagai imam sudah batal sehingga keduanya harus mundur dan dilakukan Muktamar Luar Biasa untuk menyusun Ketua dan pengurusan DPP yang baru.
Sarjana Ilmu Agama Islam ini pun memberikan inspirasinya melalui kisahnya ini.?Biar masyarakat tahu, apa yang sudah saya lakukan, apa yang sedang saya lakukan, apa yang akan saya lakukan. Misi saya, supaya paham betul, tidak semua anggota dewan itu jelek, tentu saja, tidak semua polisi itu jelek, tidak semua dokter itu baik. Saya ingin menampilkan sosok figur anggota dewan yang baik. Saya tidak merasa baik, mungkin masih banyak yang lebih baik dari saya, tapi ada kisi-kisi yang ingin saya tonjolkan kepada masyarakat, jelas terukur. Setiap pemilu, saya tidak pernah pakai uang, tetap allhamdullilah pemilu yang terakhir mendapatkan suara terbanyak ke dua. Saya menyiapkan diri untuk membantu, melayani, dan mengadvokasi kepentingan masyarakat siap melayani selama 24 jam. Walaupun tidak harus ketemu saya, tapi staf-staf saya selalu siap membantu ? pungkasnya.
