HarianBernas.com – Kholid Rosyidi Muhammad Nur, SKep, MNS menyebut Allah Maha Besar maka mintalah yang besar. Ia pun berbagi cerita inspiratifnya. Beberapa kali keyakinan terhadap Allah memberikan solusi bagi permasalahannya. “Jika Anda yakin Allah SWT dapat mengubah apapun yang ada di dunia ini maka tidak ada yang bisa menghalangi Anda. 10 Agustus 2014, bermodal keyakinan, saya berangkat untuk melanjutkan kuliah master (di Thailand-red). Setibanya di sana, ada beberapa tantangan yang mesti dilalui. Pertama, IPK minimal 3.00 (konsekuensi mengulang dan lulus tidak tepat waktu), Kedua, Harus tepat waktu (konsekuensi biaya sendiri jika lewat 2 tahun), dan Ketiga, Publikasi internasional,” ungkapnya ke Bernas (27/3).
Baca juga: Inilah 10 Sekolah Penerbangan Terbaik yang Ada di Indonesia
Selain tiga (3) tantangan tersebut, Sarjana Keperawatan ini juga menemui fakta di lapangan, yaitu 1. Ada mahasiswa yang DO (drop out) dan 2. Ada mahasiswa yang lulus sampai 4 tahun lamanya dengan 2 tahun tidak di-cover beasiswa. “Ketiga tantangan saling berkaitan dan harus diselesaikan dalam waktu 2 tahun kalau tidak DO karena biaya sendiri merupakan hal yang mustahil. SPP kalau dirupiahkan sekitar 32 juta dan biaya hidup minimal 3 juta perbulan,” tuturnya.
Motivator ini mulai memakai logikanya untuk mencari cara terbaik menyelesaikan semua ini, tapi halangan tak terduga selalu saja muncul dan stress selalu melanda karena logikanya selalu terbentur dengan ketidakmungkinan. ”Saya mulai meninggalkan logika dan memilih untuk percaya pada pemilik logika, yaitu ALLAH SWT. Logika milikNya bukan logika matematis, tapi logika kun fayakun maka believe or not, tiga tantangan tersebut dapat diselesaikan dengan skenario yang menawan. 8 Agustus 2016 semuanya selesai, 12 Desember 2016 publikasi internasional, dan 2 Februari 2017 ijazah ditangan. Kalau sudah bergantung kepadaNYA, masalah bagaikan debu yang tak berarti apa-apa,” ujarnya.
Dosen ini pun membagikan pengalaman uniknya yang menjadi titik baliknya ketika berproses sehingga menjadi seperti sekarang ini, yaitu pengalaman hampir tidak naik kelas ketika SMP karena menjadi anak nakal yang sangat suka main playstation dan tak pernah belajar. Setelah itu, ia mengalami kebosanan yang luar biasa dan ingin mengubah diri sehingga di masa SMA, ia mulai menemukan jati diri. Pengalaman unik ketika menjadi dosen muda, ia sering dianggap mahasiswa ketika membimbing mahasiswa praktik di rumah sakit.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Alumni Prince of Songkla University Thailand ini menjelaskan tentang alasan menekuni bidangnya sampai sekarang ini. “Untuk Keperawatan, awalnya karena arahan orangtua dan merasa berat ketika menjalani perkuliahan menjadi seorang perawat, tapi setelah lulus kuliah ada banyak keinginan antara lain untuk menjadi seorang dosen, mulai membuat buku, sampai kuliah ke luar negeri. Untuk penulis dan motivator karena dorongan hati untuk berbagi pada orang yang memiliki kelemahan bicara seperti saya,” jelasnya.
Alumni Universitas Muhammadiyah Surabaya ini juga memaparkan permasalahan yang paling sering dihadapi dalam pekerjaannya.”Takut berbicara di depan umum. Awalnya, saya memiliki gagap yang parah, tapi dengan sering berlatih saya bisa mengendalikannya. Ketakutan lain ketika ingin mencapai impian-impian yang menurut orang tidak mungkin, seperti cara menyikapinya dengan menghadapi dan mewujudkannya,” paparnya.
Penulis ini pun membagikan tantangan yang akan dihadapi ke depan dalam bidang pekerjaannya. “Tuntutan untuk melanjutkan pendidikan doktoral dengan tidak meninggalkan keluarga karena saya sekarang sudah menikah dan memiliki istri sedang hamil dan satu orang anak. Cara menyikapinya, dengan mempersiapkannya mulai dari sekarang,” ucapnya.
Pria kelahiran Jember ini pun menjelaskan bahwa bidang yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat.”Untuk keperawatan, perawat merupakan garda depan dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Untuk penulis dan motivator, saya ingin memotivasi teman-teman yang mengalami gagap berbicara seperti saya sehingga bisa sembuh dari gagapnya dan dapat meraih cita-cita yang diinginkannya,” terangnya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
Pengagum sosok Nabi Muhammad ini pun membangun habit khususnya selama ini untuk mendukung pekerjaannya, yaitu istiqomah dalam beribadah dan rajin membaca. Ia pun memiliki cara tersendiri untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja. “Relaksasi dengan jalan-jalan menikmati pemandangan sawah dan pegunungan di sekitar kampung,” imbuhnya.
Penyuka hobi menulis di blog ini membagikan inspirasi dan sarannya kepada orang yang membaca kisahnya ini. “Selalu berusaha keras dalam mencapai impian karena mewujudkan impian sebuah keharusan. Untuk saran, tetap berusaha sampai tercapai cita-cita. Jangan berhenti sampai meraihnya,” katanya.
Pemilik cita-cita ingin menjadi pelukis ini menceritakan pencapaian yang paling membanggakan baginya, yaitu lulus kuliah langsung menjadi dosen, peraih beasiswa Thailand’s Educations Hub for Southern Region of ASEAN Countries (TEH-AC) untuk kuliah Master of Nursing di Prince of Songkla University Thailand, dan penulis 7 buku keperawatan, 2 buku motivasi, dan 1 novel. Untuk penghargaan yang pernah diterima, menjadi tokoh inspirasi Jawa Post (Radar Jember tahun 2013).
Master di Keperawatan ini membocorkan projectnya dalam waktu dekat ini dan impiannya. “Untuk project, menyelesaikan dua novel yang belum terselesaikan. Untuk impian, ingin membuat penerbit pribadi yang menerbitkan buku-buku karya saya sendiri dan ingin membuat yayasan untuk menanggulangi anak dengan gagap berbicara di Indonesia sehingga mereka berani berbicara dan menggapai cita-cita,” pungkasnya.
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
