HarianBernas.com – Ivandeva Wing menyebut bahwa apapun yang dilakukan, berupaya untuk memberikan energi bagi yang lain bahwa mereka bisa menjadi diri sejati. Upaya ini bisa terlihat dalam berbagai bentuk, misalnya membuat mobile apps untuk membangun dan memberikan kesinambungan budaya yang menghasilkan unjuk kerja seperti yang dikerjakannya dengan PT Indonesia untuk dunia.
?Bentuk lain adalah memberikan sesi tentang Amati, Alami, dan Asah ? suatu pola untuk ?Senantiasa Berada? dalam kondisi apapun ke berbagai institusi dengan PT Indonesia Lebih Baik. Saya juga bersyukur mendapatkan kesempatan untuk secara rutin berbagi pengalaman kepada calon pengajar muda di lembaga swasta pemberi beasiswa terbesar di Indonesia, yaitu Yayasan Karya Salemba Empat) dan para guru SMP dalam konteks pendidikan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) melalui Yayasan G83 ITB,? ungkapnya ke Bernas (19/4).
Ketika ditanya tentang pengalaman unik yang menjadi titik baliknya, ia menjawab bahwa tanpa bermaksud mengada-ada, setiap pengalaman adalah unik. Setiap momen bersifat khusus dan tidak bisa kembali lagi. Setiap pengalaman adalah pesan. Baginya, itu sebenarnya inti dari Amati, Alami, dan Asah-konsep yang coba dipelajari dan bagikan kepada siapapun yang berminat. Karenanya setiap titik kehidupan adalah titik balik: kembali kepadaNya. Untuk pengalaman unik di pekerjaan, ia menyebut semua pengalaman sebenarnya berkah bagi yang bersengaja membaca dan bagi yang menghadirkan dirinya untuk mengamati dan mengalami.
Alasan terus menekuni bidang pekerjaannya saat ini, ia memiliki penjelasannya tersendiri.?Apa yang saya coba bagikan merupakan refleksi dari apa yang saya lakukan selama perjalanan hidup saya. Kehidupan saya penuh ketidakpastian, penuh perubahan, perlu kejernihan, perlu ketentraman. Saya tidak merasa pola itu adalah pola yang khusus, dan dialami oleh banyak orang, walaupun saya percaya bahwa setiap orang itu unik. Amati, Alami, dan Asah merupakan pilar untuk memudahkan saya Senantiasa Berada ? kondisi di mana kita menyadari ? dan mensyukuri – keberadaan kita, empati terhadap sekitar kita sehingga kita perlu senantiasa berupaya tanpa mengharuskan, bercita-cita tanpa memastikan, dan tentunya berbahagia tanpa alasan. Mudah diucapkan namun senantiasa bisa didekati ketika sering diasah,? urainya.
Di sisi lain, baginya, semuanya diawali dan dalami dengan menemani napas. Secara alami – dengan izin Alam – kita bernapas sejak kita dilahirkan. Napas menemani kita dalam perjalanan kembali kita. Menghirup dan menghembuskan napas, sejatinya adalah mengambil kebaikan kehidupan dan mengembalikan kebaikan bagi kehidupan. Memang, semuanya baik.
Bernapas merupakan bukti keseharian bahwa kita tak terpisahkan dari yang lain-dan kita tidak lebih baik maupun lebih buruk dari yang lain. Udara yang kita hirup berasal dari udara yang dihembuskan yang lain – apapun itu: manusia yang lain, binatang yang yang lain, dedaunan yang lain, dan lain sebagainya.
Ketakterpisahkan ini bukan saja dari isi bumi, namun juga dari seluruh isi semesta, peran sinar matahari sebagai misal. Ditilik lebih jauh lagi, matahari bisa ada karena adanya proses penciptaan Semesta. Dengan perspektif ini, bernapas juga merupakan saksi bahwa kita bagian dari evolusi semesta itu sendiri. Leluhur kita menurunkannya kepada kita dan Semesta menyiapkannya secara bersama bagi kita.
Bernapas juga menunjukkan ketimbalbalikan. Kita tak bisa hanya menghirup, tapi juga perlu menghembuskan. Kita tak bisa hanya menolong, tapi kita perlu ditolong. Kita tak bisa hanya berbicara, tapi kita perlu mendengar. Kita menerima, karenanya kita berbagi. Kita belajar, karenanya kita mengajar. Itulah segelintir makna dari ketimbalbalikan dari bernapas.
Bernapas juga menghubungkan jiwa yang berada di dalam tubuh kita, jasad yang melekat bersama kita, dan juga pikiran yang ada dengan kita. Dengan bernapas, kita merasakan perubahan pada tubuh: naik turunnya bahu, kembang kempisnya perut dan dada, dan lain sebagainya. Dengan napas yang sama, kita spun merasakan adanya kehidupan dalam diri (jiwa). Dan dengan napas yang sama, kita bisa berpikir. Napas menghubungkan ketiganya.
Napas adalah sahabat bagi emosi-emosi kita. Ketika kita akan marah, misalnya, kita ?menahan amarah? itu dengan menghela napas. Kita diingatkan untuk memilih dengan sadar bagaimana kita akan mengekpresikan amarah tersebut. Napas juga akrab dengan emosi-emosi yang lain, bahagia, cemas, dan lain sebagainya. Emosi-emosi tersebut dikelola melalui napas kita. Karenanya, napas janganlah disepelekan. Terlalu banyak makna dan kebaikan yang tersimpan bersamanya. Untuk itu, kita perlu berlatih menemani dan memperhatikan napas.
Alumni Australia Graduate School of Management, UNSW, Australia ini membangun habit khusus untuk mendukung pekerjaannya dengan mencoba untuk rutin duduk hening setiap hari, menemani napas. Belajar untuk senantiasa mengamati apapun yang dialami tanpa perlu larut ke dalamnya. Semuanya sengaja dihadirkan bagi mereka yang bersengaja hadir. Untuk mengembalikan mood agar kembali bersemangat bekerja, ia menjawab bahwa bersemangat itu pilihan, bukan reaksi. ?Saya terus belajar agar bisa bersyukur tanpa alasan, berbahagia tanpa sebab. Karenanya setiap detiknya adalah pintu semangat kita,? imbuhnya.
Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ini membeberkan tentang pencapaian yang paling membanggakan baginya. ?Setiap detak kita adalah pencapaian. Setiap napas kita adalah pencapaian. Dan setiap pencapaian adalah anugerahNya. Pencapaian itu hidayah, dan yang berhak menilai adalah yang menganugerahkan ruang dan waktu untuk setiap pencapaian,? katanya.
Coach ini pun membagikan inspirasinya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. ?Saya rasa setiap orang akan terinspirasi oleh kisah hidupnya sendiri kalau ia bersengaja untuk membaca hidupnya. Bacalah setiap hari, setiap momen, karena banyak pesan di sana, banyak ilmu di sana. Baca dengan hati yang bersih. Setiap langkah kita adalah skenario yang kita pilih. Kumpulan skenario itu membentuk cerita. Cerita kita adalah apa yang kita tinggalkan. Untuk saran, saya rasa sukses itu pilihan. Tapi salah satu ciri yang ada dalam setiap kesuksesan adalah tentram. Dan salah satu cara untuk tentram adalah dengan mendekatkan diri kepada Diri. Karenanya, kenali diri agar kita dekat dengan Diri. Amati semuanya, Alami yang dianugerahkan, lalu Asah agar hikmah yang diterima bisa didalami dan disebarkan. Awali semuanya dengan menemani napas,? pungkasnya.
