HarianBernas.com – Masih segar dalam ingatan kita kalau Claudio Ranieri dipecat dari jabatannya sebagai manajer Leicester City pada bulan Februari lalu. Padahal kurang dari setahun sebelumnya, manajer asal Italia tersebut berjasa membawa Leicester meraih gelar juara Liga Primer Inggris pertama sepanjang sejarahnya.
Beragam spekulasi pun merebak mengenai penyebab anjloknya performa Leicester yang berujung pada dipecatnya Ranieri. Para netizen dan pengamat sampai menyematkan julukan ?ular? kepada pemain-pemain Leicester karena mereka dicurigai sengaja bermain jelek dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh manajernya supaya Ranieri lekas dipecat.
Sesudah sekian lama bungkam, Ranieri akhirnya angkat bicara. Dalam acara Sky?s Monday Night Football, pelatih tersebut menjelaskan situasi yang tengah terjadi di Leicester menjelang pemecatan dirinya. Ia membantah tudingan kalau para pemain sengaja bermain buruk supaya dirinya dipecat.
?Saya tidak percaya kalau pemain sengaja tidak memberikan kemampuan maksimumnya, karena ada permasalahan lainnya. Setahun sebelumnya, mereka mendapat sedikit lebih rendah dan sesudahnya, mereka mendapat tambahan (pemasukan ? red.) dua hingga tiga kali lipat… Saya tidak percaya pemain membunuh saya,? papar Ranieri.
Kendati tetap bersikap positif kepada para pemainnya, Ranieri tidak menampik dugaan kalau ada seseorang di dalam klub yang menginginkan dirinya segera dipecat. ?Saya mendengar banyak cerita soal ini. Mungkin orang itu adalah orang di belakang saya,? paparnya. Namun Ranieri enggan menyebut siapa nama orang tersebut.
Ranieri dalam acara bincang-bincang tersebut juga mengekpresikan kegembiraannya atas membaiknya performa Leicester di bawah manajer pengganti Craig Shakespeare. ?Saya merasa sangat gembira dapat melihat para pemain bermain di dalam sistem dan dalam segala hal yang sudah pernah saya ajarkan… Shakespare sangatlah cerdas untuk terus mengikuti metode tersebut.?
