HarianBernas.com – Dalam rentang perjalanannya, Stefanus Honorus memilih sebuah keputusan yang begitu berani, tapi justru menjadi titik balik kehidupannya sehingga bisa menjadi seperti seperti sekarang ini. ?Pengalaman saat saya memutuskan pecah kongsi dengan partner bisnis saya. Saat itu, saya sudah berkeluarga dan bersama istri sedang menantikan kelahiran anak kami. Tabungan pas-pasan, tidak ada pemasukan, tidak ada pekerjaan, belum ada project training. Keadaan memang cukup sulit tetapi dalam keadaan yang serba sulit itu pertolongan Tuhan datang tepat pada waktunya, saya dikontak oleh salah satu peserta training yang saat saya training beberapa tahun sebelumnya, masih di level staff biasa, namun saat itu sudah mempunyai posisi dan beliau ingat saya,? ungkapnya ke Harian Bernas (7/4).
Menurut lanjut cerita Stefanus, beliau yang dulu pernah menjadi peserta trainning ini sampai mencari-cari sampai ke sosmed untuk mendapat kontaknya. ?Singkat cerita, beliau meminta saya untuk bisa membantu memberikan training di perusahaannya. Puji Tuhan lebih dari 4 tahun kontrak project berjalan, bahkan sampai saat ini juga masih jalan beberapa project khusus,? tuturnya.
Trainer ini pun berbagi pengalaman menariknya di bidang pekerjaannya sebagai pengajar profesional (profesional trainer). ?Pengalaman paling unik adalah ketika masuk kelas dan mulai mengajar, lalu kemudian diinterupsi karena materi yang saya bawakan berbeda dengan yang diminta klien. Saya alami saat masih menjadi trainer untuk salah satu lembaga training yang tinggal ?nyanyi?, dan urusan jualan sampai deal dengan klien diserahkan ke staff marketingnya. Asli kaget dan sempat shock, tapi show must go on. Saya minta waktu beberapa menit untuk menggali ulang kebutuhan, menyiapkan materi baru, dan modul baru dibagikan esok harinya. Pengalaman ini berharga sekali buat saya, terutama saat kemudian saya memiliki perusahaan sendiri. Menggali kebutuhan secara tepat dari klien menjadi fase mendasar yang paling menentukan keberhasilan sebuah program,? urainya panjang.
Penyuka hobi mendengarkan audiobook ini pun menerangkan tentang alasan terus menekuni bidang pekerjaan yang digelutinya sampai sekarang ini.?Karena saya suka mengajar. Mengajar adalah panggilan hati saya. Saat mampu menjadi terang bagi kebuntuan yang dialami seseorang, sebenarnya pada saat yang sama, saya menjadi dimampukan untuk mengenali keterbatasan diri sendiri dan memanggil saya untuk belajar lagi dan lagi dan lagi. Menjadi suatu kepuasan bagi saya dan tim saat klien menyatakan terbantu dengan program yang kami berikan. Sungguh suatu kebanggaan tersendiri saat beberapa tahun kemudian bertemu kembali dengan para trainee di program lain untuk level jabatan yang lebih tinggi, atau saat berjumpa dengan mantan klien yang masih mengingat kita dan menceritakan kesuksesan mereka,? bebernya.
Alumni Kwik Kian Gie School of Business ini memaparkan permasalahan yang paling sering dihadapi dalam bidang pekerjaan yang ditekuninya.?Permasalahan yang paling sering saya hadapi saat ini adalah membagi waktu dan perhatian yang seimbang antara mengajar di klien atau kampus, mengatur usaha dan coaching pengajar-pengajar baru. Saya berusaha juga seimbang untuk juga bisa memiliki waktu bersama keluarga, terutama untuk memperhatikan tumbuh kembang anak-anak. Untuk menyikapinya, saya bersyukur diberkati dengan rekan-rekan trainer, tim yang solid, dan klien-klien yang dapat bekerjasama dengan baik. Saya belajar bahwa kadang dengan jujur dan terbuka apa adanya dengan klien, kadang kita justru dibantu dan mendapat solusi yang win-win dalam berbagai situasi. Selain itu, kita harus berani mendelegasikan pekerjaan kepada tim, tentu dengan tetap memonitor dan melakukan evaluasi,? paparnya.
Master Trainer bersertifikasi dari BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) ini menjelaskan tentang tantangan ke depan yang akan dihadapi dalam bidang profesinya.?Tantangan ke depan, beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi dan kemampuan bekerjasama dengan generasi milineal. Hal yang penting dilakukan adalah bersikap terbuka dan memiliki kemauan untuk terus-menerus belajar. Kadang kita harus mau rendah hati untuk belajar dari generasi milenial, dan mau belajar bersama mereka, bergaul dengan mereka supaya tidak jadi ?makhluk? purbakala. Contoh yang paling dekat saya alami beberapa tahun yang lalu saat saya pertama kalinya membeli ipad. Saat itu, anak pertama saya berusia sekitar 3 atau 4 tahun. Biasanya, kalau mau membuka channel anak-anak di youtube, anak saya selalu minta tolong diketikkan di search. Suatu ketika saya baru sadar koq dia gak minta tolong lagi ya? Saya tanya, anak saya yang masih balita langsung menjawab dengan demonstrasi, dia mendekatkan mulutnya ke Ipad dan langsung mengucapkan keywords yang dia mau. Wow, saya pun baru tahu di Youtube ada fasilitas itu. Anak ini belajar dari eksplorasinya sendiri. Dari situ saya makin sadar, generasi yang dihadapi sudah berbeda, pilihannya adaptasi atau punah,? urainya panjang.
Sarjana Psikologi ini juga meyakini bahwa bidang yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat.?Sumber daya terbesar sebuah bangsa adalah manusianya. Saya amati, banyak permasalahan sosial yang terjadi di Indonesia, asal-muasalnya adalah kurangnya pengetahuan dan pemahaman yang benar terkait berbagai hal. Guru terbaik seorang anak sebenarnya adalah orang tua mereka, namun kalau kita mau jujur banyak orang tua yang sudah cukup sibuk bekerja sehingga waktu bersama anak-anak mereka sampai besar pun terbatas. Nah satu-satunya waktu terbanyak anak/pribadi itu kadang kala justru saat bertemu/berinteraksi dengan guru atau rekan kerjanya. Jika guru, rekan kerja, atasan, senior yang mereka temui juga ?sama sibuknya? seperti orang tua mereka apa jadinya? Tidak heran mereka tumbuh dengan kekosongan makna dalam belajar/bekerja. Mereka butuh pendamping, pembimbing, pengajar, coach, trainer, mentor, senior, teman yang bisa membawa mereka pada level kompetensi (knowledge-skill-acttitude-behavior) yang terbaik. Pada tataran inilah peranan Pengajar Profesional memegang peranan yang penting menurut saya,? terangnya.
Pengagum sosok Papa (alm) Mr.Ho ini membagikan inspirasinya kepada yang membaca kisahnya ini.?Hidup itu sebuah proses perjalanan yang perlu dihadapi. Perjalanan itu terkadang lancar, kadang akan licin dan berbatu (bisa menjatuhkan kita), tidak jarang ada penghalang disana. Tugas kita hanya minta petunjuk (berdoa) dan percaya pada Grand Design yang Tuhan telah tetapkan dalam hidup kita. Kita menghadapi, berjumpa dengan siapapun, mengalami pahit getir manis indahnya hidup ini semua terjadi karena ada yang mengijinkannya bisa terjadi. Jadi siapapun Anda, percayakan hidup Anda pada Sang Empunya Hidup, jangan sekali-sekali mengandalkan kekuatan sendiri, jabatan, koneksimu. Percaya pada waktunya Tuhan karena Dia selalu punya recana terbaik dalam hidup kita,? katanya.
Master di Management ini membocorkan tentang projectnya dalam waktu dekat dan impiannya. ?Untuk project, mengembangkan tim dan regenerasi trainer-trainer muda. Dengan melipatgandakan kemampuan yang kita miliki, saya percaya apa yang kita usahakan akan bisa makin berkembang. Untuk impian, backpaker-an sekeluarga keliling dunia,? pungkasnya.
