HarianBernas.com – Andesia Wiratama mengaku bukanlah seorang anak yang pintar atau berprestasi pada saat menempuh pendidikan SD hingga lulus Kuliah S2. Banyak anak-anak yang lebih pintar dan lebih cerdas dibandingkan dengannya, tapi ia percaya satu hal.
?Meski saya lambat asal saya fokus dan memiliki kemauan yang kuat untuk berprestasi, saya yakin saya bisa mencapai di posisi seperti ini. Waktu itu setelah lulus S2, saya pernah mengikuti tes simulasi untuk IQ dan hasilnya cukup mengecewakan, padahal satu minggu lagi, saya akan menghadapi ujian kualifikasi awal dari sebuah bank ternama. Saya sadar akan kelemahan saya sehingga setiap hari saya pelajari soal IQ test itu sendiri, melakukan hal konyol seperti menghapalkan perkalian, penjumlahan, pengurangan dan pembagian,? ungkapnya ke Bernas (17/4).
Akhirnya, dengan mempelajari soal IQ test itu secara terus menerus dengan fokus, pada saat hari tes, ia ternyata termasuk di dalam 50 partisipan yang lolos IQ test. ?Di sinilah, saya mempercayai segala sesuatu berhasil bukan hanya karena bakat, tetapi kegigihan dan fokus yang dilakukan dalam keseharian seseorang untuk mencapai apa yang diinginkannya,? tuturnya.
Sarjana Ekonomi ini kini menekuni bidang pekerjaan yang bergerak di people development sebagai trainer softskill di bidang selling, service, communication, dan leadership. ?Tujuannya adalah untuk meningkatkan kinerja dan kompetensi karyawan efektif dan efisien di dalam profesionalismnya,? katanya.
Alumni Universitas Trisakti ini pun menjelaskan tentang alasan terus menekuni bidang pekerjaannya sampai sekarang ini.?Saya menyukai bidang saya karena pengetahuan itu tidak pernah ada batas kadaluarsanya dan selalu berkembang. Dan bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman adalah hal yang baik setidaknya bisa berguna buat orang lain apabila tidak memberikan solusi kepada mereka setidaknya mereka mendapatkan pembelajaran untuk bekal ke depannya,? ujarnya.
Master of Business Administration (MBA) International ini memaparkan permasalahan yang paling sering dihadapi dalam bidang pekerjaannya.?Masalah yang paling sering dihadapi di dalam training adalah partisipan terlarut dengan pengalamannya dan apa yang dipercayai olehnya. Apakah hal itu salah, tidak juga, tapi sangat disayangkan partisipan training itu tidak dapat belajar sesuatu hal yang baru. Bagaimana menyikapinya adalah dengan menjadi teman mereka, mendengarkan, dan memahami sudut pandang mereka terlebih dahulu untuk mendapatkan kepercayaan mereka. Kemudian, mengajak mereka melihat dari perspektif lain dengan analogi ?what if?, ?chance of possibilities?, dan ?the probability? sehingga mereka mau melihat dan mendengarkan ide-ide baru yang dapat membantu mereka berkontribusi lebih baik lagi. Seperti yang di katakana Einstein ? Doing the same thing but expecting different result is insanity?, jadi kita perlu mengubah paradigma dan pola pikiran kita untuk lebih maju lagi,? paparnya panjang.
Alumnus Edith Cowan University ini juga membagikan tentang tantangan ke depan yang akan dihadapi terkait dengan bidang pekerjaannya. ?Tantangan ke depan di dunia learning and development adalah bukan e-learning lagi. Namun adalah Interface Virtual Reality (VR) Training di mana training tidak dilakukan secara Face to Face Training lagi. Dengan kemajuan dan kecanggihan teknologi dan digital era, dalam waktu 5 tahun ini, kemungkinan akan terjadi di dunia global. Bagaimana saya menyikapinya, saya sangat senang dengan perubahan ini. Artinya, kita harus mulai mempersiapkan diri ke arah sana dan bagaimana kita bisa fit in di dunia innovative ini ke depan-nya. Artinya, saya tidak akan terpaku dengan cara yang saat ini saya lakukan. Saya harus mulai berpikir menyesuaikan untuk kedepannya memadukan training dengan perkembangan teknologi,? urainya panjang.
Bachelor of Business Administration (BBA) Honors ini membangun habit khusus selama ini untuk mendukung pekerjaannya. Ia memiliki kebiasaan membangun ?respect? dan ?discipline?. Saling menghormati bertujuan untuk menjaga perilakunya terhadap orang lain, menciptakan rasa nyaman, aman, dan percaya terhadap sesama. Disiplin bertujuan adalah agar dirinya tetap fokus pada arah tujuan, menjadi seseorang yang dapat diandalkan dan selalu menyelesaikan segala tanggung jawab apa yang telah dipercayakan kepadanya. Ia juga menjelaskan tentang bidang pekerjaannya yang penting untuk dilakukan dan dibagikan ke masyarakat.?Penting agar pengetahuan dan kompetensi masyarakat Indonesia semakin berkembang dan memunculkan banyak kreatifitas dan inovasi didalam berkontribusi. Pengetahuan yang baik dapat memberikan kesempatan banyak orang untuk menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya,? imbuhnya.
Penyuka hobi olahraga ini mengungkapkan tentang pencapaian yang paling membanggakan baginya, yaitu dapat membuka perusahaan konsultan training di usianya saat ini. Meskipun tergolong masih pemula, perusahaan konsultan itu merupakan impian pribadinya dan menjadi sebuah hal yang sangat disyukurinya. Ia pun memiliki cara mudah agar kembali bersemangat bekerja. ?Cukup berdamai dengan diri sendiri dan sadar bahwa ada kalanya sesuatu terjadi di luar dari kuasa diri sendiri. Cukup mengakui hal itu maka mood kita akan terus terjaga. Tapi, kalau refreshing, saya lebih senang melihat ke pemandangan yang alami, lebih menyenangkan buat saya,? imbuhnya.
Pengagum sosok Ayah ini menawarkan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini.?Apapun keadaan kita, harus selalu percaya bahwa kita bisa melakukan sesuatu hal yang lebih besar dan lebih baik. Yakin pada diri sendiri dan disiplin dengan yang namanya proses. Setelah Anda behasil, jadilah seseorang yang berguna untuk orang lain, membantu mereka untuk sukses termasuk dari kewajiban kita. Untuk saran,fokus dengan apa yang ingin Anda tuju. Jadikan itu passion Anda dan disiplin dalam menjalani kegiatan kesehariannya,? bebernya.
Penghargaan pun pernah diraihnya pada tahun 2008 & 2009 saat bekerja di sebuah perusahaan financial industri. ?Saat itu, saya bekerja di bidang penjualan dan banyak yang tidak percaya bahwa saya akan berhasil di dalamnya. Tahun pertama bekerja, saya mendapatkan 1st Runner-up New Business Commission (2008). Pada tahun berikutnya, saya mendapatkan penghargaan Top New Business Income, Top New Business Commission, Top New Recruitment, dan masuk kedalam Ambassador Level ditahun 2009,? skatanya bercerita.
Penyuka hobi travelling ini membocorkan project dalam waktu dekat dan impiannya. ?Project saya dalam waktu dekat ini adalah dapat memberikan pelatihan-pelatihan gratis untuk perusahaan kecil atau mikro di bidang soft skill dan leadership. Tujuannya adalah membantu dan mengembangkan kompetensi mereka dalam bersaing dengan perusahaan yang telah besar. Untuk impian, agar perusahaan paham betul bahwa investasi terbesar sebuah perusahaan itu adalah pada karyawannya. Hal ini dikarenakan mereka adalah aset yang sangat berharga yang tidak mudah ditiru. Dengan membekali mereka pengetahuan dan kemampuan yang baik maka kreatifitas dan inovasi akan lahir di dalamnya. Oleh karena itu, perusahaan tidak lagi menganggap bahwa pelatihan itu adalah sebuah beban, melainkan investasi yang sangat berharga. Tidak ada lagi karyawan yang hanya sekedar bekerja di perusahaan, melainkan karyawan yang kompeten yang memiliki ilmu atau nilai lebih didalam perusahaan perusahaan tersebut,? pungkasnya.
