HarianBernas.com – Fanny Dhaniswara menyebut dorongan untuk membagikan pengetahuan dan kesadaran tentang kepribadian/personality sebagai keunikan dan potensi manusia menjadi alasannya untuk terus menekuni bidang pekerjaan ini sampai sekarang. Untuk itulah ia juga lebih suka menyebut profesinya ini sebagai Personality Learner.
?Dengan memahami kepribadian/personality, saya percaya orang akan terbantu untuk menjadi lebih efektif dalam melakukan tugas/peran, berinteraksi, dan berkomunikasi tidak hanya di lingkungan pekerjaan saja, tapi juga di luar pekerjaan, misal di keluarga,? ungkapnya ke Bernas (2/5).
Untuk itulah materi soft skill berbasis personality ini tidak hanya diberikannya kepada karyawan di perusahaan, namun juga untuk komunitas lain seperti pasangan suami-istri, remaja dan juga untuk para guru untuk memahami potensi kepribadian murid-muridnya.
Pria kelahiran Yogyakarta ini membagikan pengalaman khusus yang menjadi titik baliknya dalam pekerjaannya. Ketika itu, ia masih bekerja di perusahaan dan berkesempatan memberikan pelatihan kepada karyawan internal (yang notabene banyak teman sendiri). Saat presentasi itu, ia hanya membacakan isi slide saja hingga akhirnya seorang peserta yang duduk di paling depan mengatakan ?Sudahlah diprint saja dan kita bisa baca sendiri materinya?. Itulah pengalaman yang tidak akan pernah dilupakannya karena sebagai seorang introvert ingin cari aman saat presentasi dan menghindari membuat interaksi dua arah dengan peserta.
Dari pengalaman itu, akhirnya ia terus mengasah ketrampilan berbicara, presentasi, dan interaksi. ?Hal ini tentu saja menjadi usaha yang sangat berat bagi saya sebagai seorang yang introvert. Dari sini pula, saya menyadari bahwa sifat-sifat kepribadian kita sebenarnya bisa diolah untuk menjadi keunikan dan potensi kita untuk menjadi lebih baik dan efektif dalam menjalankan peran/tugas,? imbuhnya.
Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) ini membagikan dua pengalaman uniknya di profesi yang sekarang ini, terutama ketika berhadapan dengan bermacam tipe klien. Pengalaman pertama, ketika presentasi di depan dewan direksi sebuah perusahaan.
Awalnya, ia berpendapat bahwa di level direksi, presentasi harus sangat logis terstruktur dan dengan durasi yang pendek. Namun, ternyata orang-orang ini bukan tipikal tersebut ketika ia mulai berinteraksi melalui sesi presentasi proposal.
Baginya, dewan direksi ini ternyata bertipe penuh pertimbangan dan berhati-hati dalam memutuskan serta dominan menggunakan pendekatan rasa/perasaan ketika berinteraksi. Akhirnya, ia harus mengubah cerita dalam presentasi tersebut untuk bisa mendapatkan persetujuan dari mereka.
Pengalaman kedua, ketika meeting dengan klien, di mana ia dan tim awalnya merasa tidak diperhatikan/dihargai oleh klien tersebut karena hanya pada saat berbicara dia tidak melihat kami. ?Saya menduga saat itu bahwa klien ini adalah orang dengan logika yang lebih menonjol daripada rasa sehingga meskipun merasa tidak diperhatikan, tetapi penjelasan saya harus tetap logis untuk meyakinkan dia. Ketika meeting selesai, perasaan tidak diperhatikan/dihargai belum hilang, namun apa yang terjadi…kira-kira 1 jam kemudian klien menelepon dan menyatakan setuju dengan isi programnya dan langsung diminta menyiapkan untuk mengajar di 7 tempat di beberapa area di Indonesia. Dari situasi ini saya dan tim banyak belajar untuk memahami orang lain dan tidak cepat berprasangka dengan sikap orang lain; karena tipikal kepribadian kita akan mempengaruhi cara kita memahami orang lain dan juga mempengaruhi cara orang lain bersikap kepada kita,? ucap ceritanya panjang.
Untuk permasalahan yang paling sering dihadapi dalam pekerjaannya, ia menjawab bahwa tantangan yang dihadapi, terutama saat menyusun materi pelatihan yang mudah dicerna dan memacu peserta untuk berubah. Di sisi lain, materi tersebut dapat dibawakan oleh siapapun trainernya dan memberi fleksibilitas kepada trainer untuk menambahkan cerita pengalaman dan inspirasi. ?Itulah ketika menyusun materi, saya harus menempatkan diri sebagai peserta pelatihan sekaligus trainer sehingga bisa mengakomodasi keduanya. Dan yang pasti bahwa isi materi pelatihan harus pernah saya praktekkan dan alami sehingga materi tersebut ?kaya? secara isinya,? jelasnya.
Trainer ini juga memaparkan tentang tantangan pekerjaan ke depan yang akan dihadapi.?Orang makin menyukai hal-hal yang bersifat cepat dan instan (dalam hal ini bisa dikatakan HASIL) sehingga melakukan PROSES untuk lebih mengenali potensi diri, memahami orang lain, dan mengembangkan diri perlu selalu diingatkan. Untuk itu, penyebaran tentang hal ini terus akan saya lakukan dan rencana dengan berbagai macam bentuk. Tidak hanya melalui interaksi training di kelas, tapi juga dalam bentuk lain misal buku, video pendek yang bisa diakses (untuk kedua hal ini masih dalam tahapan brainstorming),? terangnya.
Pengagum sosok Andy F Noya ini menyebut bahwa bidang yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat.?Karena saya percaya bahwa personality/kepribadian adalah UNIK dan SPESIAL sehingga hal ini menjadi potensi bagi setiap orang untuk berkembang lebih baik. Untuk para pekerja di kantor, personality/kepribadian misal membantu memahami tugas dan peran apa yang dapat menguras energi dan bagaimana memahami tipe atasan/rekan kerja/klien. Untuk remaja, untuk dapat memahami potensi masing-masing dan berhadapan dengan orang-orang yang lebih senior/dewasa. Untuk para guru, personality/kepribadian misal meningkatkan efektifitas gaya mengajar dan memahami potensi siswa di kelas. Untuk pasangan suami-istri, untuk memahami kebiasaan/kecenderungan pasangan dalam berkomunikasi dan mengambil keputusan,? ujarnya.
Alumni Kolese De Britto ini membagikan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ?Untuk memahami diri sendiri (self-awareness), menggali potensi, dan memanfaatkan potensi tersebut untuk berkontribusi buat kebaikan orang lain. Untuk saran, percaya bahwa Tuhan menciptakan setiap persona dengan unik dan spesial. Luangkan waktu untuk menggali potensi diri dan memahami orang lain sehingga kita bisa membantu mereka dengan potensi kita. Tidak dibatasi ruang dan waktu. Dan berkolaborasi dengan potensi dan keunikan orang lain,? katanya.
Chief Instructional Designer di TheConsultant (PT. Harmoni Global Persona) ini membocorkan tentang project dalam waktu dekat dan impiannya ke depan. ?Rencana untuk membuat video pendek yang menjelaskan tentang personality dalam bentuk adegan drama singkat. Untuk hal ini baru dalam tahap brainstorming konsep dengan teman yang memiliki usaha industri kreatif production house sehingga belum bisa saya ceritakan banyak. Untuk impian ke depan, pemahaman tentang personality dikuasai oleh para guru/pendidik dan materi ini juga diberikan kepada murid/remaja, dan calon atau yang sudah pasutri,? pungkasnya.