HarianBernas.com – Heri Purnomo, SPd memiliki tahapan yang unik dalam kehidupannya. Ia pernah berontak dan meninggalkan orangtuanya di Blitar untuk dapat bekerja di Jakarta dengan tekad, mau kuliah. Ayahnya saat itu tidak mampu menguliahkannya, tapi ia tetap ngotot sehingga nekad minggat dari rumah untuk merantau di Jakarta.
Saat itu, keinginannya hanya sederhana, yaitu ingin bekerja menggunakan dasi. Ya, menjadi orang kantoran. “Apa sudah pernah merasakan tidur dengan berselimutkan kantung semen? Saya keliling mencari pekerjaan hingga uang pegangan saya dari kampung habis. Tak ada satupun yang menerima saya dengan ijasah-ijasah kebanggaan saya itu. Akhirnya, singkat cerita saya diterima menjadi kuli bangunan saat itu. Saya saat itu menjadi kuli bangunan salah satu rumah gedongan di Pondok Indah Jakarta. Di situ saya belajar mengaduk semen melakukan pekerjaan pekerjaan berat. Tapi, saya tidak lupa misi saya ke Jakarta, menjadi seorang pekerja berdasi,” ungkap kisah hidupnya ke Bernas (18/4).
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Namun, Tuhan ternyata memprosesnya pria kelahiran Blitar ini dengan masih panjang dari titik itu hingga saat ini bisa menekuni karir sebagai trainer dan life coach di perusahaan yang didirikannya, yakni PT Tiga Sekawan Solution. Setelah proyek bangunan selesai, ia kemudian bekerja sebagai pengelola salah satu wahana di Taman Mini Indonesia Indah. “Di situlah saya menjadi pengangkut sampah di Wahana Keliling Nusantara (miniatur kepulauan Indonesia) pada hari kerja dan ketika akhir pekan, saya menjadi pemandu perahu membawa wisatawan keliling pulau-pulau. Saya juga pernah bekerja di Katering Asrama Haji Pondok Gede untuk membantu membersihkan peralatan katering. Hingga suatu saat ada kesempatan datang dari mantan Mandor saya (saat saya menjadi kuli bangunan) sebagai pembantu rumah tangga di rumahnya. Sebagai bayarannya saat itu, saya meminta kepadanya untuk mengkurususkan saya komputer pada saat itu. Pagi hingga sore saya bekerja, memasak, mencuci baju, dan semua pekerjaan rumah tangga. Malam hari saya pergi untuk kursus,” ucap ceritanya.
Sampai suatu ketika, ada tetangga di sekitar tempat tinggal mandornya itu menawarakan ada lowongan pekerjaan di salah satu restoran. Restoran ini adalah tempat di mana dirinya bisa berkembang dan mendewasakannya. “Di restoran tersebut, saya untuk pertama kalinya setelah beberapa proses panjang, saya menjadi karyawan berdasi. Ya, restoran tersebut adalah restoran international McDonald's. Saya bekerja selama 16 tahun, mulai dari crew hingga GM. Di sana, saya banyak belajar dan dibentuk. Berbagai kompetisi dalam perusahaan McD saya ikuti dan selalu menang. Kemenangan inilah yang membuat saya dibukakan kesempatan untuk ke India untuk membuka store pertama di sana, keliling Eropa dengan tim saya, hingga saya dikuliahkan Management di Hamburger University, Sydney, Australia. Setelah saya punya pekerjaan tetap, saya tidak lupa dengan cita-cita awal saya, yakni kuliah,” bebernya.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
Pada tahun 2000, ia bertekad untuk mengambil kuliah di bidang Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta. “Pendidikan adalah salah satu bidang terdekat yang saya kenal. Ayah saya adalah seorang guru. Bekerja dan kuliah adalah hal yang sangat berat, tapi ketika saya berpikir untuk menyerah, saya selalu ingat kenapa saya bisa sejauh ini. Perjuangan saya akan terhenti dengan kesia-siaan apabila saya berhenti. Saya lulus dengan gelar SPd. Tak hanya itu, saya lulus dengan predikat lulusan terbaik. Saat itu, saya undang orangtua saya datang ke Jakarta untuk menghadiri wisuda saya,”paparnya.
Ketika ditanya tentang permasalahan yang sering dihadapi dalam pekerjaan, ia menjawab secara bijaksana bahwa ia tidak pernah melihat masalah sebagai masalah,tapi ia selalu melihatnya sebagai kesempatan untuk mempelajari hal baru. Baginya, masalah itu sebenarnya hanyalah sudut pandang manusia. “Masalah menurut Anda belum tentu itu masalah buat saya, begitu sebaliknya. Jika itu tidak terpecahkan karena ilmu kita belum sampai di sana. Itu kenapa mempelajari hal baru harus dilakukan setiap saat, perbaharui terus ilmu kita. Masalah adalah cara pendewasaan diri. Masalah yang sering kali dihadapi adalah kesulitan komunikasi terhadap perbedaan sudut pandang,” imbuhnya.
Dari beberapa ilmu yang sudah dipelajari sampai saat ini, ia membagikan 3 kunci utama untuk menghadapi masalah.”Pertama, tingkatkan pengetahuanmu terhadap masalah tersebut. Konsepnya begini, ketika Anda menghadapi masalah, sesuatu yang Anda sebut “masalah” itu adalah ketika level pengetahuan Anda dan level masalah tersebut adalah sama, bahkan lebih kecil. Kunci utamanya adalah pengetahuan Anda harus berada di atas level masalah Anda. Kedua, Empati. Tempatkan diri Anda di posisi orang lain. Hal ini dapat membuat Anda memiliki sudut pandang yang berbeda sehingga kalau anak jaman sekarang menyebutnya ‘tidak baperan’. Tidak mudah terbawa emosi. Karena terkadang, permasalahan yang tak kunjung selesai itu adalah masalah yang terlalu melibatkan emosi sehingga akal sehat kurang berperan. Ketiga, tetap positif dan pantang menyerah. Masalah kadang memukul kita atau membebani kehidupan kita. Kebanyakan orang menganggap remeh hal ini. Hal negatif dengan mudahnya memicu hal-hal negatif lainnya. Bagaimana menghentikannya? Mulailah dengan berpikir positif maka hal-hal positif lainnya pun mengikuti. Bersyukur adalah salah satu metode efektif untuk permulaan yang positif,” urainya.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Terus menekuni bidang pekerjaan saat ini, dikatakannya, ilmu itu adalah hal paling berharga yang membuat martabat manusia bertambah. Namun, bukan hanya meningkatkan ilmu diri sendiri. “Dari Ilmu yang saya dapatkan, saya juga belajar bahwa ilmu itu bertambah manfaatnya ketika diaplikasikan dan dibagikan. Saya tidak mau membawa mati ilmu saya. Saya tidak mau otak saya penuh dengan ilmu yang sama setiap waktu. Saya mendapatkan sesuatu yang baru, selalu dari setiap saya membagikannya. Hal itu yang membuat saya bertahan untuk menggeluti profesi saya saat ini. Di sisi lain, saya sebagai seorang sarjana pendidikan juga merasa memiliki tanggung jawab dalam pendidikan anak bangsa. Salah satu yang saya tekankan terutama pada pendidikan karakter. Saya ingin generasi muda, paham betul potensinya dan memaksimalkannya,”jelasnya.
Alumni Charlie Bell School of Management, Thorn Leigh Sydney Australia ini memberikan inspirasinya kepada orang yang membaca kisahnya ini. “Semua hal selalu dimulai dari pikiran. Perasaan sedih bisa ada karena kita memikirkan orang yang membuat Anda sedih. Berusahalah memulai segala sesuatu dengan pikiran baik, perasaan baik, ucapan baik, dan tindakan baik maka hasilnya akan baik. Hal yang membatasi hidup Anda saat ini adalah pikiran Anda sendiri. Saya selalu membagikan bagaimana sebenarnya kita bisa berkembang lebih baik adalah dengan terus berpikir untuk menjadi lebih baik. Segala sesuatunya bermula dari pikiran Anda. Ketika Anda berpikir bahwa hidup saya 5 tahun lagi akan sama saja, itu bertentangan dengan keinginan Anda untuk mendapatkan penghasilan yang lebih. Pikiran yang sama akan menghasilkan usaha yang sama dan hasil yang kurang lebih akan sama. Pikiran itu seperti parasut, hanya berfungsi jika parasut dalam keadaan terbuka,” terangnya.
Sarjana Pendidikan ini membocorkan tentang projectnya dalam waktu dekat ini dan impiannya ke depan. “Untuk ke depan, saya ingin mengembangkan usaha saya ke depan dan mengembangkan layanan personal life coach yang dapat membantu mengarahkan orang lain untuk mencapat tujuan hidupnya. Untuk impian, mengembangkan usaha saya ini sampai tahap di smana bisa menjadi learning center untuk semua lapisan masyarakat. Bermanfaat untuk orang lain lebih luas lagi,” pungkasnya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
