HarianBernas.com ? Sushi merupakan makanan khas Jepang yang kian banyak diminati oleh masyarakat dunia. Namun di balik melejitnya popularitas sushi, ternyata bahaya juga turut mengintai. Tim dokter asal Portugal menyatakan kalau semakin tingginya konsumsi sushi di luar Jepang turut berdampak pada kian banyaknya kasus-kasus infeksi oleh cacing usus di luar Jepang.
Hal tersebut disampaikan oleh tim dokter tadi dalam jurnal penelitian yang dimuat di BMJ Case. Mereka menyodorkan contoh kasus yang menimpa seorang pasien berusia 32 tahun yang awalnya mengeluh kalau perutnya merasa sakit selama sepekan. Pemeriksaan lebih seksama lantas menemukan kalau pria tersebut menderita anisakiasis.
Tim dokter yang sama juga melaporkan kalau hanya dalam kurun waktu tiga tahun antara tahun 1999 hingga 2002, ada 25 kasus anisakiasis yang muncul di Spanyol. Semua pasien diketahui memiliki kebiasaan mengkonsumsi ikan mentah.
Anisakiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit dari genus Anisakis. Orang yang terinfeksi cacing ini bakal mengalami gejala-gejala seperti sakit perut, demam, dan bahkan pendarahan usus. Anisakiasis sendiri terjadi jika seseorang mengkonsumsi ikan mentah yang mengandung telur atau larva cacing Anisakis.
Tidak ada pengobatan yang efektif untuk menyembuhkan anisakiasis begitu larva cacing ini memasuki tubuh manusia. Satu-satunya cara untuk menyembuhkan penyakit ini adalah dengan cara melakukan pembedahan dan mengeluarkan cacingnya dari dalam tubuh pasien.
Cara paling manjur untuk terhindar dari anisakiasis adalah dengan tidak mengkonsumsi ikan mentah sama sekali. Namun jika seseorang sudah terlanjur menyukai sushi dan hidangan laut mentah lainnya, lembaga FSA yang menangani masalah keamanan pangan memiliki solusinya tersendiri.
Solusi tersebut adalah menyimpan ikan mentah yang hendak disajikan dalam lemari pendingin selama sekurang-kurangnya empat hari dengan suhu maksimum -15oC. Tujuannya untuk membunuh cacing-cacing Anisakis yang masih ada dalam tubuh ikan tersebut.
