HarianBernas.com – Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah nasib yang harus dialami oleh para imigran asal Afrika Barat yang sedang berada di Libya. Menurut laporan kesaksian yang dikumpulkan lembaga IOM yang menangani masalah pengungsi, para imigran Afrika Barat menjadi korban perbudakan dan perdagangan manusia di Libya.
Libya merupakan negara tujuan favorit para pengungsi dan imigran asal negara-negara Afrika yang ingin menyeberang ke Eropa. Dekatnya lokasi Libya dengan Benua Eropa dan kacaunya kondisi domestik Libya usai tumbangnya Muammar Qaddafi di tahun 2011 menjadi penyebab mengapa negara Afrika Utara tersebut banyak dikunjungi.
Menurut kesaksian salah seorang imigran asal Senegal, ia awalnya berhasil sampai di Libya selatan menggunakan bus yang disediakan oleh penyelundup manusia. Sang imigran dan rekan-rekannya sebenarnya sudah membayar kepada sang penyelundup supaya dibawa ke pantai utara Libya. Namun mereka justru kemudian malah dibawa ke pasar budak dengan alasan uang yang mereka bayar dibawa lari oleh sang perantara.
Sesudah terjual di pasar budak, imigran asal Senegal tadi kemudian dibawa ke semacam kompleks penjara. Di sana, ia dipaksa bekerja tanpa bayaran. Pemilik kompleks penjara juga mengabari keluarga sang imigran di Senegal secara berkala supaya mereka bersedia membayar uang tebusan untuk membebaskan dirinya.
Ia juga sempat dipindahkan ke kompleks penjara lain di mana pengelola di kompleks penjara tersebut meminta uang tebusan yang lebih besar. Setelah para anggota keluarganya meminjam uang ke mana-mana, imigran berusia 34 tahun tersebut akhirnya bisa kembali menghirup udara bebas.
IOM selama tiga bulan terakhir tengah mengurus pemulangan kembali para imigran yang berjumlah 1.500 orang. Sebagai perbandingan, jumlah tersebut sama dengan jumlah imigran yang dipulangkan kembali di sepanjang tahun 2015. IOM berharap kepulangan para imigran tersebut bisa membuat orang-orang di negara asal sang imigran mengurungkan niatnya untuk mengungsi melalui Libya.
